Dewi Venus dipuja bangsa Romawi
lantaran kecantikan dan kebaikan
hatinya yang penuh cinta. Namun,
bagi para serangga venus justru
menjadi malaikat pencabut nyawa.
Kecantikannya hanyalah pemikat yang
mengantarkan mereka menuju gerbang
kematian.
Dialah venus fly trap alias Dionaea
muscipula. Sosok tanaman pemangsa
serangga itu memang indah. Pada
setiap daun terdapat sepasang cuping
berwarna merah mencorong atau hijau
muda. Di bagian tepi terdapat bulu-bulu
halus, persis kelopak mata. Susunan
daun yang tampak roset membuat
penampilan anggota famili Droseraceae
itu kian menawan. Pantas bila sebutan
venus yang melambangkan kecantikan
itu disematkan pada kerabat drosera itu.
Tak hanya keindahannya yang membuat
para serangga tergoda untuk hinggap.
Dari permukaan cuping menguar aroma
nektar yang menggiurkan. Begitu
serangga menjejakkan kaki, setengah
detik kemudian kedua cuping itu
mengatup menjebak mangsa. Dalam
waktu sesingkat itu tak satu pun mangsa
mampu meloloskan diri.
Enzim
Setelah itu barulah enzim yang dihasilkan
kelenjar di permukaan cuping bekerja.
Enzim itu mengurai tubuh sang mangsa
menjadi protein yang nantinya diserap
tanaman untuk pertumbuhan. Setelah
'makanan' benar-benar habis, cuping
membuka dan kembali bersiap menjebak
mangsa. Begitulah cara dionaea bertahan
hidup di habitat aslinya di alam. Maklum,
seperti halnya tanaman karnivora lain,
mereka hidup di lahan yang minim hara
dan mineral.
Dionaea adalah tanaman pemangsa
sesungguhnya. Ia menggunakan 'senjata'
sepasang cuping untuk menangkap
serangga. Namun, cara kerja cuping
menjebak mangsa hingga kini belum
diketahui secara pasti. Kemungkinan
sepasang cuping itu mengatup setelah
serangga menyentuh rambut-rambut
halus yang berada di permukaan bagian
dalam cuping. Rambut-rambut itu ibarat
sensor yang memicu aktivitas sel-sel
pada pangkal cuping sehingga menutup
dengan cepat.
Beragam keunikan dionaea juga
membangkitkan minat para hobiis
untuk membudidayakannya. Kunci
keberhasilan budidaya dionaea adalah
lingkungan yang sesuai dengan habitat
aslinya di alam. Salah satunya adalah
menanam dionaea pada media lembap,
tetapi jangan sampai tergenang. Kondisi
media tergenang dapat menyebabkan
busuk akar dan akhirnya mati. Media
juga jangan dibiarkan terlalu kering. Agar
kelembapan media terus terjaga, letakkan
pot dalam wadah berisi air setinggi 1 cm.
Air hujan
Namun, jangan sembarangan
menggunakan air. Seperti tanaman
karnivora lainnya, dionaea sangat peka
terhadap kemurnian air. Musababnya,
di habitat aslinya mereka hanya disirami
air hujan yang kandungan hara atau
mineralnya rendah. Oleh sebab itu, satusatunya
cara untuk memenuhi kebutuhan
air dionaea adalah dengan menampung
air hujan pada tangki atau kolam.
Tanaman penjebak serangga itu juga
sangat peka terhadap kondisi media
tumbuh. Di habitat aslinya mereka
hidup di tanah minim hara dan mineral.
Akibatnya sistem perakaran mereka tidak
mampu menyerap air atau mineral jika
konsentrasinya dalam tanah terlalu tinggi.
Oleh sebab itu dionaea membutuhkan
media asam yang kandungan haranya
rendah seperti campuran kompos
sphagnum, perlit, dan pasir silikat
yang tidak mengandung ion, dengan
perbandingan 2:1:1.
Dorman
Venus fly trap berasal dari daerah beriklim
sedang. Ia mengalami masa dormansi
pada musim dingin. Sayangnya iklim
seperti itu tidak terjadi di kawasan
tropis. Sedangkan dormansi salah satu
bagian dari siklus hidup dionaea. Bila
tidak melewati fase itu, tanaman akan
melemah dan akhirnya mati.
Agar dionaea mengalami dormansi,
simpan tanaman di dalam lemari
berpendingin selama 3-4 bulan.
Sebelum disimpan, pastikan media
yang digunakan berdrainase baik
sehingga tidak terlalu basah atau sampai
tergenang. Beberapa bulan setelah
dorman, tanaman kembali tumbuh, lebih
vigor, dan berbunga.
Di habitat aslinya, Dionaea muscipula
tumbuh menghampar tanpa naungan.
Itulah sebabnya ia menyukai sinar
matahari langsung. Begitu juga bila
dibudidayakan. Sebaiknya tanaman
disimpan di tempat terbuka. Selain
tanaman tampak lebih vigor, warna
tanaman juga lebih mencorong sehingga
penampilannya lebih menarik. Cuping
dionaea juga mengatup lebih cepat
sehingga mangsa tak akan sanggup
meloloskan diri.
Bila kelima kondisi itu terpenuhi, dionaea
akan tumbuh subur. Setiap tanaman
dewasa menghasilkan 30 cuping jebakan
dan panjang daun mencapai 15 cm. Ia
berbunga setahun sekali yakni ketika
musim semi. Sekali berbunga bisa
menghasilkan 40 kuntum.
Sayangnya para hobiis yang merawat
dionaea dari biji mesti bersabar
menunggu 3-6 tahun hingga dewasa.
Para ahli hortikultura menduga
lambannya pertumbuhan akibat aktivitas
cuping saat menjebak mangsa. Ketika
itulah tanaman kehilangan banyak energi.
Apalagi tidak setiap saat jebakan itu
berhasil menangkap mangsa. Makanan
melayang, energi pun hilang.
Lamban
Meski dionaea tergolong tanaman
karnivora, jangan sekali-kali memberikan
daging atau makanan lainnya kepada
dionaea. Tidak semua makanan bisa
dicerna enzim yang dikeluarkan olehnya.
Langkah seperti itu bukannya menambah
energi, malah tanaman akhirnya mati.
Maraknya pembudidaya bukan hanya
menyelamatkan dionaea dari kepunahan.
Dari tangan merekalah aneka jenis
kultivar baru lahir. Jumlah kultivar baru
yang terdaftar di International Carnivorous
Plant Society terus bertambah dalam
beberapa tahun terakhir. Salah satu
yang paling spektakuler adalah 'clayton
reds' yang daunnya berwarna ungu
kemerahan.
Varian lainnya adalah dionaea yang
seluruh daunnya berwarna hijau
kekuningan tanpa semburat merah sama
sekali. Ada juga kultivar yang mengalami
mutasi. Pada bagian tepi cuping hanya
bergerigi menyerupai ujung gergaji.
Itulah sebabnya ia dinamakan 'sawtooth'.
Lazimnya tepi cuping itu berupa rambutrambut
halus. Dengan perawatan tepat,
aneka keunikan itu dapat dinikmati
sepanjang hayat.*** |