Saat Tepat Tanam Vanili

Filed in Majalah, Perkebunan by on 12/03/2018
Vanili Indonesia terbaik sedunia dengan kadar vanilin 2,6%.

Vanili Indonesia terbaik sedunia dengan kadar vanilin 2,6%.

Dunia haus pasokan vanili. Pasokan negara kompetitor anjlok. Saat tepat menyambar pasar.

Rudi Ginting memandang tumpukan vanili kering dalam kardus di hadapannya. “Di pembeli akhir harganya sampai US$500 per kg,” kata pegiat vanili di Bondowoso, Jawa Timur, itu. Dengan kurs US$1=Rp14.250, harga itu setara Rp7,1 juta. Namun, pengepul tanah air paling banter hanya berani membeli seharga Rp4,5-juta. Lebih dari itu, eksportir enggan membeli karena tata niaga dari eksportir hingga pembeli akhir masih panjang. Menurut Rudi, selisih harga lokal dengan dunia bisa sampai Rp2 juta per kg.

Pekebun dan pegiat vanili di Bondowoso, Jawa Timur,  Rudi Ginting.

Pekebun dan pegiat vanili di Bondowoso, Jawa Timur, Rudi Ginting.

Salah satu pemicunya adalah terjangan topan enawo di Madagaskar. Topan pada Maret 2017 itu menghancurkan sepertiga tanaman vanili mereka. Menurut eksportir vanili di Jakarta, John S Tumiwa, vanili Indonesia sejatinya digemari pasar dunia. Syaratnya, pemanenan dan pengolahan pascapanen sesuai prosedur. “Pembeli terus meminta kiriman, tetapi kami tidak berani menyanggupi karena pasokan dari daerah tidak menentu jumlah maupun mutunya,” ungkap John.

Proses penyortiran vanili di Madagaskar.

Proses penyortiran vanili di Madagaskar.

Terbaik dunia
Sejak awal 2018, Rudi Ginting berkali-kali menerima penawaran dari pengepul di Papua. Namun, ia tidak menanggapi satu pun tawaran itu karena harganya terlalu tinggi. Para pengepul membeli vanili dari Papua Nugini (PNG) lalu menjual ke Indonesia. Pengepul dari Papua menawarkan vanili PNG itu seharga Rp5,5 juta—Rp6 juta.

Padahal harga maksimal di tingkat eksportir hanya Rp5 juta per kg. Musababnya, mereka membeli vanili di PNG yang memerlukan biaya transportasi tinggi. Sudah begitu, mereka harus menyewa pengawal pribadi untuk menjamin keamanan. Mereka membeli vanili di PNG dengan harga sedikit lebih rendah atau bahkan sama dengan harga Indonesia agar pekebun di sana mau menjual. Harga di PNG lebih murah karena sarana jalan maupun keamanan tidak sebaik di tanah air.

Tanaman vanili berbunga perdana pada umur 2 tahun setelah tanam.

Tanaman vanili berbunga perdana pada umur 2 tahun setelah tanam.

Akibatnya biaya membengkak sehingga pengepul-pengepul itu terpaksa memasang harga tinggi. Gambarannya, harga vanili di kebun di tanah air berkisar Rp2,5 juta—Rp3 juta per kg kering, lebih tinggi ketimbang di PNG yang berkisar Rp2 juta. “Vanili yang mereka jual pun campuran antara varietas tahitensis, planifolia, bahkan ada yang dicampur buah dari pohon vanili liar di hutan,” ungkap Rudi. Padahal menurut alumnus Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor itu, kualitas vanili Indonesia terbaik di dunia dengan kadar vanilin mencapai 2,6%.

Vanili asal Madagaskar, saingan utama Indonesia, hanya mengandung 2,2% vanilin. Maklum, habitat terbaik vanili adalah zona di garis lintang 0—10°. Madagaskar terletak di 20° lintang selatan, sedangkan Indonesia terbentang dari 6° lintang utara sampai 11° lintang selatan. “Kendala utamanya adalah komitmen dan kesadaran,” kata Rudi Ginting. Akhir 2017 lalu, ia menerima tawaran vanili muda dari Jawa Barat. Polong vanili yang mestinya panen di umur 9—11 bulan, dipanen ketika berumur 5 bulan.

Industri parfum salah satu konsumen utama vanili.

Industri parfum salah satu konsumen utama vanili.

Akibatnya kadar vanilin di dalamnya sangat rendah bahkan nyaris nihil. Rudi menyatakan, vanili muda hanya cocok untuk dicacah atau dirajang. Pemanfaatan vanili cacah itu biasanya untuk pembuatan kue atau minuman oleh produsen rumahtangga. Pasarnya hanya domestik, sama sekali tidak ada eksportir yang menerima. “Kecuali eksportir nakal yang menjual polong campuran,” ungkap pengamat komoditas perkebunan dari Yayasan Gamal Insitute di Jakarta, Ir. Hendra A Sipayung. Itu pun dengan harga yang sangat murah.

Kelembagaan
Untuk itu Hendra menginisiasi pembentukan Perkumpulan Petani Vanili Indonesia (PPVI). Tujuannya menghimpun pekebun vanili se-Indonesia dan menyeragamkan kualitas vanili tanah air. Kelembagaan salah satu kelemahan pekebun vanili Indonesia, yang kebanyakan hanya fokus kepada aspek budidaya. Tanpa kelembagaan, posisi pekebun lemah. Pengepul membujuk pekebun untuk panen muda dan menakut-nakuti mereka dengan risiko kemalingan kalau menunggu sampai polong vanili berumur 8—9 bulan. “Pengepul membeli polong muda yang murah lalu menjual kepada eksportir nakal sebagai bahan campuran polong tua,” ujar Hendra.

Tempat pengeringan vanili di Meksiko.

Tempat pengeringan vanili di Meksiko.

Jika panen muda bisa dihentikan, dengan sendirinya tidak ada bahan pencampur sehingga setidaknya menekan praktik pengoplosan. Namun, risiko pencurian memang nyata bukan sekadar isapan jempol. Solusinya membentuk kelembagaan petani di tingkat lokal dan mengorganisir penjagaan. Risiko lain yang mengintai pekebun maupun pengepul adalah perampokan saat transaksi. Untuk mengatasinya, pekebun vanili di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Rony Hariyadi menyarankan transaksi melibatkan aparat.

Jika jauh dari kantor aparat, alternatifnya di kediaman Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI AD atau petugas Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) Polri. Dengan demikian peningkatan produksi vanili bisa dpercepat. Rudi Ginting menyatakan, pembeli vanili dunia terbesar adalah Amerika Serikat yang membutuhkan 3,6 juta ton vanili kering per tahun. Di belakangnya ada Perancis yang meminta 1,8 juta ton vanili kering per tahun—terutama untuk bahan parfum. Artinya, kebutuhan 2 negara itu saja lebih dari 5 juta ton per tahun.

Data Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), produksi vanila Madagaskar pada 2016 adalah 2.926 ton, sedangkan Indonesia 2.304 ton. Total produksi 2 negara produsen utama vanili dunia itu tidak sampai satu per seribu kebutuhan Amerika Serikat dan Perancis. “Bahkan kalau seluruh Indonesia ditanami vanili pun belum mencukupi,” ungkap Rudi penuh keyakinan. Apalagi Meksiko, yang dianggap sebagai “tuan rumah” vanili dunia sekarang justru menjadi importir. Dunia menanti pasokan vanili. Maka dari itu, ayo menanam vanili. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: ,

Powered by WishList Member - Membership Software