Stop Kehamilan dengan Gandarusa

Filed in Obat tradisional by on 01/12/2009 0 Comments

Khasiat daun gandarusa sebagai alat kontrasepsi dibuktikan oleh Dr Bambang Prajogo dan Arif Busthoni, periset di Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Mereka menguji aktivitas penetrasi sperma terhadap sel telur pada 4 kelompok mencit. Metode yang digunakan adalah fertilisasi invitro atau pembuahan dalam tabung. Sebelum dilakukan fertilisasi, setiap kelompok mencit diberi ekstrak daun gandarusa-daun anggota famili Acanthaceae itu diekstrak menggunakan etanol-dengan dosis berturut-turut 26, 06, 18,39, 3,47, dan 3,13 mg per 20 g bobot tubuh.

Pemberian ekstrak daun gandarusa berlangsung selama 1,5 kali siklus spermatogenesis-proses produksi sperma-atau sekitar 53 hari. Setelah itu baru sel sperma diinkubasi dengan sel telur. Lima jam setelah inkubasi, Arif lalu mengamati aktivitas penetrasi sel sperma terhadap sel telur. Hasilnya, tak satu pun sel sperma kelompok mencit yang diberi ekstrak daun gandarusa mampu menembus dinding sel telur. Itu artinya, pemberian gandarusa menghambat terjadinya pembuahan.

Hyaluronidase

Menurut Bambang Prajogo gandarusa dapat mencegah pembuahan karena mampu melemahkan aktivitas penetrasi sperma. ‘Gandarusa mengandung senyawa aktif gendarusin A yang mampu menghambat sekresi enzim hyaluronidase pada sel sperma. Enzim itu diperlukan oleh sperma untuk menembus dinding sel telur sehingga pembuahan bisa terjadi,’ kata doktor farmasi alumnus Universitas Airlangga itu.

Sel telur memiliki 3 lapis dinding sel; lapisan komulus ooforus, korona radiata, dan zona pelusida. Untuk menembus dinding berlapis itu sel sperma mensekresi tiga macam enzim, yaitu hyaluronidase untuk menembus komulus ooforus; corona penetration enzim (CPE), korona radiata; dan akrosim, zona elusida. Ketiganya bekerja secara berurutan. Artinya, bila hyaluronidase mampu menembus lapisan komulus ooforus, maka enzim berikutnya baru bisa disekresi. Demikian pula sebaliknya, bila hyaluronidase gagal, dua enzim lainnya pun tak bisa bekerja menembus lapisan dinding sel telur berikutnya.

Bambang menyebutkan pem-berian ekstrak daun gandarusa pada kelinci dengan dosis 580 mg per kg bobot tubuh menghasilkan aktivitas enzim hyaluronidase sebesar 0,185 x 10-7 unit/mg. Aktivitas itu lebih kecil ketimbang kelinci yang tidak diberi ekstrak gandarusa, 1,430 x 10-7 unit/mg. Ini membuktikan bahwa ekstrak daun gandarusa memang ampuh menekan kerja enzim hyaluronidase.

Uji klinis

Untuk membuktikan keampuhan gandarusa, pada 2008 dilakukan uji klinis tahap I pada 36 pria dewasa berusia 20-40 tahun. Uji berlangsung selama 108 hari. Tujuannya untuk melihat efek penggunaan kapsul ekstrak daun gandarusa terhadap kesehatan. Hasilnya, konsumsi kapsul gandarusa aman bagi organ tubuh seperti hati, ginjal, dan kimia darah. Selain itu gandarusa juga tidak menurunkan motilitas, viabilitas, konsentrasi, dan bentuk normal spermatozoa.

Pada 2009 gandarusa memasuki uji klinis tahap II yang melibatkan 120 pria dewasa. Uji kali ini bertujuan untuk melihat khasiat gandarusa sebagai obat antifertilitas. Menurut Bambang sampai sekarang penelitian belum tuntas. Namun ia menyebutkan 75% peserta yang ikut dalam uji klinis memperlihatkan hasil positif, tidak terjadi pembuahan selama mengkonsumsi kapsul gandarusa. Namun, bila konsumsi ekstrak gandarusa dihentikan dalam 1,5 kali siklus spermatogenesis, maka sperma akan kembali subur dan mampu membuahi telur. ‘Gandarusa berefek reversible, tidak menyebabkan kemandulan permanen, setelah pemakaian dihentikan sel sperma normal kembali,’ ujar Bambang.

Efek sampingnya hanya meningkatkan nafsu makan dan gairah seksual. Selain itu juga menyebabkan mual dan muntah bila dikonsumsi langsung dalam bentuk rebusan atau lalap. Lebih aman konsumsi ekstrak gandarusa yang sudah berbentuk kapsul. Uji toksisitas yang dilakukan pada mencit menunjukkan kadar LD50–konsentrasi yang menyebabkan kematian separuh hewan uji–ekstrak daun gandarusa sebesar 17,8 g per kg bobot tubuh. Dosis itu tergolong tidak toksik. Menurut Wahyu Suprapto, herbalis di Malang, Jawa Timur gandarusa saat ini memang tengah dikembangkan sebagai pil KB.

Program KB

Dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia, K Heyne menyebutkan daun gandarusa sering digunakan untuk menghilangkan sakit kepala, demam, dan pelancar datang bulan. Penggunaannya juga tidak tunggal, tapi diramu dengan bahan lain seperi cuka, merica putih, dan kapur sirih. Artinya sejak dulu sebenarnya gandarusa telah dimanfaatkan sebagai herbal.

Dengan ditemukannya gandarusa sebagai herbal antifertilitas membuka peluang bagi kaum pria untuk lebih banyak berpartisipasi menyukseskan program keluarga berencana. Selama ini program KB kebanyakan ditujukan untuk kaum wanita. Masih sedikit yang dicanangkan khusus bagi pria. Maklum pilihan alat kontrasepsi pria yang hanya terbatas pada kondom, vasektomi, dan suntik hormon belum sepenuhnya diterima masyarakat karena ada efek samping. Vasektomi misalnya, membuat pria menjadi mandul permanen. Tingkat keberhasilan kondom pun belum 100% mampu mencegah kehamilan.

Hadirnya gandarusa sebagai herbal antifertilitas semakin memperbanyak pilihan untuk melakukan kontrasepsi. Bila program KB sukses, maka Indonesia bisa terbebas dari ancaman ledakan jumlah penduduk. Saat ini jumlah penduduk Indonesia mencapai 230-juta jiwa dengan laju pertumbuhan sekitar 1,3% per tahun. Bila dibiarkan, ledakan jumlah penduduk akan mengancaman ketahanan pangan, kesehatan, dan memperbesar tingkat pengangguran. (Ari Chaidir)

Foto-foto: Ari Chaidir, Ilustrasi: Bahrudin

na elusida

a radiata

mulus ooforus

Sel sperma

Sel sperma melakukan penetrasi pada sel telur untuk melangsungkan pembuahan. Pemberian gandarusa melemahkan aktivitas penetrasi itu. Akibatnya sperma tidak mampu menembus dinding sel telur dan pembuahan pun gagal

Dr Bambang Prajogo, membuktikan gandarusa berkhasiat sebagai antifertilitas

< Daun gandarusa mengandung gandarusin A yang bersifat antifertilitas

Powered by WishList Member - Membership Software