Ngata’i: Rejeki dari Pakan burung

Filed in Majalah, Profil by on 05/02/2018
Ngata'i beternak ulat hongkong sejak 2010.

Ngata’i beternak ulat hongkong sejak 2010.

Beternak ulat hongkong sebagai mata pencaharian.

Ribuan ulat menggeliat-geliat ketika Ngata’i membuka laci. Dengan sepasang tangannya, ia meraup kumpulan ulat itu dan meletakkannya di atas penyaring. Perlahan ia mengayak ulat-ulat yang di kenal dengan sebutan ulat hongkong itu dari sisa pakan dan kotoran. Ulat yang biasanya diberikan untuk pakan burung berkicau itu, lalu ia masukan ke dalam kotak pengiriman. Seminggu sekali, ia mengirim larva kumbang itu kepada pengepul langganan yang rutin membeli hasil ternakannya.

Hal itu ia lakukan sejak 2010, setelah hampir setengah tahun mempelajari teknik mengembang biakkan anak kumbang tersebut. Sebelumnya, Ngata’i mengandalkan jasa reparasi perangkat elektronik sebagai penyambung hidup. Perubahan sistem perakitan dari pabrik dan banyaknya produk dengan harga terjangkau membuat kondisi berubah. Orang tidak lagi mengandalkan jasa reparasi ketika piranti mereka rusak, melainkan memilih membeli baru. Akibatnya penghasilan ayah 2 anak itu merosot drastis sehingga ia harus mencari sumber nafkah lain.

579-98-3

Budidaya Ulat

Atas saran seorang rekan, Ngata’i mempelajari budidaya ulat hongkong pada pertengahan 2009. Ia belajar sembari langsung praktek. Sebagai modal untuk  membeli 7 kg ulat sebagai bibit dan perlengkapan memelihara, Ia rela menjual perhiasan milik keluarganya.

Bibit-Bibit itu kemudian menjadi kepompong,keluar menjadi kumbang dewasa, lalu memijah. Telur-telur hasil pemijahan menetas menjadi ulat. Ulat-ulat itu ia besarkan sampai menjadi kumbang indukan, demikian seterusnya. Akhir 2009, ia mampu memproduksi 40—50 kg ulat per minggu.

579-58-1Dengan harga saat itu rata-rata Rp15.000 per kg, ia mengantongi omzet Rp2,4 juta—Rp3 juta per bulan. Minus biaya pembelian pakan, hasilnya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Apalagi kedua puterinya waktu itu masih bersekolah. Akhirnya pada 2011, ia memutuskan menjual sepeda motor sebagai modal menambah indukan dan sarana pendukung, seperti kotak pemeliharaan dan jaring selubung. Produksinya kemudian meningkat menjadi 150 kg per minggu atau 6 kuintal per bulan.

Sejak itu secara bertahap Ngata’i terus menambah produksi. Ia meletakkan rak pemeliharaan di emper rumah. Tanpa naungan penuh, hanya mengandalkan ujung atap rumah, sebagian rak selalu terciprat air ketika hujan turun. Tentu saja rak dan kotak di dalamnya menjadi lapuk berjamur. Sudah pasti ulat dalam kotak pemeliharaan pun mati terserang cendawan. “Tingkat kematian tinggi, hampir 50%,” kata suami Nasipah itu. Akhirnya pada 2012, ia memperluas tempat pemeliharaan ke rumah kosong di sebelah rumahnya sendiri.

Ulat yang menjadi kepompong.

Ulat yang menjadi kepompong.

Dengan izin pemilik lahan, rumah kosong itu Ngata’i rubuhkan lalu sisa fondasinya ia manfaatkan untuk menaruh rak pemeliharaan ulat hongkong. Sebagai pelindung, ia membentangkan terpal. Ternyata cara serba darurat itu efektif mendongkrak tingkat keberhasilan hidup ulat hingga lebih dari 90%. Itu sebabnya pada 2013, ia memberanikan diri membeli lahan milik tetangganya itu. Sebagai tambahan dana, ia mengambil kredit usaha rakyat (KUR) dari BANK BRI. Sejak itu usaha Ngata’i meningkat pesat. Produksinya mencapai 1 ton ulat per bulan.

Tempat pemeliharaannya pun berkembang. Jika semula hanya beratap terpal tanpa dinding, perlahan meningkat menjadi bangunan permanen berdinding bata dengan atap asbes. Bahan atap yang cenderung meneruskan panas matahari itu cocok dengan iklim Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, yang sejuk cenderung dingin. “Ulat hongkong memerlukan suhu optimal 27—280C,” kata pria berusia 55 tahun itu. Terlalu dingin, tingkat kematian meningkat karena ulat rentan serangan penyakit. Terlalu panas, produksi telur menurun.

Kumbang mealworm, induk ulat hongkong.

Kumbang mealworm, induk ulat hongkong.

Pakan pengganti

Setiap hari, Ngata’i, Nasipah, dan seorang tenaga pembantu bahu-membahu menjalankan budidaya ulat hongkong. Mencampur dan mengaduk campuran pakan, memberikan kepada ulat, dan mensanitasi lokasi kandang hanya sebagian dari pekerjaan yang harus dilakukan. Yang paling merepotkan, menurut Ngata’i, adalah memeriksa sekitar 1.000 kotak, satu per satu setiap hari, untuk mencari dan membuang ulat yang mati. “Ulat mati yang tidak dibuang bisa menyebabkan kematian semua ulat di kotak yang sama,” katanya.

Saat ini Ngata’i memiliki sekitar 1.000 kotak pemeliharaan yang ia bagi agar bisa panen setiap minggu. Periode pemeliharaan telur hingga menjadi ulat siap jual memerlukan 9 minggu. Setiap kotak menghasilkan 2—3 kg, atau total 250 kg ulat setiap minggu. Dengan harga Rp25.000 per kg, ia meraup omzet lebih dari Rp20-juta per bulan. Soal pasar, ia tidak khawatir. Hubungan baik yang terjalin dengan pengepul langganan cukup menjadi jaminan. Sang pengepul justru banyak membantu pengembangan usaha Ngata’i.

Ngata’i juga menerima masukan dari rekan yang dahulu menjual bibit, salah satunya soal pakan. Sebelumnya ia hanya mengandalkan pakan kering jenis pollard yang merupakan limbah dari penggilingan gandum menjadi terigu. Kebutuhan pakan minimal 4 kali kapasitas kotak peliharaan. Kotak yang ia gunakan berukuran 60 cm x 120 cm dengan tepian setinggi 5 cm berkapasitas 5 kg ulat. Artinya, setiap kotak memerlukan 20 kg pakan sejak awal hingga panen. Atas saran sang rekan, ia mengganti sebagian pakan dengan bahan limbah organik antara lain ampas tahu, singkong afkir  atau pepaya muda dari pedagang pasar.

Jaring selubung mencegah masuknya hama pengganggu.

Jaring selubung mencegah masuknya hama pengganggu.

Dengan pakan pengganti itu, Ngata’i bisa memangkas separuh kebutuhan pollard. Harga pakan basah jauh lebih murah sehingga margin labanya meningkat. Untuk membuat campuran sempurna antara pakan basah dengan pollard, ia membuat 2 mesin pembantu. Mesin pertama adalah pencacah atau perajang, dan mesin pengaduk. Mesin pencacah mampu melumat bahan keras seperti singkong, bahkan batang pohon singkong atau pohon pepaya sekalipun. Bahan pakan basah itu tercacah menjadi potongan kecil sekeluarnya dari mesin perajang.

Potongan kecil itu mempermudah pencampuran di mesin pengaduk. Mesin-mesin bertenaga listrik dengan rangka kayu itu ia rancang dan buat sendiri sehingga biayanya efisien. Kemampuan itu mendatangkan rezeki tambahan bagi Ngata’i. Ia kerap melayani pesanan pembuatan mesin dari sesama peternak, baik ulat hongkong maupun komoditas lain yang memerlukan pemberian pakan basah. “Pembeli mesin kreasi sendiri itu dari berbagai daerah di Jawa, bahkan pernah dari Lampung juga,” katanya.

Pantang menyerah

Pengusahaan komoditas apa pun tidak lepas dari kendala. Janji laba berlipat dari usaha ulat hongkong memikat banyak pendatang baru. Mereka berlomba-lomba menernak tanpa memperhitungkan daya serap pasar. Akibatnya, harga anjlok dari rata-rata Rp20.000 per kg menjadi hanya Rp10.000 per kg. Padahal, “Harga Rp11.000 per kg baru impas,” ungkap Ngata’i. Itu terjadi selama hampir setahun, yaitu pada 2014—2015. Ia mampu bertahan karena selain menggunakan bahan pakan tambahan untuk menekan biaya, Ngata’i juga menggunakan tempat milik sendiri sehingga tidak perlu membayar biaya sewa.

Kontes dan hobi kicauan memicu permintaan ulat hongkong.

Kontes dan hobi kicauan memicu permintaan ulat hongkong.

Tidak urung kondisi itu membuat modalnya terkikis menjadi sangat tipis. Untungnya kondisi perlahan membaik lantaran banyak peternak yang baru terjun tidak bertahan. “Pendatang baru belum efisien biaya sehingga pengeluaran cenderung tinggi. Ketika harga anjlok, mereka cepat kehabisan modal atau cepat beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan,” kata Ngata’i. Berkurangnya jumlah peternak mengakibatkan pasokan ulat hongkong di pasar juga berkurang sehingga harga kembali naik.

Kendala lain yang tidak bisa ia kendalikan adalah cuaca. Hujan berhari-hari menyebabkan kelembapan tinggi sehingga tingkat kematian melonjak. Kalau sudah begitu, mau tidak mau ia mengurangi jumlah pengiriman karena memang produksi merosot. Toh, semua aral itu tidak membuat Ngata’i jeri. Ia yakin peluang ulat hongkong masih terbuka luas, selama orang masih gemar memelihara burung berkicau. (Argohartono Arie Raharjo)

Kuis Tabungan BRI Simpedes

Kuis Tabungan BRI Simpedes

Tags: , , , , , , , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software