Membakar Gulma Rawa Pening

Filed in Majalah, Perkebunan by on 12/05/2017
Eceng gondok menutupi 1.800 ha dari 2.670 ha permukaan Rawa Pening, Jawa Tengah.

Eceng gondok menutupi 1.800 ha dari 2.670 ha permukaan Rawa Pening, Jawa Tengah.

Rawa Pening seluas 2.670 hektare di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menjadi salah satu objek wisata favorit warga Semarang dan sekitarnya. Masyarakat pun memanfaatkan danau berkedalaman 3—7 m itu untuk budidaya ikan air tawar seperti nila, mujair, dan lele. Sayang, kondisi danau legendaris itu semakin merana. Limbah domestik yang terbawa aliran berbagai sungai memicu proses nitrifikasi air sehingga kadar oksigen terlarut berkurang.

Efeknya, air menjadi kehitaman dan berbau. Kondisi itu mengganggu pertumbuhan ikan yang dibudidaya di sana. “Daging ikan dari sini tidak enak sehingga hanya laku dijual dengan harga murah,” kata Munadji, anggota Kontak Tani Nelayan Andalan Kota Salatiga yang aktif mendampingi peternak ikan Rawa Pening. Sudah begitu, buruknya kondisi air menjadikan produksi rendah lantaran tingkat kematian tinggi.

Atasi gulma
Kualitas air yang rendah itu memicu eceng gondok Eichhornia crassipes tumbuh subur merajalela. Gulma air itu menutupi 1.800 ha permukaan danau. Tanaman tua tenggelam dan membusuk di dasar sehingga memperburuk kualitas air. Sedimen yang terbentuk mengurangi kedalaman air hingga tinggal 2 m. “Kondisi air menjadikan pertumbuhan eceng gondok di Rawa Pening sangat subur,” kata Bambang Supartoko MSi, anggota staf Hubungan Masyarakat PT Sido Muncul.

Upaya pengerukan kalah cepat dengan pertumbuhan eceng gondok.

Upaya pengerukan kalah cepat dengan pertumbuhan eceng gondok.

Gambarannya 1 batang eceng gondok bisa tumbuh menjadi 10—15 kg, menutupi luasan 1 m2 hanya dalam 23—30 hari. Menurut Bambang di perairan lain pertumbuhannya tidak secepat itu. Sejatinya banyak pihak turun tangan berupaya menanggulangi penyebaran gulma itu. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana menerjunkan 2 unit eksavator dan beberapa unit kapal keruk untuk menyingkirkan eceng gondok.

Kecepatan kerja alat-alat itu tidak sebanding dengan pertumbuhan eceng gondok. Upaya lain, membuat kerajinan dari eceng gondok, juga tidak efektif. Itu sebabnya direktur utama PT Sido Muncul, Irwan Hidayat, melontarkan ide mengolah eceng gondok menjadi bahan bakar. Karyawan Sido Muncul memboyong timbunan eceng gondok di tepi danau hasil pengerukan eksavator ke unit pembuatan pelet di pabrik.

Budidaya ikan terganggu buruknya kualitas air danau.

Budidaya ikan terganggu buruknya kualitas air danau.

Pembuatan sekilogram pelet memerlukan 5 kg eceng gondok dengan biaya produksi sekitar Rp1.100—Rp1.500 per kg pelet. Irwan menyatakan bahwa pembuatan pelet bahan bakar dari eceng gondok itu sekadar percontohan. “Sido Muncul tidak mungkin bekerja sendiri untuk membersihkan Rawa Pening dari eceng gondok,” kata pria berusia 70 tahun itu. Pelet bahan bakar menjadi solusi jitu pengendalian eceng gondok di berbagai perairan.

Menurut peneliti bahan bakar biomassa di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Supriyanto, pelet bahan bakar menjadi incaran negara-negara maju yang memiliki 4 musim. “Mereka menggunakan pelet untuk bahan bakar penghangat ruangan di musim dingin,” kata Supriyanto. Industri pelet bahan bakar berbahan biomasa untuk tujuan ekspor pun bisa memperoleh bahan gratis tanpa harus menanam. Di balik sifatnya yang menjadi gulma, eceng gondok menawarkan peluang besar. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: ,

Powered by WishList Member - Membership Software