Raja Triwarna

Filed in Uncategorised by on 01/06/2012 0 Comments

Akhirnya yang ditunggu datang juga.

Paket kiriman Eko Mulyanto, anggota staf Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, itu mestinya tiba dalam sehari. Eko mengirimnya dengan jasa paket khusus. “Satu hari sampai,” katanya lewat pesawat telepon. Nyatanya paket itu baru tiba di kantor Redaksi Majalah Trubus di Depok, Provinsi Jawa Barat, tiga hari kemudian pada 9 Mei 2012.

Begitu paket diterima, bau khas buah berduri tercium. Ketika kemasan paket dibuka tampak sebuah durian berduri tajam dengan kulit berwarna cokelat kekuningan. Saat buah dibelah, terlihat daging buah berwarna perpaduan jingga, kuning, dan merah muda. Rasanya? Manis, sedikit pahit, dan gurih. Daging buahnya juga terasa sedikit bertepung mirip durian lai Durio kutejensis.

Buah berbobot satu kilogram itu memiliki lima juring. Satu juring terdiri dari 5-6 pongge yang posisinya bertumpuk hingga seperti ada dua lapis dalam satu juring. Porsi buah yang dapat dimakan tinggi, di atas 20%. Bijinya juga kempes. Pantas, di Banyuwangi harganya cukup mahal, Rp40.000-Rp50.000 per buah.

Buah kedua

Dua minggu sebelumnya Trubus menyambangi pohon induk durian dengan warna berlapis itu di Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sayang, 2 hari menunggu, tak satu pun durian jatuh dari pohon.

Itu bermula dari kabar yang diterima oleh Eko dari seorang pekerja paruh waktu di Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi. “Saat itu saya sedang meminta dia untuk merapikan data tentang sebaran durian jingga di Banyuwangi. Tiba-tiba ia berujar, kalau di dekat kediamannya juga ada durian jingga,” ujar Eko. Segera saja Eko dan rekan sejawat mendatangi daerah yang waktu tempuhnya dari kota Banyuwangi selama 45 menit itu.

Di lokasi mereka menemukan pohon induk setinggi 15 m berdiameter batang 20 cm. Dari ukuran diameter dan tinggi pohon Eko memperkirakan pohon itu baru berumur 10 tahunan. Dugaan serupa dituturkan Dr Lutfi Bansir dari Durian Research Centre Universitas Brawijaya, Malang. “Pohon durian dengan lingkar pohon tiga jengkal tangan orang dewasa dan berdiameter satu jengkal-kira-kira 15-20 cm, umurnya antara   8-12 tahun,” tuturnya.

Pohon durian itu salah satu dari 3 pohon asal biji yang ditanam Turiah, nenek satu cucu. Turiah menanam biji-biji itu dari durian milik tetangganya di kebun depan rumah dan di pematang sawah. Ia lakukan itu karena si empunya tanaman berencana menebang pohon untuk mendapatkan kayu.

Padahal, raja buah itu istimewa. “Ibu menanam biji-biji durian itu supaya kelak bisa mencicip buah durian daging jingga. Sebab, rasanya enak dan warna buahnya menarik. Daging buahnya juga lebih tebal dibandingkan durian di sekitar sini yang dagingnya berwarna krem,” tutur Fitria, anak Turiah. Sayang mereka tidak mengingat pasti kapan biji-biji durian itu ditanam.

Tanaman asal biji yang ditanam Turiah berbuah pertama kali pada Oktober 2011. “Bunganya banyak, tapi hanya sebuah yang bertahan hingga panen. Rasa dan warna daging buahnya persis durian dari pohon induk yang sudah ditebang,” kata Fitria. Musim berbuah kedua pada April 2012. Kali ini durian yang jadi lebih banyak,

14 buah di antaranya sudah dijual dan tersisa 8 buah di pohon saat Trubus sambangi pada pengujung April 2012.

Menurut Eko, Desa Kampunganyar memang dikenal dengan durian lapis-durian dengan warna daging beraneka. Selain milik Turiah, juga ada durian sucipto, durian wagio, dan durian gusno-semua merujuk pada nama pemilik pohon.

Tiga tetua

Eko menduga durian raja 3 rasa-begitu ia menyebutnya-keturunan dari 3 tetua, yaitu Durio kutejensis, D. graviolens, dan D. zibethinus. “Ciri kutejensis terlihat dari warna daging buahnya yang jingga. Warna merah di pangkal daging buah dari graviolens, sementara zibethinus dari aroma yang menyengat,” ujar sarjana pertanian alumnus Universitas Nusantara Manado, itu.

Dugaan itu diperkuat dengan keberadaan pohon lai tua di Kampunganyar. Pohon milik Sucipto itu berdiameter batang 3 pelukan orang dewasa. Menurut Lutfi, dari ukuran pohon sebesar itu diperkirakan umur tanaman 300-400 tahun. Ciri lai juga terlihat dari ukuran daun yang besar seukuran telapak tangan orang dewasa. “Satu-satunya spesies durian berdaun lebar ya kutejensis. Ciri lain ialah batang mudanya ada bintik-bintik cokelat,” ujar doktor alumnus Universitas Brawijaya, Malang, itu.

“Permukaan atas daunnya juga agak keriting seperti terkena setrika panas. Berbeda dengan Durio zibethinus yang daunnya mulus,” kata Eko. Durian triwarna itu juga memiliki kemampuan menyerbuk sendiri. Sebab pada saat bersamaan tidak ada pohon durian lain yang tengah berbunga dan berbuah di sekitarnya.

Beda rupa

Nun di Kelurahan Gombeng, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, juga ditemukan durian unik. Dalam satu pohon durian terdapat dua jenis buah berbeda rupa. Durian pertama berduri runcing disebut si dayun, yang lainnya berduri tumpul di sebut si keceng. Keduanya berbiji kempes. Porsi buah yang dapat dimakan pun sangat tinggi hingga 37%, rata-rata 33%, standar buah unggul minimal 20%.

Durian yang diperkirakan berumur 12 tahun itu sudah 3 kali berbuah sejak 2009. Buah kedua dan ketiga masing-masing 300-an dan 600-an buah. Diameter pohon setinggi 15 m itu berdiameter 30 cm. Eko Mulyanto mengamati, durian berduri tumpul banyak tumbuh pada batang utama. Sementara buah berduri runcing tumbuh di percabangan pohon.

Citarasa keduanya berbeda. Si keceng  manis tapi agak tawar serta teksturnya agak bertepung sehingga lebih cocok untuk durian olahan. Sementara si dayun lebih creamy dan terasa lengket di lidah. Paduan rasanya antara manis dan pahit. Cocok bagi maniak durian. (Tri Istianingsih)

Jawara di Timur

Banyuwangi gudang durian enak. Itu setidaknya terlihat pada kontes durian se-Kabupaten Banyuwangi untuk memperingati Hari Krida Pertanian ke-40 pada 2 Mei 2012. Dari 36 peserta, panitia memilih 18 durian yang lolos seleksi awal karena memiliki perpaduan rasa manis, pahit, dan gurih.

Para nomine lalu dinilai oleh juri terdiri atas Dr Lutfi Bansir dari Durian Research Centre Universitas Brawijaya dan Ni Luh Putu Indriani, periset durian dari Balai Penelitian Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat. Penjurian berlangsung hingga empat kali proses, tersaring dari 18 buah, 10 buah, 9 buah, 6 buah, dan terakhir 3 buah terbaik.

Terpilih sebagai jawara adalah durian dengan nomor peserta 8 dari Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, nomor 11 (Desa Songgon, Kecamatan Kemiren), dan nomor 10 (Desa Songgon, Kecamatan Kemiren). Sang jawara bernar-benar top: paduan rasa manis, pahit, legit, dan gurih bercampur sempurna jadi satu. “Rasa penentu yang utama. Kriteria selanjutnya warna daging, bentuk buah, dan porsi yang dapat dimakan,” tutur Lutfi. Lutfi mengakui kualitas durian pada kontes kali ini jauh lebih enak. “Banyuwangi memang memiliki potensi plasma nutfah durian yang luar biasa,” tambah Ni Luh Putu Indriyani. Ingin makan durian enak? Banyuwangi gudangnya. (Tri Istianingsih)

 

Keterangan Foto :

  1. Setiap juring terdiri atas 5-6 pongge yang posisinya bertumpuk
  2. Pohon durian raja 3 rasa diduga berumur 10 tahun
  3. Si dayun bercita rasa manis dan pahit, berbiji kempes
  4. Pohon durian si keceng dan si dayun terletak di antara perkebunan kopi rakyat
  5. Dua sosok berasal dari satu pohon yang sama
  6. Jawara 1 kontes durian Banyuwangi
  7. Jawara 2 kontes durian Banyuwangi
  8. Jawara 3 kontes durian Banyuwangi
  9. Durian raja 3 rasa, rasanya manis sedikit pahit, daging buah berlapis-lapis

Powered by WishList Member - Membership Software