Musuh Stroke di Kulit Manggis

Filed in Topik by on 31/10/2011

 

Penyumbatan aliran darah ke otak penyebab stroke sumbatan (kanan) dan pembuluh darah otak bocor penyebab stroke pendarahan (kiri)Hipertensi dapat memicu beragam penyakit yang berkaitan dengan kardiovasulerMalam itu, awal April 2011, Maria Lim Phiong merasa tubuhnya bak melayang. Tiga jam sebelumnya, tepatnya pukul empat sore, ia sudah merasakan sesuatu tidak beres di tubuhnya. “Ketika mau ke gereja, tangan sebelah kanan tiba-tiba terasa ringan seperti tak bertenaga,” ujar ibu 4 anak itu yang tetap nekat pergi ke gereja. Pukul 19.00 saat tiba kembali di rumah, sekujur tubuhnya terasa tak bertenaga. Warga Bandar Lampung, Provinsi Lampung, itu berjalan sempoyongan.

Bahkan, ia nyaris tak bisa menggerakkan tangan kanannya sama sekali. Thufatex, sang suami, buru-buru menuntun Maria ke kamar. Keesokan harinya Thufatex memeriksakan Maria ke dokter karena khawatir sang istri terkena stroke. Hasilnya tekanan darah perempuan 45 tahun itu jauh di atas ambang normal, tekanan darah sistolik 230 mmHg, semestinya 120 mmHg. Diagnosis dokter, Maria mengalami stroke ringan.

Karena melahirkan

Tingginya tekanan darah Maria sudah muncul sejak 8 tahun silam. Ketika itu perempuan yang sehari-hari membuat dodol itu baru saja melahirkan putra ke-4. “Tekanan darah sistolik mencapai 250 mmHg,” tutur Thufatex. Sejak itu Maria mengurangi konsumsi makanan berlemak dan banyak mengandung garam.

Hingga pada April 2011 itu Maria tak kuasa menolak godaan mencicipi daging, oleh-oleh kerabat. “Saya menghabiskan 6 potong sosis daging babi hutan, buah tangan salah seorang kerabat,” ujarnya. Menurut dr Nano Sukarno di Garut, Jawa Barat, daging babi hutan kaya lemak jenuh dan kolesterol yang dapat menyebabkan tekanan darah naik.

Hal serupa juga terungkap pada penelitian Dr Grace Debbie Kandau dari Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara. Dalam riset itu disebutkan, daging babi hutan termasuk salah satu makanan paling berisiko menyebabkan penyakit jantung koroner (PJK).

Menurut periset di Politeknik Kesehatan Semarang, Jawa Tengah, Muflihah Isnawati, selain konsumsi makanan berlemak dan garam, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi peningkatan tekanan darah seperti merokok, konsumsi alkohol berlebih, obesitas, stres, kurang asupan kalium dan serat, serta jarang berolahraga.

Seiring bertambah usia, peluang munculnya hipertensi semakin besar. “Semakin tua seseorang, struktur pembuluh darahnya pun mengalami perubahan,” ujar Muflihah. Selain itu, kehamilan juga diduga dapat memicu naiknya tekanan darah pada sebagian orang. Kondisi seperti itu disebut pregnancy induced hypertension seperti yang pernah dialami Maria.

Stroke

Menurut dr Yuda Turana SpS, hipertensi adalah pemicu utama stroke, terutama stroke sumbatan. Jika tekanan darah seseorang sangat tinggi, serangan stroke umum mengikuti. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan stroke akibat hipertensi dapat diminimalisir asalkan diterapi aktif.

Stroke terjadi karena asupan oksigen dan nutrien ke otak terhambat sehingga sel otak mati. Naiknya tekanan darah tak terkendali menimbulkan stroke karena merusak dan melemahkan pembuluh darah otak. Dampaknya pembuluh darah menyempit, sobek, atau bocor. Tekanan darah tinggi juga dapat memicu terbentuknya gumpalan darah di arteri yang menyumbat aliran darah ke otak dan berujung stroke.

Berdasarkan data Bethesda Stroke Center, semakin tinggi tekanan darah makin tinggi pula risiko terserang stroke. Kenaikan kadar kolesterol darah juga dapat meningkatkan risiko stroke. Angka stroke meningkat pada pasien yang memiliki kadar kolesterol di atas 240 mg/dl. Tiap kenaikan kolesterol 38,7 mg/dl, maka potensi terserang stroke meningkat 25%. Namun, kenaikan high density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik 1 mmol setara 38,7 mg/dl menurunkan risiko stroke 47%.

Gejala stroke antara lain, mati rasa atau tiba-tiba merasa lemah di wajah, lengan, atau kaki, terutama di satu sisi tubuh saja. Gejala lain yaitu pandangan tiba-tiba buram, sulit berbicara, bingung, dan kehilangan keseimbangan saat berjalan. Gejala-gejala itu bervariasi tergantung jenis stroke yang dialami – sumbatan atau pendarahan, lokasi stroke serta tingkat keparahannya.

Stroke juga dapat terjadi tiba-tiba maupun bertahap selama beberapa jam dengan gejala awal tubuh terasa lemas diikuti tangan atau kaki yang tak bisa digerakkan. Celakanya, sebagian orang menganggap sepele gejala stroke ringan dan salah mengartikannya dengan gejala penuaan.

Obat tradisional

Meski didiagnosis stroke, Maria memilih menjalani perawatan di rumah dengan pengobatan tradisional dan terapi akupuntur. Namun, belum sampai sepekan, tubuh Maria justru semakin lemas dan sulit digerakkan. Akibatnya, Maria hanya terbaring lunglai di tempat tidur. Kondisi itu membuat Thufatex membawa Maria ke rumah sakit. Di sana pemeriksaan yang dilakukan lebih lengkap meliputi tekanan darah, kadar kolesterol darah, computed tomography (CT) scan, hingga kondisi ginjal dan hatinya.

Beruntung organ otak, ginjal, dan hati Maria setelah diperiksa dalam kondisi baik, meski stroke tak selalu terdeteksi melalui CT scan. Pada beberapa kasus, otak yang mengalami stroke belum terlihat abnormal pada beberapa jam awal pascaserangan. Kasus lain, daerah otak yang terkena stroke terlalu kecil sehingga sulit terlihat saat dipindai dengan sinar X itu. Stroke di daerah yang tak dapat terlihat melalui CT scan, misalnya cerebellum, juga memungkinkan tak terdeteksi. Untuk mendapat hasil lebih akurat perlu pemeriksaan dengan metode magnetic resonance imaging (MRI).

Menurut Thufatex, dokter selanjutnya memberikan 3 macam obat. “Yang saya ingat ada obat saraf dan obat penurun tekanan darah yang diminum 2 kali sehari,” ujar Thufatex. Maria pun menjalani perawatan di rumah sakit selama 3 hari.

Kulit manggis

Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, tampak sedikit perbaikan. Tubuh Maria lebih bertenaga, tetapi tangannya tetap tak dapat digerakkan. Tekanan darahnya pun masih tinggi, mencapai 210 mg/dl. Ketika beragam cara telah dicoba itulah Thufatex akhirnya teringat pada jus kulit manggis.

Pria 49 tahun itu tengah rutin mengonsumsi jus kulit manggis karena sering merasa nyeri di dada dan persendian. “Saya minum rutin sejak awal 2011 atas saran seorang rekan. Mengapa tidak saya coba untuk stroke?” ujarnya. Ia pun membeli 1 dus jus kulit manggis terdiri atas 6 botol. Maria mengonsumsi 2 sloki setara 30 ml jus Garcinia mangostana tiga kali sehari. Baru 4 hari mengonsumsi, Maria mulai bisa bangun dan duduk. Ia mampu menggerakkan kakinya yang lemah.

Setelah 24 hari mengonsumsi terjadi kemajuan besar. “Saya sudah kuat berjalan dan tangan saya pun mulai dapat digerakan sedikit-sedikit,” ujar Maria.

Berdasar penelitian Hasyim As’ari SKep Ns MKed, kulit manggis memiliki efek antihiperkolesterolemia. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, itu menguji coba ekstrak kulit manggis pada tikus putih jantan umur 3 – 4 minggu yang diinduksi MDTL, senyawa pemicu hiperkolesterolemia.

Pemberian ekstrak kulit manggis selama 7 hari itu membuktikan bahwa ekstrak kulit mangostan berbagai dosis dapat menurunkan kadar kolesterol total dan low density lipoprotein LDL atau kolesterol jahat serum tikus. Tikus yang diberi ekstrak kulit manggis 50 mg per kg bobot tubuh dan 150 mg/kg BB, juga menunjukkan peningkatan kadar HDL.

Menurut Hasyim, penurunan kadar kolesterol itu terkait dengan mangostin, salah satu senyawa xanthone di kulit manggis. “Mangostin menghambat pelepasan prostaglandin E,” ujar Hasyim. Prostaglandin E berperan menghambat sintesis cAMP yang ujung-ujungnya menurunkan proses lipolisis atau pemecahan lemak. Pendek kata dengan penurunan lipolisis kadar very low denstity lipoprotein VLDL dan intermediate density lipoprotein IDL turun. Akibatnya, kadar LDL dalam sirkulasi darah pun turun. Menurut American Stroke Association (ASA), penurunan kadar kolesterol dalam darah menurunkan risiko stroke lanjutan pada penderita stroke ringan.

Para peneliti di Departemen Farmakologi dan Toksikologi, Medical University School, Janczewskiego, Polandia, Rajtar Grazyna dan rekan membuktikan 5 senyawa turunan xanthone menghambat pembentukan gumpalan darah. Senyawa-senyawa itu menghalangi bersatunya lempengan-lempengan darah yang diinduksi oleh trombin sehingga mencegah gumpalan darah. Jika pembentukan gumpalan darah dapat tercegah, risiko stroke pun berkurang.

Riset Wang Li Wen dan para peneliti dari berbagai universitas di Taiwan, beberapa senyawa turunan xanthone terbukti bersifat antihipertensif alias menurunkan tekanan darah dan memiliki efek vasorelaksasi atau menurunkan tekanan pada pembuluh darah. Pengalaman Maria mengonsumsi jus kulit manggis selama hampir sebulan juga membuktikan hal itu. “Tekanan darah saya turun menjadi sekitar 170 – 180 mmHg,” ujarnya bahagia. (Tri Susanti/ Peliput: Desi Sayyidati Rahimah & Faiz Yajri)

Powered by WishList Member - Membership Software