Selamat Datang Gandum Tropis

Filed in Sayuran by on 31/12/2010 0 Comments

Bak pucuk dicinta ulam pun tiba. Kehadiran galur mutan harapan gandum Tricitum aestivum dataran rendah itu menjadi buah manis penantian panjang Prof Dr Ir Soeranto Human MSc, periset di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (PATIR-BATAN), Jakarta. Mafhum penelitian Soeranto kerap kali tersandung akibat keterbatasan sarana. Kini, beragam aral yang merintangi langkah Soeranto mulai tersibak dan hadir beberapa galur mutan gandum tropis. Soeranto meriset pengembangan gandum tropis untuk dataran rendah sejak 1992.

Menurut Soeranto, gandum yang tergolong tanaman subtropis beriklim sedang, dapat tumbuh subur di Indonesia terutama di dataran tinggi bersuhu sejuk. Anggota famili Poaceae itu butuh proses vernalisasi yaitu paparan suhu rendah untuk merangsang gandum agar berbunga dan menghasilkan biji. Daerah yang memenuhi kriteria tersebut biasanya berada di dataran tinggi di atas 800 m dpl. Namun, menurut Soeranto, pengembangan gandum di daerah dingin itu terkendala persaingan lahan dengan tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan. Untuk menyiasatinya, PATIR BATAN kini tengah mengembangkan gandum yang adaptif di dataran rendah.

Radiasi

Menurut Dr Zainal Abidin Dipl Geo, kepala PATIR-BATAN, penelitian pemuliaan gandum melalui jalan mutasi induksi dilakukan sejak 1983. Saat itu pakar genetik gandum dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Dr Knut Mikaelsen, memperkenalkan benih 2 varietas gandum asal International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT), Meksiko, yaitu sonalika dan SA-75. Penelitian awal dilakukan untuk mengetahui dosis optimal radiasi sinar gamma untuk pemuliaan gandum.

Atas dasar itu Soeranto mulai berusaha mengusik ‘sifat manja’ gandum yaitu vernalisasi. Tujuannya, menghasilkan varietas gandum yang bisa ditanam di mana saja, tidak hanya di dataran tinggi. ‘Targetnya muncul varietas gandum yang tidak memerlukan suhu dingin untuk berbunga dan menghasilkan biji,’ ungkap doktor pemuliaan tanaman dari Agricultural University of Norway, Norwegia, itu. Caranya, sebanyak 1/2 kg biji gandum sonalika dan 1/2 kg SA-75 ‘ditembak’ menggunakan sinar gamma dengan dosis optimal 200 – 300 Gy (Gray).

Menurut Dr Ir Mochammad Ismachin dari Forum Peduli Aplikasi Iptek, struktur DNA benih gandum yang diradiasi sinar gamma itu bisa berubah atau bermutasi. ‘Diharapkan diperoleh benih-benih yang secara genetik lebih unggul dibanding induknya,’ ungkap Ismachin. Hasilnya ‘lahir’ 2 galur harapan CPN-1 (kode son10-1) dan CPN-2 (SA10-22). Benih galur-galur mutan itu selanjutnya ditanam di kebun percobaan Cipanas, Bogor, Jawa Barat, berketinggian 800 m dpl pada 1992 – 1994.

Selain gandum dari Meksiko, turut pula diradiasi gandum dari India: DWR-162 dan DWR-195. Setelah diradiasi, benih-benih itu ditanam di kebun percobaan di Cibadak, Bogor, Jawa Barat, hingga menghasilkan generasi m-4 alias mutan-4. Melalui proses seleksi ketat akhirnya diperoleh 7 mutan unggulan berkode CBD-16, CBD-17, CBD-18, CBD-19, CBD-20, CBD-21, dan CBD-23. Sayang penelitian gandum terhenti pada 1995 karena beberapa hal nonteknis. Namun, plasma nutfah tetap disimpan dalam lemari pendingin bersuhu -210C agar tahan lama dan siap dimanfaatkan kembali sewaktu-waktu.

Tropis

Pada 2001 Soeranto melakukan kerja sama penanaman gandum dengan sebuah perusahaan swasta. Galur mutan CPN-1 dan CPN-2 ditanam di beberapa daerah dataran tinggi di Indonesia dengan varietas pembanding dewata dan nias. Produktivitasnya tidak mengecewakan, mampu mencapai 4 – 5 ton per ha. Bahkan di dataran tinggi Sulawesi Selatan, bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal), Maros, Sulawesi Selatan, hasilnya menyentuh angka 6 ton per ha. Varietas pembanding berkisar 2 – 3 ton per ha.

Produktivitas galur itu lebih tinggi 30% dibanding indukan asalnya yaitu SA-75. Toh, Soeranto tidak puas. ‘Kami ingin menghasilkan gandum tropis yang bisa ditanam di dataran sedang dan rendah,’ tutur Soeranto. Suatu daerah dikategorikan dataran tinggi jika berketinggian di atas 700 m dpl; sedang 400 – 700 m dpl; rendah di bawah 400 m dpl.

Walhasil pada 2009 – 2010 dilakukan uji multilokasi di 10 lokasi berbeda. Termasuk di dataran rendah yaitu di Tajur, Bogor, Jawa Barat, yang berketinggian 300 m dpl dan Maros, Sulawesi Selatan (200 – 300 m dpl). Hasilnya sungguh menggembirakan. Galur mutan harapan CBD-17 mampu

berproduksi hingga 2 ton/ha. Varietas pembanding bisa tumbuh, tapi tidak menghasilkan biji. ‘Padahal, ujicoba masih menggunakan benih yang disimpan selama 5 tahun, idealnya hanya 1 tahun,’ tutur Suranto. Benih hasil galur mutan harapan itu kini ditanam ulang. Kerja sama penanaman antara BATAN dengan Konsorsium Gandum Nasional itu diharapkan bisa melepas varietas-varietas unggul gandum tropis.

Selain galur mutan harapan di atas, Suranto pun kini tengah meradiasi benih gandum dari China (F-44, Yuan-039, Yuan-1045) dan Pakistan (Pavon-76, Soghat-90, dan Kiran-95). Tujuannya, untuk menghasilkan gandum tropis yang adaptif di dataran rendah dan berproduksi menjulang menyamai produktivitas gandum dataran tinggi. Jadi, selamat datang gandum tropis di ibu pertiwi. (Faiz Yajri)

Powered by WishList Member - Membership Software