Seri Walet (217): Suara Tiruan Pikat Walet

Filed in Satwa by on 08/04/2015
Pemilihan jenis suara antarruangan perlu diperhatikan agar walet mau tinggal

Pemilihan jenis suara antarruangan perlu diperhatikan agar walet mau tinggal

Iklim mikro dalam rumah walet dan penataan tweeter kunci sukses menggaet walet masuk rumah.

Selama 12 tahun rumah walet di Gadingrejo, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, itu menganggur. Cericit walet tidak pernah terdengar dari dalam bangunan berlantai empat berukuran 8 m x 20 m itu. Habis sudah kesabaran, pemilik bangunan walet di Lampung yang namanya enggan disebut itu sehingga menjual dengan harga murah, Rp155-juta.

Kasus serupa terjadi di Kalimantan Tengah. Sebuah rumah walet berlantai tiga, selama 10 tahun kosong tak berpenghuni. Pemilik rumah berukuran 5 m x 15 m itu akhirnya menjual Rp175-juta. Kebanyakan rumah walet tak berpenghuni selama 10 tahun atau kurang, akan dijual pemiliknya. Bahkan puluhan tahun walet tidak menghampiri sebuah rumah walet di Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Persaingan keras di bisnis walet membuat peternak harus atur strategi agar waletnya bertahan dan tambah banyak

Persaingan keras di bisnis walet membuat peternak harus atur strategi agar waletnya bertahan dan tambah banyak

Modifikasi ruangan
Pada kasus rumah walet di Bogor, lingkungannya cocok untuk perkembangan si liur emas itu. Di sekitarnya banyak kebun buah yang menyediakan sumber pakan. Namun, lain yang ditanam, lain yang dipanen. Walet tak kunjung datang, malah kelelawar yang bersarang. “Bila bertahan menernakkan, biaya akan keluar terus tanpa kepastian berhasil,” ujar Jozia Lazuardi, praktikus walet di Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Karena belum pasti berhasil, banyak peternak walet yang melepas bangunannya dengan harga rendah. Hendri Mulia, praktikus walet di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten akhirnya membeli kedua rumah walet di Lampung dan Kalimantan Selatan itu.

Hendri Mulia kemudian memodifikasi beberapa bagian rumah tua itu agar walet betah untuk tinggal. Ia membuat lingkungan mikro di dalam rumah sesuai kesukaan walet. Suhu pada kisaran 26—280C dengan kelembapan 85—90%. Caranya, dengan menambah ventilasi dan membuat kolam di dalam bangunan. Josia Lazuardi menyarankan hal serupa kepada pemilik rumah walet di Bogor. Menurut Josia pemilik rumah sebaiknya mengubah kondisi gelap menjadi sedikit lebih terang.

Ruangan sangat gelap lantaran banyak kamar dengan pintu masuk kecil. Ia pun menyarankan agar pemilik memotong atau menghilangkan sebagian sekat di rumah itu sehingga cahaya dapat masuk. Lingkungan mikro berupa kelembapan dan suhu disesuaikan dengan keinginan burung.

Gaet walet muda
Setelah itu Hendri menata ulang penempatan tweeter, mulai dari tweeter luar dan dalam. Penulis 2 buku walet itu lalu memasang penggoda suara di luar gedung, area untuk berputar-putar, pulling room, hingga di ruang bersarang. Ia memasang tweeter hampir di seluruh bagian rumah untuk menggoda walet agar betah tinggal. Bahkan, Josia memasang 150 tweeter di rumah waletnya. Demikinan pula dengan rumah walet di Bogor.

Bazoka untuk menggaet walet remaja

Bazoka untuk menggaet walet remaja

Pembenahan tata letak tweeter sangat penting untuk memanggil Collocalia fuciphaga. Tanpa penataan yang benar, walet hanya sekadar datang berputar-putar, tanpa mau tinggal bersarang. Contoh pemasangan tweeter bazoka yang keliru menyebabkan burung hanya datang bermain-main di sekitar rumah walet, kemudian pergi lagi. Bazoka biasanya ditujukan untuk menggaet walet remaja.

“Walet dewasa sulit dipengaruhi sebab bertanggung jawab pada sarang atau piyiknya,” ujar pria yang menggeluti walet sejak 1998 itu. Suara cuitan tweeter bazoka menggoda walet muda dalam perjalanan pulang mencari pakan. Walet mampu mendengar cuitan penggoda itu hingga jarak 500—1.000 m. Idealnya pemilik memasang bazoka di rumah walet yang agak terpencil atau jauh dari rumah walet lain.

Namun, bila berada di sentra walet dan rumah terlindung oleh bangunan lain yang lebih tinggi, maka bazoka ditempatkan dengan posisi miring. Tujuannya agar suaranya dapat melewati bangunan tinggi dan terdengar oleh walet di tempat jauh. Alat penggoda itu diarahkan ke lintasan pulang walet yang mencari pakan.

Saling gaet
Bila peternak memasang beberapa bazooka, letakkan ke segala arah, termasuk ke rumah walet yang sudah berproduksi. Di daerah sentra, lumrah memasang tweeter untuk saling menggaet burung berliur mahal itu. Pemilik bangunan yang harus mengatur strategi agar waletnya tidak berpindah ke rumah lain di antaranya dengan memasang bazoka 1 meter dari jendela masuk, baik di atas maupun di samping.

Dengan demikian, walet yang beterbangan dekat bazoka mudah mendengar suara dari dalam bangunan. Bila tidak dirangsang dengan suara dari dalam rumah walet, kemungkinan mereka akan balik ke rumah mereka. Menurut Hendri, suara yang diperdengarkan adalah external pooling sound. Dara walet akan tergoda mendengar suara itu dan datang mendekat dan berputar-putar di sekitar jalan masuk.

Di sinilah pentingnya memasang suara dari tweeter external caller yang ada di lubang masuk. Walet yang berputar-putar di jalan masuk, akan tergoda masuk setelah mendengar cuitan dari roving room. Mereka pun akan berputar-putar di area itu. Usahakan walet di area berputar masuk pula ke area pulling room dengan menarik menggunakan internal pulling sound.

Pulling room merupakan peralihan dari roving room dengan nesting room. Dari area kecil ini, walet ditarik untuk memasuki ruang bersarang. Suara yang dipakai sama dengan suara di internal sound. Namun, bila menggunakan suara berbeda, bisa memilih suara echolocation atau suara walet birahi (internal sound).

545_ 41Suara pelan
Untuk merangsang walet masuk ke ruangan yang lebih dalam, Hendri memasang 4 pasang tweeter di pulling room. Tujuannya agar volume suara bisa lebih merata. “Suara tidak harus kencang tetapi merata dalam ruangan,” ujar ayah 3 anak itu. Bila hanya satu tweeter, suara kurang terdengar dalam radius 4 m sehingga volume harus dikencangkan. Padahal, walet tidak menyukai suara kencang dan tidak merata.

Biasanya setelah 2—3 pekan, walet terbiasa di rumah baru. Ia cocok dengan habitat mikro: suhu dan kelembapan, serta aroma dan koloni sehingga ia pun mau berpindah dan tinggal di rumah itu. Menurut Josia Lazuardi pemilik rumah perlu memperhatikan bahan untuk eksternal dan internal. Sebab, bahan tweeter itu berbeda-beda. Untuk eksternal, gunakan bahan tweeter plastik yang tahan air hujan sehingga lebih awet. Tweeter dalam ruangan berbahan magnet karena menghasilkan suara lebih jernih, mirip di alam. (Syah Angkasa)

Tags: ,

Powered by WishList Member - Membership Software