Membendung Ginjal Bocor

Filed in Topik by on 31/10/2011

 

dr Philemon Konoralma, SpPDIndikator BocorDerita itu berawal dari gejala sering berkeringat yang sangat deras pada malam hari. Varell juga mengeluh sakit di bagian perut. Ketika perut diraba terasa keras, hingga akhirnya membuncit. Sebaliknya bagian kepala lembek. Varell pun demam selama tiga hari berturut-turut, sering menangis dan sulit tidur. Ia pun malas makan.

Resah melihat kondisi Varell, Agus Herianto, sang ayah, membawa putra bungsunya ke dokter spesialis anak di sebuah rumahsakit di Tanjungpriok, Jakarta Utara. “Dokter menduga ada kelainan pada ginjal Varell. Untuk memastikan perlu pemeriksaan darah,” tutur Agus yang kian khawatir melihat tubuh, perut, dan kepala Varell membengkak serta bagian seputar mata lebam. Hasil pemeriksaan di rumahsakit kedua di kawasan Sunter, Jakarta Utara, menunjukkan Varell menderita ginjal bocor.

Autoimun

Ginjal bocor merupakan bahasa awam merujuk pada sindrom nefrotik. Disebut ginjal bocor untuk menggambarkan keluarnya protein (albumin) dari dalam tubuh melalui urine. Dalam kondisi normal, ginjal mempertahankan protein supaya tidak keluar dari tubuh. Dokter Danarto, SpB SpU, dari Pusat Pelayanan Urologi Rumahsakit Khusus Bedah An-Nur, Yogyakarta, menyebutkan pada penderita sindrom nefrotik fungsi pembuluh darah dalam ginjal terganggu sehingga protein yang seharusnya tidak ikut tersaring menjadi tersaring dan keluar bersama urine.

Oleh karena itu diagnosis penyakit itu antara lain dari adanya protein dalam air seni, kadar albumin darah rendah, dan kolesterol yang tinggi. Hasil pemeriksaan darah Varell di rumahsakit kedua menunjukkan kadar protein total 3,8 g/dl, albumin 1,4 g/dl, dan kolesterol total 451 mg/dl. Angka rujukan untuk masing-masing adalah 6,1 – 7,9 m per dl (untuk anak usia 1 – 7 tahun), 3,9 – 5,0 g/dl (usia di bawah lima tahun), dan kurang dari 200 mg/dl.

Ginjal “bocor” menyebabkan jumlah protein dalam tubuh menurun. Padahal protein, dalam hal ini albumin, berperan menahan cairan agar tidak keluar dari pembuluh darah. Ketika tubuh kekurangan albumin, cairan mudah merembes keluar dari pembuluh darah, menyebabkan tubuh membengkak, salah satu gejala ginjal bocor.

Gejala lain sembap, tekanan darah tinggi, dan sedikit urine saat berkemih seperti yang dialami Varell. Tubuh melakukan penyesuaian karena kekurangan albumin dengan memecah cadangan lemak di seluruh tubuh. Akibatnya kadar kolesterol tubuh naik. “Jika lebih dari tiga bulan tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis seperti kelainan struktur ginjal,” kata dr Ni Made Hustrini, SpPD, dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Rawat inap

Untung saja Agus cepat bertindak. Di rumahsakit Varell antara lain mendapat asupan albumin. Menurut dr Philemon Konoralma SpPD dari Rumahsakit Mardi Rahayu Kudus, pemberian albumin melalui infus untuk mencukupi kadar albumin dalam darah. Pada penderita ginjal bocor kronis mesti menjalani cuci darah.

Selama dirawat di rumahsakit tubuh Varell memang membaik ditandai bengkak mengempis. Namun, kondisi itu hanya berlangsung satu dua hari. Setelah pemberian obat-obatan dihentikan, tubuh kelahiran 27 Desember 2008 itu kembali membengkak. Menurut dokter yang merawat, jalan kesembuhan Varell mesti ditempuh minimal selama tiga bulan.

Dokter Danarto SpB SpU mengatakan sindrom nefrotik bukan penyakit keturunan, tetapi dapat terjadi pada satu keluarga dengan pola makan hampir sama. Harap maklum salah satu penyebab penyakit itu adalah konsumsi makanan tidak sehat yang dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun. “Pada kasus anak-anak tingginya tingkat kejadian karena kondisi fisiknya tidak sebagus orang dewasa,” tutur Danarto.

Pada hari ke-8 rawat inap, rumahsakit kembali merujuk Varell untuk berobat ke sebuah rumahsakit di Jakarta Pusat karena peralatan dan obat yang dibutuhkan lebih tersedia. “Tapi saya memilih membawa Varell pulang karena rumahsakit yang bersangkutan mensyaratkan harus tersedia uang Rp20-juta di awal,” ujar Agus. Keterbatasan dana membuat pegawai di sebuah perusahaan jasa kargo itu melirik pengobatan alternatif.

Cepat pulih

Jalan kesembuhan terbuka setelah Agus membaca khasiat jus manggis untuk kesehatan ginjal. Setelah berkonsultasi dengan konselor di perusahaan penyedia jus manggis, ia memberikan 5 kali sehari masing-masing sebanyak 5 ml kepada si bungsu. Jeda setiap pemberian empat jam. Pemberian jus kulit dan buah manggis dibarengi dengan madu omega 3.

Agus dan istri girang bukan kepalang setelah dua minggu mengonsumsi jus manggis dan madu, kondisi Varell cepat membaik. Bungsu lima bersaudara itu bisa tidur pulas karena terbebas dari banjir keringat. Perut pun mengempis dan kepala kembali normal. Bengkak di seluruh tubuh menghilang. “Tapi Varell jadi terlihat kurus,” tutur Agus.

Hingga kini Varell yang selama enam bulan terakhir tidak pernah mengalami gejala ginjal bocor lagi terus mengonsumsi jus kulit dan buah manggis serta madu mengandung omega 3. Dosis konsumsi hanya dua kali sehari untuk menjaga daya tahan tubuh bocah yang sempat diramal tidak berumur panjang oleh perawat di rumahsakit tempat ia pertama kali diperiksa itu.

Perkara kulit manggis mengatasi sindrom nefrotik memang belum terbukti secara ilmiah. Berbagai situs kesehatan hanya menyebutkan kulit manggis mampu mencegah terbentuknya batu ginjal.

Namun begitu, indikator perbaikan kondisi penderita ginjal bocor misal bengkak yang berkurang terlihat pada Varell. “Untuk memastikan perlu melakukan analisis urine,” kata Made Hustrini. Sayang hasil pemeriksaan saat Varell kontrol yang menunjukkan kesembuhan masih disimpan di rumahsakit. Yang menjadi bukti hanya Varell yang kini bisa lagi berlari-lari lagi mengejar mainan-mainan kesayangan. (Evy Syariefa/Peliput: Andari Titisari dan Desi Sayyidati Rahimah)

Powered by WishList Member - Membership Software