Produksi Jagung Naik 60%

Filed in Majalah, Topik by on 02/08/2017

Teknologi budidaya modern meningkatkan produktivitas jagung hingga 63,8%. Kuncinya pengolahan tanah, pemupukan, dan penggunaan benih unggul.

Produksi jagung rata-rata nasional hanya 5—6 ton per hektare. Semula petani di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, menuai 5,8 ton per hektare. Namun, kini produksi melambung hingga 11,8 ton per hektare. “Targetnya 12 ton per hektare di semua wilayah Lamongan,” kata Bupati Lamongan, H. Fadeli, S.H., M.M. Ia menguji coba penanaman jagung di lahan seluas 100 hektare di Solokuro, Kabupaten Lamongan. Produksi jagung menjulang karena Fadeli menanam secara intensif.

Bupati Lamongan, H. Fadeli, S.H., M.M. (berkemeja biru), serius mengembangkan jagung di Kabupaten Lamongan.

Bupati Lamongan, H. Fadeli, S.H., M.M. (berkemeja biru), serius mengembangkan jagung di Kabupaten Lamongan.

“Kami menyebutnya pertanian jagung modern, yakni pertanian jagung intensif sejak pengolahan tanah hingga pascapanen,” ujar bupati kelahiran 16 Juli 1955 itu. Budidaya jagung konvensional di Lamongan biasanya tanpa olah tanah. Pada uji coba itu Fadeli mengolah tanah. Menurut peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur (BPTP JATIM) Prof. Dr. Ir. Mohammad Cholil Mahfud, M.S., budidaya jagung secara modern mengolah tanah dengan traktor hingga kedalaman 20 cm.

Jajar legowo
Proses budidaya itu dimulai dengan pemilihan benih jagung yang berkualitas yaitu benih jagung hibrida yang adaptif dengan lingkungan di Lamongan. “Salah satu syaratnya daya tumbuh diatas 90%,” tuturnya. Menurut Cholil sejatinya banyak varietas unggul yang beredar di Lamongan. “Hasil pengujian kami ada lebih dari 15 varietas yang digunakan petani jagung di Lamongan. Namun, hanya 6—8 varietas yang potensi hasilnya lebih dari 10 ton per hektare,” kata Cholil.

Fadeli memberikan pupuk organik atau kotoran hewan 1,5 ton per hektare sebagai pemupukan dasar,. “Tujuannya agar tanah jadi gembur, akar tumbuh sempurna sehingga tanaman juga tumbuh optimal,” ujar Cholil. Yang tak kalah penting adalah penggunaan model penanaman jajar legowo dengan jarak tanam 120 cm x 60 cm x 12,5 cm satu benih per lubang tanam. Pilihan lain jajar legowo berjarak tanam 90 cm x 40 cm x 40 cm dengan 2 benih per lubang.

Menurut Cholil petani jagung di Lamongan umumnya menggunakan pola tanam konvensioanl dengan jarak tanam 75 cm x 75 cm x 20 cm dengan 1 benih per lubang. Pola tanam itu terlalu renggang, sehingga populasi tanaman kurang maksimal. “Dengan pola tanam konvensional, populasi tanaman hanya sekitar 64.000 tanaman per hektare, sedangkan dengan pola tanama jajar legowo dengan jarak tanam 90 cm x 40 cm x 40 cm populasi tanaman menjadi 82.000 tanaman per hektare,” ujar Cholil.

Penggunakan mesin pertanian menambah biaya produksi dan meningkatkan pendapatan petani.

Penggunakan mesin pertanian menambah biaya produksi dan meningkatkan pendapatan petani.

Pemupukan pun harus intensif dan sesuai dengan kebutuhan tanaman. “Kami sudah melakukan penelitian tentang kebutuhan pupuk di Lamongan,” ujar alumnus UNiversitas Putera Malaysia itu. Total pupuk mencapai 300—500 kg Urea plus 200—400 kg phonska (15 : 15 : 15) per hektare. Pemberian pupuk 2—3 kali dengan cara ditugal. Pemupukan pertama ketika tanaman berumur 7—10 hari setelah tanam (HST). Fadeli memberikan 400 kg pupuk phonska dan 20% Urea setara 100 kg.

Adapun pemupukan kedua ketika jagung berumur 25—30 hari. Fadeli memberikan hst 40% Urea atau 200 kg. Ketika Zea mays berumur 40—45 hari, ia kembali memberikan 200 kg Urea. “Budidaya jagung konvensioanl penggunaan pupuknya di bawah angka itu sehingga tanaman kekurangan nutrisi,” ujar Cholil, anggota Perhimpunan Fitopatologi Indonesia itu. Selain itu Fadeli juga memperhatikan cara pemberian pupuk.

“Selama ini banyak petani yang memupuk jagungnya dengan menebar di permukaan tanah saja. Padahal, cara itu membuat 40% pupuk menguap,” kata Prof. Cholil. Cara yang tepat dengan menugal tanah baru kemudian memasukkan pupuk ke lubang tanah itu. “Dengan menugal tanah saat pemupukan, produktivitas jagung meningkat 29% dibanding dengan tanpa ditugal,” ujar profesor yang menghasilkan 67 lebih karya tulis ilmiah itu.

Meluas 12 kecamatan
Penerapan teknologi budidaya jagung modern itu memang meningkatkan biaya produksi. “Meski biaya produksi meningkat tetapi keuntungan petani meningkat berlipat-lipat,” ujar Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Kabupaten Lamongan, Ir. Aris Setiadi, M.M. Biaya produksi jagung intensif itu meningkat menjadi Rp14.717.500 per ha. Sementara biaya produksi petani lain yang menanam jagung secara konvensional hanya Rp11.875.000 per hektare per musim.

Penanam jagung secara modern seluas 100 hektare di Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menghasilkan 10,6 ton per hektare.

Penanam jagung secara modern seluas 100 hektare di Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menghasilkan 10,6 ton per hektare. (Foto: Humas Lamongan)

Peningkatan biaya produksi itu tertutup oleh laba pekebun. Saat panen pada Januari 2017, harga jagung di Lamongan Rp3.400 per kg. Fadeli mampu memetik 10,8 ton jagung per hektare atau 5 ton lebih banyak dibadingkan dengan petani konvensional. Jika pendapatan petani meningkat dari Rp10.225.000 menjadi Rp21.492.500 per hektare. “R/C rasionya mencapai 2,5 sementara pertanian jagung konvensional 1,9 saja,” kata Aris.

Biaya produksi meningkat 23,9% sementara hasil panen meningkat 63,8%, dan hasil pendapatan petani meningkat 110,1%. Melihat keberhasilan program itu Fadeli siap berupaya lebih jauh dengan menguji coba di 12 kecamatan. Setiap kecamatan membudidayakan jagung di lahan 10 ha dengan teknologi yang sama. Panen pada April 2017 itu juga menggembirakan, produktivitas rata-rata tembus 10 ton per hektare.

Bahkan di Solokuro yang penanaman sebelumnya rata-rata 10,8 ton per hektare naik menjadi 11,3 ton per hektare. “Sungguh pencapaian yang luar biasa di Lamongan,” tutur Fadeli. Semangat Fadeli pun semakin tinggi untuk meningkatkan produksi jagung Lamongan. “Bupati akan memberikan bantuan benih pada petani jagung untuk lahan seluas 1.200 hektare. Targetnya musim tanam Oktober 2017,” ujar Cholil.

Penerapan teknologi budidaya jagung itu hasil kunjungan Fadeli ke sentra jagung dunia di Iowa, Amerika Serikat, pada April 2016. Saat itu ia menghadiri undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (Kedubes RI) di Amerika Serikat untuk menghadiri pameran pertanian bertajuk Farm Progess Show. “Di Amerika Serikat banyak teknologi pertanian khususnya jagung yang bisa diterapkan di Indonesia termasuk di Lamongan,” ujar Fadeli.

Harap mafhum, potensi Kabupaten Lamongan sebagai sentra jagung cukup menjanjikan. “Dari total luas Lamongan yang mencapai 1.812 km², 60% lahan pertanian termasuk tambak dan 70—75% warga Lamongan adalah petani,” tutur Fadeli. Pantas jika produktivitas jagung Lamongan pada 2016 mencapai 372.162 ton per tahun. Namun, sayangnya produktivitas rata-rata masih belum maksimal. (Bondan Setyawan)

Tags: , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software