Siapa Takut Tanam Tomat

Filed in Fokus by on 31/12/2010 0 Comments

Dengan perawatan tepat, tomat tetap tumbuh bagus meski banyak penyakit mengancam di musim hujanTomat dimusim hujan tetap produktif, hasil panen mencapai 2 kg/tanamanMusim hujan memang momok bagi banyak pekebun tomat. Beragam penyakit yang merusak tanaman bermunculan saat itu. Tak heran bila pekebun sering merugi ketika membudidayakan tomat di musim hujan. ‘Curah hujan tinggi membuat buah banyak yang busuk. Kerusakan hasil panen mencapai 60%,’ ungkap Sumarjan, pekebun di Banyumas, Jawa Tengah.

Namun, Ukus berbeda. Pekebun di Cibodas, Lembang, Jawa Barat, itu justru memilih menanam tomat ketika musim hujan datang. ‘Dengan perawatan tepat, hasil panen tomat bisa jauh lebih bagus ketimbang komoditas lain, kentang misalnya. Biaya produksi kentang dan tomat relatif sama sekitar Rp40-juta – Rp45-juta per hektar, tetapi hasil panen tomat lebih tinggi dibanding kentang,’ tutur Ukus.

Ukus membudidayakan tomat di lahan satu hektar dengan populasi 20.000 tanaman. Saat panen, rata-rata ia menuai 2 kg buah per pohon. Itu artinya hasil panen Ukus mencapai 40 ton per ha. Dengan harga jual tomat Rp5.000 per kilo, Ukus mengantongi Rp200-juta. Hasil itu jauh lebih menjulang dibanding kentang. ‘Panen kentang paling 15 – 20 ton/ha. Dengan harga jual Rp5.000 per kilo, omzet yang diperoleh hanya separuh dari tomat,’ ujar Ukus.

Pupuk hayati

Menurut Sumarjan panen tomat yang diperoleh Ukus tergolong bagus. Hasil 2 kg buah per pohon itu jauh lebih banyak ketimbang pekebun lain. ‘Jangankan 2 kg per pohon, dapat sekilo saja sudah beruntung,’ kata Sumarjan.

Ukus menanam tomat di bedengan selebar 110 – 120 cm dan tinggi 50 – 60 cm. Sebelum dibuat bedengan, Ukus terlebih dahulu mengolah tanah dengan mencampurkan 30 ton pupuk kandang dan 1,2 ton pupuk NPK per ha. Ia mengaduk tanah sehingga tercampur merata dengan pupuk. Setelah itu baru dibuat bedengan.

Menurut Ir Achmad Santosa dari PT Kalatam, produsen pupuk di Jakarta, perpaduan pupuk organik dan anorganik memang perlu dilakukan agar tanaman tumbuh bagus dan berproduksi tinggi. ‘Pupuk organik berperan membuat tanah menjadi gembur. Sedangkan pupuk anorganik menyuplai nutrisi instan untuk menggenjot produksi,’ kata Achmad.

Ukus lantas menutupi bedengan dengan mulsa untuk menekan pertumbuhan gulma. Ia membuat lubang tanam berjarak 60 cm x 80 cm di atas bedeng. Di lubang itulah benih tomat ditanam. Ukus juga menyemprotkan pupuk hayati agar pertumbuhan tanaman semakin bagus. Ia melarutkan 30 cc pupuk hayati ke dalam 20 liter air. Larutan itu disemprotkan saat tanaman berumur 20 hari. Penyemprotan diulangi kembali ketika tanaman berumur 40 dan 60 hari.

Menurut Dra Selly Salma MSi, mikrobiolog dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetika Pertanian (BB Biogen), mikroorganisme dalam pupuk hayati berperan menyediakan sumber nutrisi. Contohnya Azospirillum sp dan Azotobacter sp, yang mampu menambat nitrogen. Di udara terdapat 74% nitrogen yang baru dapat diserap tanaman bila ada bantuan mikrob.

Itu juga berlaku pada fosfor yang berlimpah dalam tanah. Tanaman bisa memanfaatkan fosfor setelah mikrob pelarut fosfat seperti Penicillium sp dan Bacillus megatherium melepaskan ikatan fosfor dari beragam mineral yang ada di tanah. Kegunaan lain, pupuk hayati membantu merangsang perkembangan sistem perakaran dan memperpanjang umur akar. Dengan begitu pertumbuhan tanaman jadi optimal sehingga produktivitas pun meningkat.

Zeolit

Menurut Dr Etty Pratiwi dari BB Biogen, pupuk hayati juga berguna sebagai benteng untuk menahan serangan penyakit yang kerap muncul di musim hujan. Ia mengilustrasikan mikrob ibarat antioksidan yang memperkuat sistem kekebalan tubuh pada manusia.

Tak hanya pupuk hayati, Ukus juga mengaplikasikan zeolit supaya tomat tumbuh lebih subur. Ia menaburkan 3 sendok makan zeolit ke setiap pangkal tanaman. Zeolit berperan meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam tanah dan menjaga keseimbangan pH tanah. Ia juga mampu mengikat logam berat yang bersifat racun bagi tanaman seperti timbal dan kadmium.

Kemampuan zeolit menyerap racun sangat penting. Sebab air hujan dapat membantu perpindahan timbal dari satu tempat ke tempat lain. Akibatnya, risiko tanaman teracuni logam berat sangat tinggi di musim hujan. Terutama bagi tanaman yang tumbuh di pinggir jalan. Menurut Sumali, peneliti dari Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, sebetulnya air hujan mengandung timbal sebesar 0,01 ppm. Namun, jumlah itu masih di bawah ambang batas toleransi, 1 ppm.

Dengan teknik budidaya yang tepat, Ukus menuai panen berlimpah. Pilihannya meninggalkan kentang demi meraup untung besar dari budidaya tomat pun tak keliru. (Ari Chaidir/Peliput: Faiz Yajri)

Powered by WishList Member - Membership Software