Memburu Madu Pahit

Filed in Eksplorasi by on 31/05/2011

 

Daun pohon pelawan berkhasiat menurunkan demam tinggiBunga pelawan sumber nektar bagi lebah hutanSuasana di hutan Merawang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi  Bangka Belitung, gelap. Pada siang itu sinar matahari terhalang oleh tajuk pepohonan yang rapat. Namun, pohon pelawan tampak mencolok karena berwarna merah terang. Di sekitar pohon-pohon pelawan itulah Joe Iwan memanen madu lebah hutan Apis dorsata. Mula-mula ia menebas batang-batang pias – tanaman anggota famili jahe-jahean – yang masih segar.

Laki-laki 30 tahun itu membungkus ranting-ranting kering dengan batang-batang pias dan mengikatnya dengan batang tanaman menjalar yang kuat. Dari dalam saku bajunya, ia mengambil buah kelapa sawit yang kering dan menyulutnya dengan korek api. Seketika buah yang mengandung minyak itu menyala. Joe membakar ranting kering sehingga menimbulkan asap pekat dan membawanya ke dalam hutan melalui jalan setapak. Tak lebih dari 50 meter, ia sampai di lokasi sarang lebah berketinggian hanya 1,7 meter dari permukaan tanah.

Puluhan ribu lebah bergerombol menjaga sarang berbentuk setengah lingkaran. Namun, ketika Joe datang dan mendekatkan gulungan pias, lebah-lebah hutan beterbangan meninggalkan sarang. Suara gemuruh. “Ke sini, aman kok,” kata Joe mengajak wartawan Trubus yang bersembunyi di balik pohon berjarak 2 meter dari sarang lebah. Namun, berada di sisi Joe yang mengasapi sarang, tak dapat bernapas. Kepulan asap tebal menyesakkan dada. Puluhan ribu lebah itu pergi hanya dalam hitungan menit. Beberapa ekor tersisa di permukaan sarang.

Ketika itulah Joe memisahkan sarang lebah berbentuk setengah lingkaran dari kayu sepergelangan tangan. Ia memanfaatkan “sembilu” atau pisau terbuat dari kayu pelawan untuk memisahkan sarang dari rekatan kayu. Kemudian ia memotong sarang berisi madu di sisi sarang induk. Ukuran sarang madu hanya sejengkal. Cairan madu yang cokelat kemerahan menetes dari sarang itu. Ayah tiga anak itu menyimpannya di sebuah stoples. Joe mengatakan dari sebuah sarang ia dapat mengumpulkan maksimal 11 kg madu.

Dari Hutan Merawang,  Joe melanjutkan panen di hutan Aitugang, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat. Dari tepi jalan raya, Joe berjalan kaki selama 50 menit menerobos hutan pelawan. Ia kembali melakukan prosesi seperti semula: mengasap lebah dan memanen madu. Posisi sarang juga relatif rendah, kurang dari 2 meter di atas permukaan tanah. Itulah hasil jerih payah Joe memasang sunggau untuk memancing lebah bersarang. Sunggau mirip gawang di lapangan sepak bola.

Bentuk sunggau sederhana, tersusun dari batang kayu tertentu seperti pelawan Tristania mainganyi, bintangur Calophylum inophyllum, medang Litsea firma, atau ramin Gonystylus bancanus. Dua batang vertikal menyangga batang horizontal yang agak miring. Menurut ahli lebah dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Ir Kasno Kartosentono MSc, lebah hutan menghendaki kemiringan 150.

“Kemiringan cabang itu dipilih agar sarang dapat menahan beban madu yang berat. Sarang madu terkonsentrasi di ujung sarang yang posisinya lebih tinggi,” kata Ketua Dewan Pakar Asosiasi Perlebahan Indonesia, Ir H Bambang Soekartiko. Di batang horizontal yang miring itulah lebah hutan membangun sarang. Pemasangan sunggau jauh-jauh hari sebelum musim berbunga tiba. Joe, misalnya, memasang 60 sunggau selama Januari – Maret 2011. “Tahun ini waktu saya tersita membangun rumah,” kata Joe yang membiayai pembangunan rumah dari hasil menjual madu hutan.

Biasanya ia memasang hingga ratusan sunggau per tahun. Menurut Samsuni, pemburu madu hutan di Namang, Kabupaten Bangka Tengah, tak semua lokasi cocok untuk memasang sunggau. Ia dan rekan-rekannya memasang sunggau di area yang agak terbuka sehingga lebih terang dibanding lokasi di sekitarnya. Mereka menyebut lokasi itu senap. Senap ada di tengah hutan, bukan di tepian hutan. Pertimbangan lain? “Sesuai naluri saja,” kata Samsuni. Setelah memasang sunggau, mereka meninggalkan begitu saja sampai kawanan lebah membangun sarang di kayu yang miring tadi.

Memang pada akhirnya tak semua sunggau dijadikan sebagai lokasi sarang lebah. Hingga 1 Mei 2011, hanya 20 sunggau milik Joe telah terisi sarang lebah. Ia belum mengecek sunggau-sunggau lain.  Dari jumlah itu, ia telah memanen 6 sunggau yang semuanya menghasilkan madu pelawan. Menurut Joe, dari 10 sunggau yang terpasang rata-rata 6 sunggau terisi sarang lebah.

Kegagalan lebah bersarang biasanya karena adanya bangkai di sekitar lokasi. “Lebah selalu mengunjungi tempat bersih dan bau bangkai mengganggu indera lebah yang bersih. Lebah hanya terbang dari sarang mencari nektar, polen, propolis, dan air,” kata Bambang Soekartiko yang mengumpulkan hingga 100 ton beragam madu per tahun.

Tentu saja faktor penentu keberhasilan adalah musim berbunga. Tahun ini pelawan berbunga pada  Maret – Juni. Mantan pemusung alias pemanen madu, Mustar Sueib (69 tahun) di Pangkalpinang, mengatakan lebah hutan memburu bunga pelawan, meski kelopak berjatuhan di atas permukaan tanah. Ketika berburu madu hutan, ayah 11 anak itu acap menemukan lebah-lebah yang mengambil nektar di atas bunga yang berguguran. Namun, ia tak pernah melihat lebah hutan memburu bunga-bunga lain seperti gelam, kemengkek, dan leting yang berjatuhan di tanah.

Itulah sebabnya, masyarakat Bangka menganggap madu pelawan sangat istimewa dibanding madu-madu jenis lain. Bunga ke-3 pohon tersebut sumber nektar bagi lebah hutan. Musim berbunga pohon-pohon itu berlainan. Menurut pebisnis madu di Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Suhada, rasa madu pelawan sangat khas, agak pahit. Namun, setelah madu ditelan, rasa pahit itu hilang. Rasa pahit itu karena kandungan alkaloid yang merupakan bahan obat – antara  lain berkhasiat sebagai antiinfeksi.

Menurut Soekartiko yang kini menjabat Vice Chairman World Propolis Science Forum, mutu madu tergantung dari jenis tanaman, keaslian, dan kadar air waktu panen. “Madu budidaya rasa, warna, bau, mudah dibedakan karena lebih homogen. Sedangkan madu hutan karena tidak dapat di identifikasi asal bunga tanaman, sulit mengenali bau, rasa, dan warna, kecuali yang jelas asalnya seperti madu pelawan,“ kata pemilik Bina Apiari Indonesia itu.

Sayangnya, ada yang “menyalahgunakan” rasa pahit pada madu itu. Penjual mencampur madu dengan herba yang pahit seperti brotowali Tinospora crispa. Citarasa madu itu memang pahit, tetapi intensitas pahit itu terlampau tinggi dan tertinggal di lidah beberapa saat setelah madu tertelan. Madu seperti itulah yang terbeli oleh Kartini di Bukittani, Kecamatan Gerunggang, Kotamadya Pangkalpinang.

“Madu pelawan memang pahit. Tapi tak semua madu pahit adalah madu pelawan,” kata Suhada. Pria 40 tahun itu mencontohkan madu kemengkek yang juga pahit dengan intensitas lebih tinggi. “Pahitnya madu pelawan  itu enak, masih bisa diterima oleh kebanyakan orang,” kata Suhada. Ia mendatangkan madu pelawan dari Bangka dan Belitung, hingga 2 ton per tahun. Itu ketika panen raya madu yang jatuh 4 – 6 tahun sekali; ketika paceklik, ia hanya mampu mengumpulkan puluhan kg per tahun.

Suhada mengatakan madu pelawan manjur menjaga kekebalan tubuh dan mengatasi beragam penyakit. Oleh karena itu permintaan madu pelawan relatif tinggi. Suhada siap menampung berapa pun pasokan madu pelawan untuk memenuhi permintaan konsumen. Itulah sebabnya harga madu pelawan cenderung naik. Joe yang juga menampung madu pelawan dari para pemburu mengatakan, pada Mei 2011 harga madu pahit itu mencapai Rp120.000; setahun lalu, Rp75.000 per kg.

Mereka – para pemburu madu hutan – ingin agar harga madu setara timah. Helmi Riadi, penambang timah di Bangka Tengah, mengatakan saat ini harga timah di tingkat penambang mencapai Rp120.000 per kg. Para penambang rakyat rata-rata memperoleh 20 kg per hari. “Menambang timah memang cepat memperoleh uang, tapi keluarnya juga lebih cepat,” kata Helmi. Penambangan timah inkonvensional mengancam kelestarian hutan di pulau seluas 11.617 km2 itu, selain mencemari lingkungan.

“Hutan pelawan bisa habis, jika tak cepat kita menjaganya. Sawah, sekolah, tepian pantai, sungai, bahkan kuburan pun dijadikan tambang timah. Jika demikian Bangka rusak binasa karena pertambangan timah,” kata dosen di Universitas Bangka Belitung, Effendy Hasyim. Menurut Effendy sudah semestinya timah ditambang, tetapi harus memperhatikan lingkungan hidup. Pembuangan limbah, misalnya, tak dibiarkan mencemari lingkungan. Menurut Soekartiko, “Semakin luas tambang, berarti semakin sempit areal penghasil nektar dan semakin kecil produksi madu.”

Masyarakat di sekitar hutan seperti di Desa Terentang dan Dendang – keduanya di Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, memang memanfaatkan pelawan sebagai kayu bakar sehari-hari. Menurut Bahairi, penduduk di desa di tepi hutan pelawan, pemanfaatan kayu anggota famili Myrtaceae itu tak mengancam kelestarian hutan.

Pengamat hutan di Samarinda, Kalimantan Timur, Wijaya, mengatakan bahwa hilang hutan berarti hilang pengetahuan dan sumber pangan. Selain sebagai sumber madu dan kayu, hutan pelawan juga menjadi habitat jamur yang lezat (baca: Jamur Termahal halaman 94 – 95). Menjaga hutan berarti juga menjaga budaya dan tradisi membuat sunggau serta memusung yang kini hilang di Kotamadya Pangkalpinang. “Hutannya habis. Dulu saya musung di Kampung Dul, di daerah yang kini menjadi bandar udara,” kata Mustar.

Di 4 daerah tingkat dua lain di Pulau Bangka – Bangka, Bangka Selatan, Bangka Tengah, dan Bangka Barat – tradisi musung masih hidup. Namun, jika masyarakat tak menjaga hutan, daerah-daerah itu mungkin mengikuti jejak Pangkalpinang. Jika itu terjadi, mantan anggota DPRD Bangka, Holidi Endang, berseloroh, “Babel bukan lagi Bangka Belitung, tapi babak belur.” Namun, bisa jadi babel juga banyak belajar, termasuk belajar mempertahankan hutan. (Sardi Duryatmo)

 

Hutan Pelawan Tetap Perawan

Ketika warga di desa lain berbondong-bondong menambang timah, 620 kepala keluarga di Desa Namang justru sepakat menetapkan hutan Kalung sebagai hutan lindung. Sekretaris Desa, Marten Latief, mengatakan hutan Kalung terdapat di Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, seluas 53 ha. Masyarakat tengah mengupayakan untuk memperluas hutan lindung hingga 200 ha. Sementara itu kepala desa Zaiwan minta persetujuan kepada bupati Kabupaten Bangka Tengah soal penetapan hutan lindung.

Marten mengatakan penetapan Kalung sebagai hutan lindung antara lain memang karena kekhawatiran alih fungsi menjadi lokasi penambangan timah. Hutan itu terdiri atas beragam spesies pohon seperti gelam, leting, pelawan, dan rempodong – sumber nektar bagi lebah. Warga setempat membenamkan tiang beton setinggi 40 cm dengan interval 40 m di sekeliling hutan. Tujuannya agar masyarakat mengetahui batas-batas hutan lindung. “Meskipun di hutan ini ada timah, kami tak akan menambang,” kata Samsuni, warga Desa Namang.

Jangankan menambang, menebang pohon di hutan yang sebagian berawa-rawa itu pun terlarang. Mereka bertekad mewariskan hutan kepada generasi berikutnya. Sebab, dari hutan itulah warga setempat memperoleh beragam sumber kehidupan seperti obat-obatan, aneka jenis madu, dan jamur pelawan. Pas dengan makna Desa Namang yang berarti saling memberi. Warga desa memberi perlindungan kepada hutan, sedangkan ribuan pohon di dalamnya memberikan madu dan jamur. (Sardi Duryatmo)

Powered by WishList Member - Membership Software