Padi Rawa Duo Dramaga untuk Borneo

Filed in Sayuran by on 31/12/2010 0 Comments

IPB 2R bakumpai adalah padi rawa baru hasil riset Dr Ir Hajrial Aswidinnoor MSc dan Willy Bayuardi MSi, keduanya staf pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB, Bogor. Menurut Hajrial nama bakumpai diambil dari nama umum Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, tempat seleksi dan pengujian varietas tersebut dilakukan. ‘Padi rawa itu hadir berkat kerja sama pemerintah daerah setempat dan Konsorsium Padi Nasional,’ ungkap Hajrial.

Selama ini petani padi rawa di Kalimantan, turun-temurun membudidayakan jenis lokal siam mutiara yang adaptif di lahan pasangsurut. Namun, siam tergolong padi sangat dalam, butuh waktu 9 – 10 bulan hingga panen. Tengok saja yang dilakukan Ajim, untuk penyemaian hingga bibit siap tanam butuh waktu 4 bulan. Setelah itu ia harus menunggu lagi hingga 5 – 6 bulan untuk memetik hasilnya. ‘Dalam satu tahun paling hanya satu kali tanam,’ tutur Hajrial.

Bandingkan dengan bakumpai yang lebih genjah: dipanen pada umur 110 hari setelah sebar (hss). Lamanya penyemaian cuma 18 – 20 hari. ‘Dengan bakumpai petani bisa menanam padi hingga 2 kali setahun, terutama di lahan rawa tipe luapan B dengan air tidak terlalu dalam,’ ungkap Hajrial. Keunggulan lain, produktivitas bakumpai lebih tinggi dibanding siam mutiara. Dari luasan

1 ha, dipanen 4,2 ton gabah kering giling (GKG) bakumpai dengan potensi hasil 5,1 ton GKG/ha. Siam mutiara hanya 2 – 3 ton GKG/ha.

Dadahup

Selain bakumpai, Hajrial dan Willy juga melepas padi rawa IPB 1R dadahup. Seperti bakumpai, nama dadahup diambil dari lokasi seleksi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Dadahup pun sama genjah dan berproduktivitas tinggi seperti bakumpai. Dadahup mampu dipanen pada umur 112 hst. Produksi per ha mencapai 4,1 ton GKG dengan potensi hasil 4,7 ton GKG/ha.

Menurut Hajrial program perakitan padi-padi rawa baru itu berlangsung sejak akhir 2004. Sebagai tetua betina, Hajrial dan Willy memanfaatkan padi lokal siam mutiara yang adaptif dengan kondisi lahan pasang surut di Kalimantan. Unggulan tetua betina itu: bentuk gabah ramping panjang disukai konsumen lokal dan gabah mudah rontok. Sementara varietas fatmawati, tetua jantan, mempunyai keunggulan: umur genjah, produksi tinggi, malai lebat, dan sosok fisik tegar.

Persilangan keduanya yang dilakukan di Kebun Percobaan IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, menghasilkan keturunan berkode IPB106. Populasi galur ini selanjutnya difiksasi (diteruskan beberapa generasi, red) dengan metode bulk. Dengan metode ini, F2 (generasi ke-2) hingga F4 ditanam tanpa dilakukan seleksi. Seleksi dan pengujian dilakukan pada generasi ke-5 sampai ke-8 di lahan rawa Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Dalam metode bulk, setiap generasi yang dihasilkan dipanen dan kemudian dicampur sebagai pertanaman generasi berikutnnya. Metode bulk dipilih lantaran lebih sederhana, mudah, dan tidak mahal. Pun pemilihan tanaman lebih mudah. Namun, kelemahannya membutuhkan waktu lebih lama dan areal percobaan yang lebih luas.

Prospektif

Seleksi baru dilakukan pada F5 yang ditanam pada 2005 – 2006. Musababnya pada generasi F5 proporsi populasi sudah homozigot alias keseragaman mencapai 90%. Individu yang tidak mampu menyesuaikan diri akan tersisih. Galur-galur itu diseleksi berdasar karakter vegetatif dan generatif. Pengujian dilakukan di 2 lokasi yakni di Dandajaya, Kabupaten Baritokuala, Kalimantan Selatan, dan Desa Petakbatuah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Hasilnya: terdapat sepuluh galur unggulan layak menjalani uji multilokasi.

Pada 2008 – 2009, bekerja sama dengan Konsorsium Padi Nasional, uji multilokasi selain di kedua kabupaten di atas, dilakukan pula di lahan sawah rawa di Sumatera Selatan dan Riau. Hasilnya diperoleh 2 galur unggulan berkode IPB106-F-25-DJ-1 yang dilepas dengan nama IPB 1R dadahup dan galur berkode IPB106-F-85-DJ-1 yang disemati nama IPB 2R bakumpai.

Menurut Ir Bambang Kustianto MS, periset di Balai Besar Penelitian Padi, Kementerian Pertanian RI, mekanisme adaptasi padi menghadapi cekaman rendaman yang kerap terjadi di rawa dilakukan melalui 2 cara. Mekanisme pertama melalui stem elongation ability dengan jalan memanjangkan batang mengikuti tinggi permukaan air sehingga terhindar dari kondisi tanpa udara atau anaerob. Cara kedua submergence tolerant yaitu menyimpan cadangan energi selama terendam dan tumbuh setelah air surut.

Strategi pertama cocok untuk daerah yang mengalami genangan jangka panjang, yang kedua, ampuh untuk menyiasati daerah yang terendam kurang dari 20 hari. Pemanjangan batang di daerah terendam sesaat, merugikan tanaman karena akan rebah setelah air surut. Bakumpai dan dadahup cocok untuk strategi kedua.

Sifat-sifat unggul kedua padi rawa itu diharapkan Hajrial dapat tersebar luas dan dimanfaatkan petani. ‘Supaya terjadi peningkatan produksi dan pendapatan petani terdongkrak,’ kata Hajrial. Ke depan, menurut Hajrial, keberhasilan perbaikan varietas padi lokal Kalimantan ini diharapkan mendorong pengembangan dan pemanfaatan padi lokal yang banyak bertebaran di tanahair. Hasil akhirnya, tercipta varietas padi unggul yang lebih genjah dan berproduksi tinggi, tapi tetap sesuai dengan selera konsumen. (Faiz Yajri)

Powered by WishList Member - Membership Software