Pasar Jeruk Organik

Filed in Buah, Majalah by on 01/02/2019

Jeruk jeju memiliki kemanisan rata-rata di atas 9,7 briks.

Harga jeruk organik 2 kali lipat jeruk hasil budidaya konvensional. Petani jeruk meraup untung Rp900 juta per tahun.

Seribu pohon jeruk tumbuh berderet-deret di kebun Oh Seung Hoon seluas 1 hektare. Setiap pohon menyangga puluh buah ranum berwarna kuning semu jingga. Pekebun di Namwon, Seogwipo, Provinsi Jeju, Korea Selatan, itu memanen jeruk di pohon berumur 6 tahun setiap Oktober hingga November. Ia menjual hasil panen melalui kelompok tani di Seogwipo. Harganya berkisar 3.500 won setara Rp45.500 per kg.

Harga jual jeruk itu hampir dua kali lipat harga pasaran. Menurut data Agricultural and Fishery Marketing Corporation Korea harga rata-rata jeruk di Korea memang meningkat setiap tahun. Pada 2015 harga jual jeruk kualitas menengah hanya 1.570 won setara Rp21.000 per kg. Setahun kemudian, harga meningkat 200 won (1.707 won setara Rp23.000 per kg) di tingkat petani. Sementara harga buah kualitas terbaik 2.230 won setara Rp29.800 per kg. Harga rata-rata pada 2017 meningkat 200 won dari tahun sebelumnya.

Organik

Harga tinggi itu lantaran Seung Hoon menanam jeruk dengan sistem budidaya ecofriendly cultivation atau pertanian organik. “Hanya 3% pekebun jeruk di Jeju menghasilkan jeruk organik,” ujar Seung Hoon kepada Majalah Trubus. Ia mulai menggunakan sistem itu sejak 2015 melalui pelatihan yang diberikan Pusat Teknologi Pertanian Seogwipo. Seung Hoon pun berhenti menggunakan pestisida berbahan kimia.

Salah satu kebun percontohan di Seogwipo Agricultural Technology Centre.

“Baik pupuk maupun pestisida semuanya berbahan organik,” katanya. Ia meracik sendiri pupuk serta obat-obatan itu. Menurut Seung Hoon hal itu dapat menghemat biaya hingga 20%. Seung Hoon mengatakan, produksi jeruk hasil budidaya ecofriendly cultivation relatif stabil, yakni 30 ton setahun. Selain itu cita rasa jeruk lebih manis dan sehat. Ia meyakini sistem organik menjadikan lahan lebih sehat dan berumur panjang.

Oh Seung Hoon mengebunkan jeruk dengan sistem ecofriendly cultivation.

Seung Hoon juga merawat intensif seperti memangkas dan menjarangkan buah. Tujuannya agar buah berkualitas tinggi. Seung Hoon menuai 75% jeruk berkualitas super dan sisanya kategori standar. Ia menjual jeruk dengan jumlah pembelian minimal 10 kg. Pemerintah Provinsi Jeju menggalakkan pelatihan dan pendampingan bagi para pekebun untuk mendorong mereka mengadopsi sistem organik.

Pada umumnya pelatihan dan pendampingan itu selama 3 tahun dan gratis bagi para pekebun. Upaya lainnya yaitu dengan memberikan penghargaan khusus untuk kategori jeruk organik pada ajang Excellent Citrus di Jeju International Citrus Expo. Seung Hoon merupakan juara 1 pada kategori ecofriendly cultivation pada 2018. Jeruk miliknya memiliki tingkat kemanisan rata-rata 11,3o briks.

Pasar ekspor

Permintaan jeruk dari pasar domestik maupun internasional terus meningkat. Angka konsumsi jeruk Korea Selatan memang cukup tinggi. Data The Ministry of Agriculture, Food, and Rural Affairs (MAFRA) menunjukkan, angka konsumsi jeruk rata-rata di Korea Selatan mencapai 13,1 kg per tahun.

Menurut Direktur Pusat Teknologi Pertanian Seogwipo, Heo Jong Min, beberapa pekebun di Jeju juga berfokus menghasilkan jeruk berkualitas ekspor.

Data Korea International Trade Association menyebutkan sepanjang Oktober 2015 sampai September 2016 Korea mengekspor 2.852 ton jeruk keprok jeju. Jumlah itu justu menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 3.141 ton. Hal itu lantaran meningkatnya permintaan dari pasar domestik serta turunnya produksi yang diakibatkan cuaca. Kanada adalah negara importir jeruk Jeju tertinggi,

Jeruk jeju dijual dengan berbagai model kemasan.

Pada 2014-2015 Kanada hanya mengimpor 847 ton jeruk jeju dan pada 2015-2016 permintaannya meningkat menjadi 953 ton. Negara lainnya yang juga banyak mengimpor jeruk jeju yaitu Amerika Serikat dan Rusia. Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat itu, Pusat Teknologi Pertanian Seogwipo terus berupaya meningkatkan teknologi budidaya. Hal itu juga untuk mengatasi cuaca yang menyebabkan produksi jeruk di Jeju menurun.

Jeruk juara di Kontes Excellent Citrus, Jeju International Citrus Expo.

Penanaman jeruk di Jeju dimulai sejak tahun 1960. Ketika itu pemerintah Jeju menguji coba 12 jenis jeruk asal Cina. Jeju dipilih lantaran memiliki karakter cuaca yang unik meskipun berada di wilayah negara dengan 4 musim. Hasil uji coba itu buah jeruk kurang manis dan berukuran terlalu kecil. Sejak itulah Jeju berfokus untuk mendapatkan jenis yang lebih baik. Pengembangan jeruk di Jeju mulai gencar dilakukan pada 1988. Warga Jeju mulai tertarik melirik jeruk sebagai komoditas pertanian yang menguntungkan.

Jeju memang memiliki intensitas angin yang cukup kencang. Untuk mengatasi angin kencang itu maka pekebun jeruk di Jeju menggunakan sejenis screen. Kerapatan screen sekitar 80—90%. Gunanya untuk mengurangi angin kencang agar tidak merontokkan buah. Kendala lain kerusakan buah akibat cuaca dingin atau cool damage.

Pekebun jeruk di Jeju menyiasatinya dengan menggunakan plastik film berpori atau tyvek (dupon). Penggunaan sejenis mulsa berwarna putih ini juga untuk mempertahankan rasa manis pada buah jeruk. “Kalau terlalu banyak air maka kualitas buah akan menurun,” ujar peneliti senior di Citrus Research Institue, Kang Seokbeom, Ph.D.
Jeruk Jeju Terbaik

Sebuah monumen jeruk berbentuk dolhareubang—dari kata haraboji berarti kakek, do bermakna batu, patung batu ikon Pulau Jeju—setinggi 3 meter itu menyambut para pengunjung Jeju International Citrus Expo dari berbagai negara. Ekshibisi itu menjadi perhelatan akbar bagi para pencinta jeruk. Pameran dua tahunan itu berlangsung di Pusat Teknologi Pertanian Seogwipo (Seogwipo Agricultural Technology Centre) pada 7—13 November 2018.

Miniatur jeruk dengan berbagai bentuk pun bisa ditemui di sepanjang lokasi. Acara itu merupakan promosi Pemerintah Provinsi Seogwipo, Jeju untuk memasarkan jeruk hasil petani. Seluruh petani wajib mengirimkan hasil panen untuk dinikmati secara cuma-cuma oleh para pengunjung. Sementara untuk hasil panen dengan kualitas tinggi akan disertakan dalam kontes jeruk yang dibagi menjadi 2 kategori, yatu organik dan nonorganik. Petani dengan hasil panen terbaik selama 2 tahun terakhir berkesempatan memajang hasil panen dan profil dirinya.

Setidaknya ada 50 profil petani yang dilengkapi dengan informasi mengenai jenis jeruk yang ditanam, luas penanaman, tingkat kemanisan rata-rata, dan lokasi kebun. Iitu dianggap efektif untuk memasarkan hasil panen dan mencarikan pasar baru bagi para petani. Pengunjung juga dimanjakan dengan pameran berbagai produk jeruk, termasuk kosmetik berbahan jeruk andalan ekspor Jeju. (Rizky Fadhilah)

 

Tags: , , , , , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software