Maya Atasi Beragam Hama

Filed in Sayuran by on 06/06/2013 2 Comments
Ulat kubis Plutella xylostella, salah satu hama target insektisida maya

Ulat kubis Plutella xylostella, salah satu hama target insektisida maya

Senjata pamungkas untuk mengatasi beragam hama sayuran dan padi.

Menyebut tumbuhan maya segera terlintas senjata pamungkas di benak pria dewasa Suku Banjar dan Suku Dayak, di Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Ingatan mereka melayang ke masa silam saat berusia 10―12 tahun. Pada masa itu bocah laki-laki kerap menebas batang maya Amorphophallus campanulatus yang tumbuh di pinggiran kampung. Tanaman anggota famili Araceae itu tumbuh di tepian sungai yang teduh dan ternaungi pohon besar.

Mereka membalut tangan dengan kain, lalu meremas batang maya hingga hancur dan mengeluarkan getah. Batang itulah yang dibuat bulatan kecil bak peluru. Mereka lantas meletakkan “peluru” batang maya di pangkal rongga senjata mainan berupa ruas bambu seukuran spidol sepanjang 30 cm. Ketika tongkat kayu didorong, suara, “ctaar” pun terdengar. Peluru meluncur cepat dari ruas bambu ke arah musuh. Keruan saja bocah yang menjadi korban “penembakan” menjerit kesakitan lalu menggaruk kulit yang terkena peluru.

Batang maya dapat menyebabkan gatal sekaligus berfungsi sebagai insektisida alami

Batang maya dapat menyebabkan gatal sekaligus berfungsi sebagai insektisida alami

Biopestisida

Peluru batang maya, “Itu senjata pamungkas kami saat main perang-perangan. Bila seorang bocah sudah menembakkan peluru maya, permainan usai karena korban tak mampu lagi meneruskan perang,” kata budayawan di Kalimantan Selatan, Hasan Zainuddin. Getah dari peluru itu menimbulkan gatal tak terkira dan menyebar ke kulit di sekitarnya. Biasanya bocah yang menjadi korban lari ke sungai untuk mandi atau mengoleskan minyak kelapa untuk mengurangi derita.

Sementara peluru pada awal permainan berupa kertas basah atau pentil jambu air yang terbilang aman.  Kisah itu memicu tim peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) di Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, menguji maya sebagai biopestisida. Musababnya, tanaman lain penyebab gatal―seperti gadung Dioscorea hispida dan jingah Glutha rengas―pun terbukti ampuh mengusir hama. Tanaman maya mirip suweg raksasa Amorphophallus titanum. Batang―sebetulnya tangkai daun―lunak dengan warna hijau berbintik-bintik putih. Daunnya menjari dan bercabang. Umbi berdiameter 20―30 cm.

Para peneliti menguji coba keampuhan maya di laboraturium pada 2008. Mereka mencacah 50―100 g batang dan umbi maya, memblender, serta menambahkan seliter air. Setelah itu para peneliti memisahkan padatan dan cairan dengan memerasnya. Peneliti menyemprotkan cairan itu pada 15 pot sawi yang masing-masing diberi 20 ekor ulat grayak. Dalam waktu 1―2 hari sebanyak 85―90% ulat grayak mati.

Setahun berselang periset Balittra bersama tim periset Universitas Lambung Mangkurat menguji coba ekstrak etanol maya di lahan. Mereka merendam 1 kg bahan kering angin dalam 10 l pelarut etanol selama 24 jam. Setelah menguapkan hasil saringan agar pelarut menguap, maka peneliti memperoleh pasta sebagai biang. Untuk menguji keampuhan maya, para periset melarutkan 1―1,5 g pasta pada seliter air. Agar pasta bercampur dengan air, mereka menambahkan toein atau pengemulsi 40/80 dengan perbandingan 100 : 1.

Umbi dan batang dapat dijadikan bahan baku pestisida nabati yang kemampuannya setara pestisida sintetik golongan dimehipo

Umbi dan batang dapat dijadikan bahan baku pestisida nabati yang kemampuannya setara pestisida sintetik golongan dimehipo

Larutan itu yang disemprotkan ke petak percobaan tanaman sawi dan bayam seluas 1 m x 2 m dengan 4 ulangan di Landasanulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Lokasi penanaman adalah kawasan serangan ulat grayak Spodoptera litura dan ulat kubis Plutella xylostella. Hama serupa juga menyerang anggota keluarga Brassicaceae lain seperti caisim. Hasilnya di luar dugaan. Ekstrak etanol lebih baik ketimbang ekstrak air yang dicoba di laboratorium. Semua petak percobaan dosis 1―1,5 g pasta per liter hanya 10% terserang hama. Artinya, jauh lebih tinggi daripada di laboratorium yang kerusakannya 15%.

Pelindung padi

Keampuhan ekstrak maya setara pestisida sintetis berbahan aktif dimehipo yang dijual di pasaran. Sementara petak kontrol―dan petani di sekitar yang tanpa pestisida―tingkat kerusakan mencapai 75%. Sukses itu memikat Kementerian Riset dan Teknologi mendanai penelitian maya di Desa Bontomatene, Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, pada 2012. Di sana maya terbukti manjur melindungi area padi rawa di lahan pasang surut yang banyak terserang hama pada musim kemarau.

Tanaman caisim lazim diberi pestisida jor-joran karena rentan serangan hama

Tanaman caisim lazim diberi pestisida jor-joran karena rentan serangan hama

Beragam organisme pengganggu yang menyerang padi rawa adalah lalat padi Hydrellia sp, hama putih Nymphula depunctalis, hama putih palsu Cnaphalocrocis medinalis, penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata, dan walang sangit Leptocorisa oratorius. Petak percobaan dibuat masing-masing seluas 50 m2 dengan 3 ulangan. Maya juga dibandingkan dengan kirinyu Chromolaena odorata dan bintaro Cerbera odollam yang juga dikenal biopestisida tangguh di lahan rawa. Selain itu maya juga dibandingkan dengan kontrol tanpa pestisida dan  pestisida sintetis berbahan aktif dimehipo.

Hasilnya maya cespleng sebagai biopestisida. Ia setara kirinyu, kelampan, dan pestisida sintetis. Tingkat kerusakan hanya 0,5―2,5%. Sementara padi tanpa benteng pestisida rusak di atas 30%. Sejumlah literatur menyebut rasa gatal berasal dari kalium oksalat. Sementara sifat racun disebabkan kandungan saponin, flavonoida, dan polifenol. Paduan ketiga kelompok senyawa itu sangat khas sehingga bersifat racun kontak sekaligus racun perut. Hama yang terkena ekstrak maya secara langsung merasa tidak nyaman sehingga menyingkir dari area pertanian.

Sementara hama yang telanjur menyantap padi, sawi, dan bayam yang sudah disemprot ekstrak terganggu metabolisme tubuhnya sehingga tidak berumur panjang. Toh, di alam tak semua Amorphophallus campanulatus menimbulkan gatal karena ia terdiri dari 2 varietas. Yang gatal Amorphophallus campanulatus var. sylvestris dan yang tidak gatal Amorphophallus campanulatus var. hortensis alias suweg. Yang disebut terakhir umbinya menjadi bahan alternatif pangan terkenal. Sementara daunnya pun dapat dilalap. (Ir Syaiful Asikin dan Destika Cahyana SP, peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI)

Powered by WishList Member - Membership Software