Markisa Angola, Siapa Mau?

Filed in Buah by on 31/08/2011

 

Perbandingan markisa jumbo dengan markisa australia, dan markisa brastagi (kiri ke kanan)Variasi warna daging buah markisa jumbo (atas), markisa australia (kiri bawah), dan markisa brastagi (kanan bawah)Markisa dalam drumMarkisa yang tersaji bersama hidangan sarapan di salah satu hotel di Luanda, Ibukota Angola itu langsung mencuri perhatian Reza. Mafhum, ukuran buah 2 kali lebih besar daripada markisa yang lazim dijumpai di tanahair. Warna kulitnya mengingatkan Reza pada rola asal Sukabumi, Jawa Barat: kuning pucat berbintik putih. Hanya saja bentuk buah lebih bulat. Pakar buah dari Taman Wisata Mekarsari (TWM), Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu memperkirakan bobotnya mencapai 250 – 300 g per buah. Sementara markisa sukabumi hanya 55 – 130 g.

Reza pun mengambil salah satu buah. Begitu buah dibelah, aroma khas markisa yang cukup kuat langsung tercium. Warna daging buah jingga, persis seperti markisa brastagi. Namun, jumlah daging buah sedikit sehingga tidak mengisi penuh ruang dalam buah. Daging buah juga tipis dan transparan sehingga biji terlihat jelas. Saat mencicipinya Reza langsung mengernyitkan dahi. “Rasanya masam sekali,” ujar doktor manggis alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Tahan banting

Dari ciri-cirinya kepala Pusat Kajian Tanaman Buah Tropika (PBKT) IPB, Sobir PhD, menduga markisa jumbo yang Reza cicip itu Passiflora edulis forma flavicarpa. Tanaman anggota famili Passifloraceae itu buahnya berukuran besar dengan warna kulit kuning yang menarik. “Daging buah sedikit akibat proses penyerbukan yang kurang sempurna,” ujar doktor alumnus Okayama University, Jepang, itu.

“Tapi ia berpotensi sebagai tetua untuk mewariskan sifat jumbo dan aroma yang kuat,” kata Reza. Potensi lain seperti dituturkan peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu), Solok, Sumatera Barat, Panca Jarot Santoso, “Markisa berukuran besar cocok dikembangkan sebagai olahan buah seperti sirup.” Menurut Sobir lazimnya Passiflora edulis forma flavicarpa tahan serangan penyakit seperti fusarium, salah satu musuh markisa. Oleh karena itu si jumbo angola cocok dipakai sebagai induk untuk melahirkan varietas tahan penyakit.

Tempatkan ia sebagai tetua jantan; betinanya, markisa unggul tanahair dengan karakter daging buah banyak dan manis. Nantinya dari persilangan itu diharapkan didapat keturunan yang mewarisi sifat jumbo dan tahan penyakit dari tetua jantan dan berdaging banyak nan manis dari tetua betina.

“Dalam penyilangan, pewaris sifat terkait dengan metabolisme pada mitokondria dan fotosintesis pada plastid adalah tetua betina,” kata Sobir. Sistem metabolisme dan fotosintesis yang tidak optimal menjadi penyebab daging buah sedikit dan masam pada markisa angola. Ini yang diperbaiki induk betina pada turunannya: sistem metabolisme lebih baik sehingga jumlah daging buah lebih banyak. Mekanisme fotosintesis juga lebih optimal sehingga kadar karbohidrat yang dihasilkan lebih tinggi dan membuat rasa lebih manis.

Adaptif

Dengan berbagai potensi itu, Reza pun berencana mengembangkan markisa angola di tanahair. Karena itu usai sarapan tadi Reza kembali mengambil satu buah. Di kamar hotel, buah itu dibungkus plastik, kemudian disimpan dalam koper bersama pakaian. “Saya akan tanam di Taman Wisata Mekarsari,” kata Reza yang juga salah satu direktur di wahana wisata buah itu.

Di Taman Wisata Mekarsari (TWM) seluruh biji disemai di kotak berisi campuran media tanah, pupuk kandang, dan pasir dengan perbandingan 1:2:3. Sebelum disemai biji dicuci terlebih dahulu. Kotak lalu diletakkan di tempat teduh hingga muncul kecambah. Saat setinggi 15 – 20 cm bibit dipindahkan ke polibag berisi campuran media tanah, kompos atau pupuk kandang, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1. Setelah tingginya 1 meter, bibit dipindahkan ke lahan dekat pagar untuk rambatan. Beberapa di antaranya ditanam dalam pot.

Di Angola passion fruit itu sekadar tanaman pekarangan rumah tanpa perawatan intensif dan hidup di dataran rendah bersuhu panas. Meski begitu di TWM markisa tetap mendapat tambahan hara, terutama untuk yang ditanam dalam pot. Pada masa vegetatif berupa pupuk dengan kandungan nitrogen tinggi. Saat tanaman sudah berbunga dan akan berbuah pupuk dengan P dan K tinggi. Frekuensi pemberian setiap 2 bulan dengan dosis 50 g per tanaman. Hara lain berupa pupuk kandang setiap 3 bulan sekali sebanyak 5 kg per tanaman. Penambahan media tanam setiap 6 bulan sekali.

Dari ratusan biji yang disemai, hanya 10 tanaman bertahan hidup hingga dewasa. Tanaman mulai berbuah pada umur delapan bulan setelah semai. Markisa lokal biasanya pada umur 6 bulan. Penyerbukan alami sehingga terbentuk buah secara alami. Pentilnya berkulit hijau muda yang berangsur jadi kuning pucat dan berbintik putih seiring membesarnya buah. Yang menggembirakan ukuran buah matang hampir sama dengan buah yang dicicip Reza di Angola. “Itu menunjukkan markisa jumbo itu adaptif di tanahair,” kata Reza. Bermodal si jumbo negeri berlian itu tidak mustahil di masa mendatang akan lahir markisa idaman yang besar dan manis. (Tri Istianingsih)

Powered by WishList Member - Membership Software