Seri Walet (149) Paket Hemat Rumah Walet

Filed in Seri walet by on 01/11/2009 0 Comments

Rumah walet minimalis yang dimaksud berukuran lebih kecil atau jauh di bawah ukuran standar yang rata-rata di atas 80 m2. Bangunan rumah walet minimalis pun tak perlu tinggi. Hanya 2-3 lantai, sudah termasuk ‘rumah monyet’ di bagian paling atas. Pun ruangan di dalamnya tidak banyak bersekat.

Sejatinya rumah walet mini ada sejak Desa Dangdeur, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, menjadi sentra walet pada 1980-an. Di desa yang dikenal sebagai lumbung padi itu banyak ditemukan rumah walet berukuran kecil: 2 m x 2,5 m sampai 4 m x 4 m. Itu karena hampir semua bangunan, entah lumbung padi, kamar mandi, dapur, kamar tidur, bahkan gardu hansip dipilih seriti untuk bersarang lalu diubah jadi rumah walet permanen.

Mereka, para pemiliknya, tidak berharap banyak. Bisa menjual 4-5 sarang (setara Rp400.000-Rp500.000 waktu itu) setiap bulan sudah cukup. Itu pula yang terlihat di daerah Mauk, Tangerang, Pekutatan, Melaya, dan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Seriti bersarang di lumbung padi berukuran mini.

Produktif

Nun di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, demi menghemat biaya Bardiansyah membangun rumah walet 4 m x 2,5 m dengan tinggi 2,5 lantai. Itu terdiri dari bangunan 2 lantai plus 1 ‘rumah monyet’ di bagian paling atas. Tinggi tiap lantai 2,5 m. Rumah walet itu berdiri di atas dapur. Total biaya yang digelontorkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Selatan itu tak sampai Rp50-juta. ‘Dengan biaya murah, rumah walet terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat,’ ujarnya.

Wajarlah jika Juanda di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, juga tertarik membangun rumah walet. Dengan bermodal Rp20-jutaan sopir speed boat itu merombak sebagian bangunan rumah tinggalnya menjadi rumah walet. Rumah si liur emas itu berdinding papan, ukuran 4 m x 8 m setinggi 4 m atau 1,5 lantai.

Meski berukuran kecil, toh 3 bulan setelah dibangun, Bardiansyah melihat kotoran walet bertebaran di lantai. Enam bulan berselang sudah ada sekitar 20 sarang walet di dalam rumah itu. Lalu, pada Februari 2009 atau tepatnya 2 tahun sejak rumah selesai dibangun, ia memanen 1,5 kg sarang walet yang terdiri atas 137 keping.

Rumah walet milik Juanda bahkan lebih cepat dihuni walet. Sebulan setelah dibangun, sudah ada walet yang menginap. Menginjak 3 bulan, beberapa sarang walet ditemukan menempel di lagur. Panen perdana dilakukan pada September 2009, atau 1 tahun 7 bulan setelah rumah waletnya dibangun. Total ia memanen 0,9 kg dari 96 sarang. Hasil penjualan itu cukup untuk membayar uang masuk adiknya ke perguruan tinggi.

‘Saya melakukan panen selektif, hanya sarang berukuran besar yang tidak ada telur atau piyiknya yang diambil. Oleh karena itu dari 300 sarang di dalam rumah hanya 96 yang dipetik,’ kata Juanda. Itu pula sebabnya bobot sarang rata-rata 9,4 g, lazimnya 8 g per keping. Cara ini pula yang ditempuh Bardiansyah yang hanya mengambil 30% sarang dari rumah waletnya.

Desain khusus

Agar produktif, rumah walet minimalis harus didesain khusus. Ukuran lubang masuk misalnya. Jika di rumah walet besar biasanya 80 cm x 1 m, di rumah minimalis hanya 40 cm x 60 cm. Jumlah lubang masuk pun cukup 1 buah. Lubang diletakkan di arah burung terbang pulang, jika lokasi rumah ada di lintasan walet. Namun, jika rumah itu terletak di area walet mencari pakan, lubang masuk bebas diarahkan ke mana saja.

Twitter dipasang untuk mengundang walet masuk. Namun jumlahnya relatif sedikit. Di rumah Bardiansyah hanya dipasang 8 buah, sementara di tempat Juanda 20 buah. Karena rumah walet Bardiansyah mungil, lubang antarlantai-void-berukuran 1 m x 1 m saja. Sementara di rumah Juanda, karena ukurannya agak besar dan tinggi hanya 1,5 lantai maka void dibuat lebih besar: 2 m x 3 m. Tujuannya agar ruang gerak walet saat bermanuver lebih bebas.

Yang terpenting kondisi rumah aman dan nyaman bagi walet. Kelembapan di atas 75% dan sedikit cahaya-tidak gelap total. Oleh karena itu, cahaya yang masuk diatur agar tercipta gradasi pencahayaan di dalam bangunan rumah. Ada bagian yang agak terang, remang-remang, dan ada yang gelap. Ini untuk mengadaptasikan walet dari luar ke dalam rumah. Caranya, cahaya masuk ditahan dengan memasang sekat pendek di ujung void.

Untuk menjaga kelembapan, tak perlu menggunakan mesin pengabut, membangun dak air atau kolam. Di rumah walet minimalis cukup dilengkapi baskom atau ember berisi air. Juanda, misalnya, menggunakan 25 ember yang ditaruh di lantai. Toh kelembapan di dalam rumah kecil banyak dipengaruhi lingkungan luar. Bahkan adanya tumpukan kotoran walet dalam ruangan saja bisa meningkatkan kelembapan. Kotoran itu mesti rajin dibersihkan agar udara dalam gedung tetap bersih, sehat, dan gas amonia tidak mencemari warna sarang.

Soal bahan bangunan, bisa dipilih sesuai selera. Bardiansyah menggunakan tembok berupa batu bata dan semen. Lantainya terbuat dari papan, bukan beton, lantaran rumah waletnya berdiri di atas dapur. Sementara Juanda menggunakan bahan dari kayu meranti baik untuk tembok, lantai maupun lagurnya. ‘Karena biaya murah, modal bisa kembali setelah 2 kali panen sarang,’ ujar Juanda. (Tri Susanti & Drs Arief Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah)

Foto-foto: Dok. Trubus

  1. Rumah walet minimalis milik Bardiansyah berukuran 4 m x 2,5 m setinggi 2,5 lantai, berdiri di atas dapur rumah
  2. Lumbung padi ukuran mini biasa digunakan seriti untuk bersarang, lalu diubah menjadi walet permanen
  3. Bangunan walet lazimnya berukuran besar, luas di atas 80 m2
  4. Kondisi rumah aman dan nyaman kunci sukses walet mau bersarang

Powered by WishList Member - Membership Software