Pasar Sayuran dalam Telepon

Filed in Majalah, Sayuran by on 09/11/2016

Pemasaran sayuran melalui ponsel pintar.

Kemudahan akses internet memangkas rantai niaga hortikultura.

Kemudahan akses internet memangkas rantai niaga hortikultura.

Jual beli makanan, pakaian, sepatu, keperluan rumah tangga, motor, mobil hingga rumah melalui dunia maya lazim sejak 10 tahun terakhir. Namun, tidak dengan sayuran segar. Tantyo Bangun, pria asal Ciputat, Tangerang Selatan, Banten yang menangkap peluang itu. Pada 2013, Tantyo meluncurkan Kecipir, laman daring (online) yang mempertemukan petani dan konsumen sayuran lokal dan sehat.

Di pasar sayuran penjual dan pembeli bertatap muka. Kini mulai bergeser ke media daring.

Di pasar sayuran penjual dan pembeli bertatap muka. Kini mulai bergeser ke media daring.

Petani menawarkan hasil panen pada tanggal tertentu sehingga konsumen bisa memesan sebelumnya. Pesanan konsumen diantar gratis sampai agen terdekat. Tantyo menggeluti pemasaran secara daring karena kegelisahan akibat harga jual dari pengepul yang berkali-lipat harga di tingkat petani. Harga yang meningkat di tangan konsumen akibat panjangnya rantai distribusi sayuran.

Sistem agen
Tantyo kemudian membuat laman daring dan merek “kecipir” untuk memangkas rantai itu. Kecipir mengkhususkan pada sayuran organik dari lahan yang berjarak maksimal 100 km dari konsumen. Komoditas yang tersedia antara lain sayuran daun, sayuran buah, buah, bumbu, dan herbal. Laman yang semula hanya untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya itu menggunakan sistem keagenan.

Setelah memilah hasil panen petani. Tantyo kemudian meneruskan kepada agen yang terdekat dengan konsumen. Tantyo membeli sayuran dari petani dengan harga 2 kali harga normal dan menjual ke konsumen lebih rendah daripada harga pasar. “Kesegaran pun terjamin karena baru dipanen 1 hari sebelumnya,” kata Tantyo. Prinsip Kecipir adalah menyediakan sayuran lokal, organik, dan segar.

Tampilan antarmuka kecipir.com pada telepon pintar.

Tampilan antarmuka kecipir.com pada telepon pintar.

Pasar Jakarta memperoleh sayuran dari petani di Cianjur, Ciawi, Cipanas, Ciampea, dan Jasinga (Bogor). Adapun komoditas yang lebih awet seperti beras, madu, kopi, didatangkan dari sentra penghasil. Kemajuan teknologi informasi seiring peningkatan pengetahuan konsumen menjadikan pelanggan Kecipir semakin meningkat. Enam bulan terakhir, ada 50 agen dan 1.000 pelanggan bergabung dengan Kecipir.

Kecipir juga mendukung petani yang akan bermitra dengan memberikan pelatihan budidaya yang baik (GAP, good agriculture practice). Selain Tantyo, pemasar hasil pertanian melalui aplikasi digital dan laman internet ada Aris Hendrawan dan rekan. Mereka membangun Eragano yang menghubungkan petani dengan konsumen. Eragano juga menghubungkan petani dan lembaga yang mendukung budidaya pertanian seperti penyedia sarana produksi tani, pemerintah, lembaga penelitian, asuransi pertanian, dan perbankan.

Pendampingan teknik budidaya dan konsultasi pertanian juga dilakukan untuk memaksimalkan hasil pertanian. ”Konsultasi berupa perencanaan tanam, penyediaan bahan produksi, pendampingan budidaya, penanganan pascapanen, dan pengemasan,” kata Aris. Lantaran petani kerap kesulitan memasarkan akibat ketiadaan komunikasi dengan pasar, pemasaran hasil panen ditangani Eragano.

Bawang merah

Aris Hendrawan menyediakan konsultasi bagi petani melalui Eragano.

Aris Hendrawan menyediakan konsultasi bagi petani melalui Eragano.

Melalui Eragano petani dapat mengusulkan tanaman yang akan ditanam. Pihak Eragano lantas menganalisis usul petani dan mengevaluasi potensi pasarnya. Selanjutnya tim Eragano memberikan masukan tentang waktu penanaman, cara budidaya, dan waktu panen yang tepat. Eragano berani membeli di atas harga pokok produksi sehingga petani dapat bertani tanpa waswas. Harga jual menyesuaikan kualitas barang dan konsumen.

Kualitas bagus didistribusikan ke hotel atau restoran, sedangkan kualitas di bawahnya disalurkan ke pasar induk. Aplikasi yang baru berumur setahun itu menggandeng 10 petani sayuran dari Pangalengan, Kabupaten Bandung, dan 28 petani dari Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Menurut Aris kendala terbesar saat ini kesulitan petani mengakses teknologi aplikasi karena rata-rata usia petani di atas 40 tahun dan susah memahami aplikasi melalui telepon pintar itu.

Jika Kecipir dan Eragano terjun di kelas sayuran umum, Limakilo berani menyasar jenis khusus, yaitu bawang merah. Walesa Danto (26 tahun) menyasar bawang merah lantaran harganya berfluktuasi. “Aplikasi itu memangkas rantai distribusi sehingga harga relatif ajek,” ungkap Walesa. Penjualan yang baru menyasar daerah Jakarta itu diklaim mempunyai harga hingga 15% di bawah harga patokan rata-rata di Jakarta.

Limakilo menebus bawang merah dari petani dengan harga pokok produksi. Setelah terjual, barulah mereka membagi hasil keuntungan dengan petani. Menurut Walesa kesulitannya petani enggan menjual hasil panen secara eceran dan tidak mau repot dengan sistem penjualan daring. Perusahaan rintisan (startup) yang baru setahun berjalan itu tak patah arang.

Walesa Danto pengembang aplikasi limakilo.

Walesa Danto pengembang aplikasi limakilo.

Walesa mengakalinya dengan mengumpulkan pembeli hingga permintaan yang terkumpul mencapai minimal 1 ton sebelum memesan kepada petani. Pemesanan minimal 5 kg bawang merah yang sudah dikemas dalam satu paket. Ia mendatangkan bawang merah dari Brebes, Jawa Tengah, yang merupakan sentra terbesar. Sebanyak 80% produksi bawang merah nasional berasal dari Jawa Tengah.

Demi mendapatkan kualitas terbaik, Limakilo melakukan pendampingan budidaya bagi petani mitra. “Kami berencana menambah jenis komoditas sayuran untuk memperluas pasar,” kata Walesa. Ia memulai Limakilo ketika mengikuti lomba aplikasi pengembangan perusahaan rintisan yang diselenggarakan oleh staf kepresidenan. Ternyata aplikasi besutannya apresiasi tinggi sehingga ia dan rekan diundang presiden Republik Indonesia.

Menurut Tantyo Bangun hal yang perlu diperhatikan ketika memulai bisnis jual beli sayuran secara daring adalah niat baik untuk menyejahterakan petani. Untuk itu diperlukan pengamatan dan pemahaman seksama terhadap permasalahan di tingkat petani, baik teknik budidaya, pascapanen, dan penjualan. Itu menjadi dasar perancangan sistem penjualan daring yang menguntungkan petani dan konsumen. (Muhammad Awaluddin)

Tags: ,

Powered by WishList Member - Membership Software