Raup Untung dari Murai Batu

Filed in Majalah, Profil by on 16/01/2018
Usup menangkarkan murai batu sejak 2014.

Usup menangkarkan murai batu sejak 2014.

Usup meraup omzet puluhan juta rupiah dari hasil penangkaran murai batu.

Pendidikan terakhir Usup hanya Sekolah Dasar (SD). Namun, meski tak pernah mencicipi pendidikan tinggi, tak menghalangi Usup untuk meraih pendapatan tinggi. Kini pria asal Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, sukses meraup omzet minimal Rp10 juta per bulan. Omzet itu ia peroleh dari hasil penjualan 5—10 ekor anakan murai batu per bulan.

Usup biasanya menjual anakan murai batu umur 1—1,5 bulan dengan harga Rp2 juta—Rp4 juta per ekor, tergantung kualitas. Menurut Usup, kualitas anakan dapat dilihat dari kualitas indukan, terutama sang induk jantan. “Kalau induk jantannya pernah juara kontes burung berkicau, maka harganya anakannya mahal,” tuturnya. Kualitas anakan juga dapat dilihat dari postur tubuh. Kepala yang cepak, postur tubuh yang besar dan gagah, menjadi pertanda murai berkualitas prima.

Postur tubuh yang besar mencirikan sang anakan mampu bernapas panjang. Itu berarti kicauan pun bakal berdurasi panjang. Sumber pendapatan Usup juga berasal dari penjualan murai yang sudah “jadi” dan siap terjun ke ajang kontes. “Kalau kualitasnya bagus ada yang menawar dengan harga Rp15 juta pun belum tentu saya kasih,” ujar ayah dua anak itu.

PHS_Rework_2017_181x45Ternak sendiri
Usup menjual anakan murai batu dan murai batu dewasa dari hasil ternak sendiri. Kini ia memiliki 7 pasang indukan untuk memproduksi anakan. Masing-masing pasangan induk itu menghuni kandang berdinding bata merah berukuran 1,5 m x 2 m. Di dalam kandang itu terdapat ranting pohon untuk bertengger . Usup juga menempatkan wadah pakan di dinding depan kandang bagian dalam. Pada dinding depan kandang terdapat pintu kecil yang hanya cukup untuk memasukkan tangan saat memberi pakan.

Usup menggantung murai batu di antara aneka jenis burung berkicau lainnya untuk isian suara.

Usup menggantung murai batu di antara aneka jenis burung berkicau lainnya untuk isian suara.

Setiap pasang induk itu sebetulnya mampu memproduksi anakan sepanjang tahun. Seekor induk betina mampu bertelur hingga 8 kali atau lebih dalam setahun. Namun, Usup menuturkan sang induk betina sebaiknya “diistirahatkan” setelah 3—4 kali produksi. Tujuannya untuk menjaga kondisi fisik, kesehatan, dan kesuburan si induk betina. Jika induk betina terus-menerus dipacu untuk berproduksi, maka dapat menyebabkan induk mati mendadak atau anakannya menjadi banyak yang cacat dan hidupnya tak mampu bertahan lama. Dengan demikian pentingnya memisahkan induk dan jantan sementara. Misalnya dengan memasukkan induk jantan ke dalam sangkar. Namun, letakkan sangkar itu dalam kandang ternak agar tidak susah lagi menjodohkannya. Lama istirahat bervariasi antara 2—4 pekan.

Menurut Usup, setiap kali bertelur induk betina bisa menghasilkan 2—3 butir telur. Para penangkar biasanya mengharapkan telur menetas menghasilkan anakan berkelamin jantan. Pasalnya, hanya murai jantan yang bersuara bagus dan kerap mengikuti kontes burung berkicau. “Namun, jenis kelamin anakan yang dihasilkan tidak bisa diprediksi. Jadi memang untung-untungan,” tambahnya. Pengalaman Usup, setiap kali bertelur selalu ada saja anakan yang berkelamin jantan.

Cililin, salah satu sumber isian suara murai batu.

Cililin, salah satu sumber isian suara murai batu.

Panen anakan
Usup menuturkan telur menetas setelah dieram sekitar 15 hari. Ciri telur sudah menetas terdapat cangkang telur yang berserakan di lantai kandang. “Saat menetas induk biasanya membuang cangkang telur ke luar sarang,” tuturnya. Ketika sudah menetas, sang induk meloloh anakan sendiri dengan pakan yang disediakan Usup, berupa ulat hongkong atau kroto alias telur semut rangrang.

Saat berumur 7—10 hari setelah menetas, Usup “memanen” anakan bersama sarangnya lalu disimpan di sangkar berbeda. Ketika itulah ia “mengambil alih” tugas sang induk untuk memberi makan. Fase piyik adalah masa yang paling riskan. “Peternak harus telaten merawatnya,” ujarnya. Harap maklum, pada umur itu piyik mudah sekali merasa lapar. Bila merasa lapar anakan biasanya membuka mulut sambil terus-menerus bercericit. Itulah sebabnya Usup menyewa seorang “joki” untuk membantu merawat seluruh indukan dan juga anakan. Sang joki juga kerap membantu Usup saat mengikuti kontes burung.

Sebagai sumber nutrisi, Usup memberikan pakan jangkrik yang telah dipotong kepala dan kakinya pada pagi dan sore hari masing-masing 4 ekor. Ia juga memberi pakan tambahan lain seperti kroto atau ulat hongkong, tapi tidak setiap hari. “Pakan kroto atau ulat hongkong cuma tiga kali seminggu karena harganya mahal,” katanya. Pakan tambahan itu ia berikan pada siang hari. Usup mengeluarkan biaya pakan rata-rata Rp50.000 per hari.

Anakan murai umur 14 hari.

Anakan murai umur 14 hari.

Sejak pemisahan anakan dari induk, Usup juga mulai melakukan “pengisian” suara kicauan. Ia menggantang sangkar berisi anakan di antara deretan gantangan bahan isian, seperti cililin, ciblek, lovebird, kapas tembak, jalak suren, dan kenari. “Isian suara itu seperti mengajari anak kecil. Jadi harus dilakukan sejak dini,” ujarnya. Usup juga memasang ring pada kaki sejak masih anakan. Ring juga menjadi penanda bahwa murai yang dijual Usup adalah hasil tangkaran, bukan tangkapan alam. Pada umur 1—1,5 bulan anakan sudah bisa makan voer sendiri sehingga tak perlu lagi diloloh dan siap untuk dijual.

Beberapa anakan jantan yang berkualitas ia besarkan hingga dewasa dan siap tampil dalam kontes. “Kalau sudah ikut kontes dan juara harga jual bisa lebih mahal,” kata pria 36 tahun itu. Adapun anakan betina ia besarkan untuk bahan indukan. “Murai betina yang berkualitas juga bisa laku sebagai indukan, harganya sekitar Rp2-juta per ekor,” ujarnya. Ciri induk betina berkualitas dapat dilihat dari sosok tubuhnya yang besar, ekor panjang, dan berkepala cepak. Murai betina siap jual sebagai induk pada umur 8—12 bulan.

Rintis usaha
Usup sejatinya memiliki hobi merawat burung berkicau sejak kecil. Namun, ia mulai serius berternak burung berkicau pada tahun 2012. Ia berternak lovebird saat pertama kali memulai. Ketika itu si burung cinta tengah naik daun sebagai burung kicauan. Namun, usaha itu hanya berjalan dua tahun. “Saat itu ada kiriman lovebird dari para peternak di Jawa Tengah dan Jawa Timur ke Jakarta. Belum lagi maraknya impor lovebird sehingga membuat harga jatuh,” kata pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, itu.

Indukan ditempatkan di kandang berdinding bata merah.

Indukan ditempatkan di kandang berdinding bata merah.

Usup pun lalu beralih ke murai batu medan. Berbekal pengalaman menangkarkan lovebird, ia memberanikan diri membeli sepasang indukan murai seharga Rp7 juta dari pemenang salah satu kontes burung berkicau. Koleksi perdananya itu ternyata berhasil beranak pinak. Sejak itu Usup pun makin rajin berburu indukan juara di berbagai ajang kontes. Dalam berternak burung berkicau, indukan juara ibarat jaminan mutu keturunan yang dihasilkan. Oleh sebab itu ia rela membeli murai juara dengan harga Rp65 juta untuk dijadikan indukan. Indukan berharga premium itu pun sukses ditangkarkan Usup dan anakannya pun laris manis.

Untuk mengembangkan usaha peternakan murai batu, Usup mengajukan pinjaman kepada Bank BRI dengan jangka waktu 1 tahun. Pinjaman modal itu ia gunakan untuk tambahan modal membeli indukan murai dan modal bisnis sampingan usaha perdagangan perabot rumah tangga. Kini Usup memiliki 7 pasang indukan. Ia juga tengah mempersiapkan penangkaran cucak hijau. “Saat ini baru punya sepasang induk cucak hijau dan belum berhasil bertelur,” kata suami Ani Risnawati itu.

Usup menuturkan tak ada kiat khusus untuk memasarkan murai hasil tangkarannya. “Saya hanya promosi lewat ring pada burung hasil tangkaran saya. Di ring itu tertera nama Melati dan nomor telepon saya,” ujarnya. Para pelanggan biasanya menghubungi Usup karena tahu dari rekannya yang pernah membeli murai hasil tangkaran Usup. “Jadi hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut,” tambahnya.

Kisah sukses Usup menangkarkan murai batu bukan berarti tanpa kendala. “Kondisi cuaca menjadi kendala,” tuturnya. Menurut Usup saat musim hujan kualitas telur jelek sehingga gagal menetas. Kondisi udara yang lembap juga membuat indukan enggan untuk kawin. Kendala lain adalah ancaman hama tikus. Usup pernah kehilangan induk berharga Rp12 juta gara-gara digigit tikus. Oleh sebab itu ia membuat kandang dari dinding bata merah agar tidak bisa digerogoti tikus. Model kandang itu melindungi para indukan murai yang menjadi tumpuan pendapatan. (Imam Wiguna)

578_ 137

Tags: , , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software