Proteksi Cabai Seumur Hidup

Filed in Laporan khusus, Majalah by on 07/09/2017
Upaya pengendalian hama dan penyakit secara optimal dapat membantu meningkatkan produksi cabai.

Upaya pengendalian hama dan penyakit secara optimal dapat membantu meningkatkan produksi cabai.

Pengendalian hama dan penyakit secara intensif berlangsung seumur hidup tanaman cabai. Merupakan kunci sukses tingkat hasil panen.

Sujiono semringah saat memanen perdana rata-rata 900 g cabai merah besar per tanaman. Petani di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu menanam 16.000 tanaman sehingga panen perdana mencapai 14,4 ton per hektare. Selanjutnya Sujiono memanen hingga 4 kali. Total jenderal, hasil panen 2,1 kg/tanaman. Hasil itu jauh lebih tinggi ketimbang rata-rata produksi cabai merah besar nasional yang hanya 8,65 ton per hektare.

Menurut Sujiono selain nutrisi yang cukup, perlindungan tananam tak kalah penting. Harap mafhum, dalam satu siklus hidup cabai Capsicum annum, setidaknya ada 5 jenis hama dan 3 jenis cendawan yang kerap mengancam tanaman. Ia menuturkan, berkat perlindungan optimal, hasil panen 18% lebih tinggi dibandingkan dengan perlindungan standar yang dilakukan pekebun lain yang memberikan nutrisi berdosis sama.

Pasteurisasi
Menurut peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Ir. Neni Gunaeni, penyakit pada cabai mengancam sejak di persemaian. Salah satunya adalah cendawan Pythium spp. Cendawan itu menyebabkan persemaian cabai gagal tumbuh. Biji yang sudah berkecambah mati tiba-tiba. Gejala lain benih yang berkecambah menjadi kerdil karena batang bawah atau leher akar busuk dan mengering.

Cabai terkena serangan thrips.

Cabai terkena serangan thrips.

Cendawan penyebab penyakit rebah semai atau damping off itu menyebabkan kebotakan kecambah cabai secara sporadis dan tidak beraturan. Menurut Neni untuk mencegah penyakit rebah semai sebaiknya gunakan media tanam persemaian berupa lapisan subsoil, yaitu tanah pada kedalaman 1,5—2 m di bawah permukaan tanah. Tambahkan pupuk kandang yang sudah matang dan halus, lalu campur dengan pasir kali. Perbandingannya 1:1:1.

Campuran media itu lalu dipasteurisasi selama 2 jam. Jika ada kecambah yang terinfeksi, cabut dan musnahkan. Buang media tanam yang terkontaminasi. Buka juga naungan persemaian secara bertahap agar terpapar sinar matahari dan tanaman menjadi lebih kuat. “Bisa juga gunakan fungisida selektif dengan dosis batas terendah,” kata Neni. Untuk mencegah serangan penyakit itu, Sujiono menyemprotkan fungisida berbahan aktif propamocarb hidroklorida.

Bahan aktif itu melindungi tanaman dari dalam karena merupakan fungisida berdaya kerja sistemik kuat sehingga dapat digunakan untuk upaya pencegahan (preventif) dan pengobatan (kuratif). Keunggulan lain, bahan aktif itu tidak menimbulkan resistensi silang. Sujiono menyemprotkan larutan fungisida itu sejak pembibitan hingga bibit siap pindah tanam atau umur 20 hari setelah semai. Konsentrasi 2—3 ml per l.

Pilih jenis pestisida dan gunakan dosis yang tepat agar efisien dan efektif.

Pilih jenis pestisida dan gunakan dosis yang tepat agar efisien dan efektif.

Bercak daun
Ancaman lain adalah penyakit bercak daun yang disebabkan cendawan Cercospora capsici. Bercak itu awalnya berukuran kecil, tapi perlahan membesar. Pada bagian pinggir daun biasanya terdapat bercak berwarna kuning lebih tua hingga kecokelatan di bagian tengahnya.

Terkadang terjadi sobekan hingga 5 mm di bagian tengah bercak. Jika sudah begitu daun akan langsung gugur. Cendawan itu tidak menyerang batang maupun akar. Curah hujan atau tingkat kelembapan tinggi di sekitar areal tanam mempercepat perkembangbiakan cendawan. Untuk mengatasi penyakit itu Sujiono rutin menyemprotkan fungisida berbahan aktif propineb 70% berkonsetrasi 2—3 g per liter.

Ia menyemprotkan fungisida kontak itu sejak bibit pindah tanam hingga panen. Penyemprotan pada bagian tanaman yang timbul gejala atau bagian tumbuh buah. Interval penyemprotan setiap pekan. Untuk sehektare lahan diperlukan sekitar 500—1.000 liter larutan. Saat tanaman berumur 45 hari setelah tanam, Sujiono menambahkan fungisida sistemik berbahan aktif ganda, yaitu trifloksistrobin 25% dan tebukonazol 50%.

Tanaman cabai yang terkena serangan virus gemini.

Tanaman cabai yang terkena serangan virus gemini.

Kombinasi kedua bahan aktif itu melindungi bagian bawah dan dalam daun serta mencegah perkecambahan spora. “Fungisida itu juga tahan terhadap air hujan sehingga dapat bekerja dan melindungi tanaman lebih lama,” tutur Sujiono. Ia menuturkan bisa juga menambahkan fungisida yang hanya berbahan aktif tebukonazole 25%.

Sujiono juga menggunakan fungsida berbahan aktif propineb 70% dengan konsentrasi 2—3 g per liter untuk mengatasi busuk batang. Penyakit yang disebabkan patogen Phytophthora capsici itu menyerang tanaman cabai pada setiap fase dan bagian tanaman. Selain menyebabkan busuk batang, juga dapat menimbulkan gejala lain seperti bercak dan hawar daun, busuk buah, busuk akar, dan layu.

“Serangan penyakit itu dapat menyebabkan kerugian hingga 40—60%, tergantung dari tingkat serangannya,” tutur Dr. Ir. Andi Khaeruni R., M.Si., dari Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara. Sujiono juga menambahkan fungisida lain yang juga berbahan aktif ganda, yaitu fluopikolid 6% dan propineb 66,7%.

Ancaman penyakit menyerang sejak di persemaian.

Ancaman penyakit menyerang sejak di persemaian.

Kedua bahan aktif itu efektif terhadap serangan busuk daun yang bekerja dengan tiga cara, yaitu melindungi, mengobati, dan mencegah terbentuknya spora (antisporulasi). Sujiono menyemprotkan kedua fungisida itu saat tanaman berumur 30 hari setelah semai hingga panen dengan interval setiap pekan.

Hama
Hama seperti kutu daun (aphis) dan thrips juga menjadi momok bagi pekebun cabai. Menurut Prof. Dr. Ir. Siti Herlinda, M.Sc., dari Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan, kutu daun Aphis gossypii ancaman penting bagi cabai karena merupakan vektor virus yang menyebabkan berbagai penyakit. Tanaman yang terserang A. gossypii biasanya menjadi kerdil, daunnya keriting, layu, dan akhirnya mati.

Menurut dosen Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur, Dr. Ir. Gatot Mudjiono, serangan thrips menyebabkan kehilangan hasil panen hingga 23%. Serangan thrips pada awal tanam berkibat fatal, yaitu tanaman menjadi kerdil (dwarfing), layu, dan akhirnya mati. Sujiono tak mau kecolongan kedua hama itu menyerang kebunnya.

Oleh karena itu, ia mencegah dengan rutin menyemprotkan instektisida berbahan aktif imidaklorpid 200 g/l. Bahan aktif itu bersifat sistemik sehingga cocok untuk mengendalikan hama pengisap seperti aphis dan thrips. Ia menyemprotkan insektisida itu setiap pekan sejak tanaman berumur 30 hari setelah semai hingga panen dengan konsentrasi 0,5—1 ml/l. Kutu kebul Bemisisa tabaci juga ancaman serius bagi pekebun cabai.

Kutu kebul salah satu hama yang berbahaya untuk cabai karena menjadi vektor berbagai jenis virus penyebab penyakit.

Kutu kebul salah satu hama yang berbahaya untuk cabai karena menjadi vektor berbagai jenis virus penyebab penyakit.

Menurut Peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Ir. Wiwin Setiawati, M.S., gejala serangan B. tabaci berupa bercak nekrotik dan klorosis pada daun akibat nimfa dan serangga dewasa yang mengisap jaringan tanaman. Jika populasi tinggi, serangan kutu kebul dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Embun madu yang dikeluarkannya mengundang cendawan jelaga berwarna hitam yang dapat mengurangi laju fotosintesis.

Cendawan jelaga juga menyerang buah sehingga menurunkan kualitas buah. Yang berbahaya, serangga yang pertama kali ditemukan di Indonesia pada 1938 itu juga berperan sebagai vektor virus penyebab penyakit. Sampai kini tercatat 100 jenis virus yang dapat ditularkan B. tabaci. Salah satunya geminivirus (virus kuning). Di berbagai sentra produksi sayuran, kerugian akibat serangan virus kuning mencapai 20—100%.

Ulat grayak
Sujiono mengantisipasi serangan kutu kebul sejak bibit pindah tanam, yakni umur 20 hari setelah semai. Ia rutin menyemprotkan insektisida yang mengandung bahan aktif imidakloprid 120 g/l dan spirotetramat 120 g/l. Konsentrasi 1 ml/l dengan interval setiap 10 hari, maksimal 4 kali aplikasi per musim tanam. Menurut Silviya Wiltin, Crop Specialist Bayer Crop Science Indonesia, bahan aktif spirotetramat bekerja unik, yaitu sistemik dua arah.

Bahan aktif ditranslokasikan melalui kedua pembuluh, yaitu pembuluh kayu (xilem) dan tapis (floem). Hasilnya seluruh bagian tanaman terlindungi, bahkan bagian tanaman yang tidak tersemprot. “Nimfa kutu kebul yang bersembunyi dan tidak terjangkau semprotan pun tidak dapat lolos,” tutur Silviya. Ulat grayak Spodoptera litura  yang bersifat polifag alias pemakan segala turut mengancam cabai.

574_ 45Menurut peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balitra), Ir. Muhammad Thamrin, hama itu sulit dikendalikan karena perkembangbiakannya cepat. Ulat grayak juga mempunyai kisaran inang yang luas, yaitu hampir semua jenis tanaman pangan dan hortikultura.

Thamrin menyatakan jika tidak dikendalikan tingkat kehilangan hasil panen dapat mencapai 80%, bahkan puso. Untuk pencegahan, Sujiono menyemprotkan deltametrin 25 g/l atau betasiflutrin 25 g/l dengan dosis 0,5—1 ml/l sejak tanaman berumur 30 hari setelah semai. Insektisida itu berefek mengusir hama (repellent) dan membuat hama tak mau makan (antifeeding).

Sujiono juga menggunakan insektisida itu untuk mencegah serangan lalat buah Bactrocera sp. berdosis sama. Menurut ahli Agroteknologi dan Teknolgi Bioproduk Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Ir. Aos, M.P., upaya pengendalian hama dan penyakit cabai yang diterapkan Sujiono memang maksimal. “Namun, yang harus diperhatikan jumlah biaya yang dikeluarkan pekebun apakah ekonomis atau tidak,” ujar Aos.

Pasalnya, selama ini para pekebun mengeluarkan biaya cukup tinggi untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai. Contohnya hasil temuan tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITB saat melakukan penelitian kepada pekebun cabai di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Para pekebun di sana mengeluarkan biaya hingga Rp8 juta per hektare untuk membeli 6 jenis pestisida.

Biaya itu setara 11% dari total biaya produksi “Biaya pestisida akan efisien bila berdampak pada penambahan hasil panen,” tutur Aos. Menurut Sujiono penerapan upaya pengendalian lengkap yang ia terapkan masih ekonomis hingga tingkat harga cabai di tingkat pekebun Rp15.000 per kg. (Imam Wiguna)

Tags: , ,

Powered by WishList Member - Membership Software