Nila Dominan Jantan

Filed in Ikan konsumsi, Satwa by on 02/01/2013 0 Comments
Nila sultana hasil seleksi dari persilangan10 famili nila unggul

Nila sultana hasil seleksi dari persilangan
10 famili nila unggul

Nila baru dengan persentase jantan hingga 90%, pertumbuhan bongsor.

Ini pengalaman Budi Cahyono, peternak di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Pada awal 2012 ia menebar 25.000 bibit ukuran 2-3 cm di kolam 0,5 hektar. Selama 120 hari pemeliharaan dengan nilai kelulusan hidup 80%, Budi panen 8,4 ton dengan bobot nila rata-rata 420 g per ekor. Bandingkan dengan volume panen nila biasa, hanya 4,6 ton dengan jumlah tebar dan kelulusan hidup serupa.

Bobot rata-rata nila biasa setelah pemeliharaan 120 hari pun hanya 230 g per ekor. Artinya peningkatan produksi mencapai 54%. Budi Cahyono memperoleh volume panen besar setelah menebar nila GMT atau genetically male tilapia. GMT merupakan silangan jantan gesit dan betina sultana. Kedua induk itu memang unggul. Sultana mewariskan bobot besar, sedangkan gesit mewariskan persentase jantan di atas 90%.

Kunci sultana

Menurut Wahyu Setiawan, peternak nila di Tasikmalaya, persentase jantan pada peneluran nila biasa hanya 40-50%. Dalam dunia nila, jenis kelamin jantan amat penting. Sebab, nila jantan lebih cepat tumbuh daripada betina. Kecepatan tumbuh nila jantan lebih baik dibandingkan dengan betina hingga 50%. Sebagai contoh dari bobot 100 g menjadi 500 g nila betina butuh waktu 1 tahun. Sementara untuk jangka waktu yang sama bobot pejantan bisa mencapai 2 kg. Untuk mencapai bobot 500 g dari ukuran 100 g, nila jantan hanya butuh waktu 3 bulan.

Jaka Trenggana SPi, periset di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Sukabumi, Jawa Barat, menuturkan betina mengubah pakan menjadi telur untuk reproduksi. Saat telur menetas, ia akan mengerami anak-anaknya di mulut. “Praktis pertumbuhan betina terhambat,” katanya. Selisih 270 hari itu amat signifikan karena menghemat pakan dan mempercepat perputaran modal.

Menurut Dian Hardiantho SPi MSi, peneliti nila di BBPBAT, Sukabumi, Jawa Barat, kunci nila GMT sejatinya terletak pada betina sultana, akronim dari seleksi unggul selabintana. Kemunculan sultana dimulai pada 2005, bermula dari 10 strain sebagai sumber genetik seperti hasil persilangan antara nila taiwan dan G6 (generasi ke-6) dan nila citralada asal BBPBAT Sukabumi.

Sumber genetik lainnya; nila gift G3 asal Cangkringan, Yogyakarta; nila putih asal Sleman, Yogyakarta; dan nila JICA asal BBAT Jambi. Dari silangan induk-induk itu dipilih 5 strain unggul berdasarkan pertumbuhan dan rasio konversi pakan menjadi daging (FCR, food conversion ratio). Strain-strain itu selanjutnya menjalani uji multilokasi di Waduk Cirata di Kabupaten Purwakarta, Palabuhanratu (Sukabumi), dan Kabupaten Karawang-semua di Provinsi Jawa Barat.

Uji pemijahan dilakukan di Sukabumi dan Cianjur (Jawa Barat) dan Yogyakarta, serta Banjarnegara (Jawa Tengah). Hasilnya adalah nila betina sultana. Jika pejantan sultana dikawinkan dengan betina sultana, maka rasio jantan dan betina 50 : 50, 60 : 40, bahkan 40 : 60. Bandingkan jika betina sultana dikawinkan dengan pejantan gesit, menghasilkan 90% burayak jantan alias nila GMT.

Bongsor

Pengalaman Dian menunjukkan nila GMT mampu mencapai bobot 420 g dalam waktu 120 hari. Ukuran itu diperoleh dari tebar 2-3 cm. Bandingkan dengan nila biasa hanya mencapai bobot 230 g dengan perlakuan sama. “Bobotnya bahkan ada yang sampai 600 g,” kata Dian. Pakan yang diberikan, misalnya, berkadar protein 28%.

Bukti lain mengenai kecepatan tumbuh silangan gesit dan sultana tersaji saat Dian menguji di kolam berukuran ¼ ha di daerah Indaramayu, Jawa Barat. Sebanyak 1,5 kuintal silangan gesit dan sultana berukuran 5-8 cm ditebar. Hasilnya, dalam jangka waktu 3 bulan mampu dipanen 13 kuintal nila dengan ukuran 200 g atau sekilo isi 5 ekor. Hasil itu diperoleh lewat pemberian pakan minimalis, hanya mengandalkan pakan alami berupa klekap, lumut, plankton ataupun ganggang.

Selain kecepatan tumbuh, kemampuan reproduksi sultana juga tinggi. Menurut Denny Rusmawan, pembenih nila di Sukabumi, perkawinan 100 jantan gesit dan 300 betina sultana menghasilkan 10-12 liter larva. Setiap liter terdiri atas 20.000 larva. Bandingkan jika Denny menyilangkan gesit dengan nila lokal lain. “Hasilnya sekitar 8-9 liter larva,” tuturnya.

Selain itu silangan gesit dan sultana atau GMT tahan serangan patogen. “Tingkat kematian pembesaran silangan gesit dan sultana saat musim hujan di karamba jaring apung hanya 2-3%,” tutur Denny. Tingkat kematian silangan lain biasanya mencapai 5% karena daya tahan tubuh ikan menurun sehingga rentan serangan penyakit.

Berkat seabrek keunggulan itu tidak heran GMT menjadi incaran peternak di seantero Nusantara. Menurut Dian permintaan nila mencapai 200-300 paket per tahun. Satu paket terdiri dari 100 ekor pejantan gesit dan 300 betina sultana. Setali tiga uang, Deni pun kebanjiran pesanan. Saban pekan ia mengirim 300.000 larva dan nila ukuran 2-3 cm ke berbagai daerah. Sejatinya, “Permintaan mencapai 1-juta ekor per minggu’” kata Denny.

Pantas bila Dr Ir Slamet Soebjakto MSi, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, menyatakan kehadiran GMT dengan memanfaatkan betina unggul sultana dan jantan gesit mendorong industrialisasi budidaya nila. “Bobot 500-600 g mampu dicapai 4-5 bulan membuatnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku filet, kulit untuk bahan baku tas,” tutur  Slamet. Pertumbuhan yang cepat membuat peternak tidak perlu menunggu terlalu lama untuk meraup keuntungan dari  budidaya nila. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

 

Keterangan Foto :

  1. Nila sultana hasil seleksi dari persilangan 10 famili nila unggul
  2. Dian Hardiantho SPi MSi dan Jaka Tranggana SPi MSi, membidani kehadiran nila sultana
  3. Silangan betina sultana dan pejantan gesit hasilkan 90% burayak jantan
  4. Denny Rusmawan, GMT tahan serangan patogen
  5. Kehadiran nila dominan pejantan dinanti peternak untuk mengisi kolam

Powered by WishList Member - Membership Software