Makmur Karena Jamur

Filed in Majalah, Muda by on 12/07/2016

Taufik Hidayat meninggalkan pekerjaan dan beralih membudidayakan jamur tiram dan kancing.

Taufik Hidayat setelah mendapat Pemenang 2 Wirausaha Muda Mandiri 2015 kategori pertanian dan kelautan.

Taufik Hidayat setelah mendapat Pemenang 2 Wirausaha Muda Mandiri 2015 kategori pertanian dan kelautan.

Bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta dengan gaji Rp12-juta per bulan tak membuat Taufik Hidayat ragu untuk mengundurkan diri. Tekadnya sudah bulat untuk kembali ke kampung halamannya di Kampung Dangdang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. “Banyak teman yang mencibir saat saya keluar dari pekerjaan karena memang sulit untuk berada di posisi itu. Dari 300 orang yang melamar hanya diterima 2 orang,” kata Taufik.

Taufik kembali ke kampung halaman karena kondisi ibunya yang kerap sakit-sakitan. “Saya juga tak enak hati memikirkan kondisi ekonomi keluarga yang seadanya,” kata Taufik. Harap mafhum, kakak Taufik berprofesi sebagai tukang ojek dan ayahnya seorang kuli bangunan. Dari segi finansial keluarga Taufik terbilang belum mapan. Di kampung halaman, Taufik bertekad untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Petani jamur
Ide usaha itu terlintas ketika, “Saya teringat dengan usaha kakak kelas yang sukses budidaya jamur di Cisarua, Lembang, Jawa Barat.” Pemuda kelahiran 1 Juni 1992 itu lalu berkunjung ke rumah rekannya itu untuk menimba ilmu mengenai budidaya jamur tiram. Berbagai literartur di dunia maya pun ia pelajari. “Setelah saya pelajari, ternyata karakteristiknya sesuai dengan kondisi Pangalengan,” kata Taufik.

Berbekal relasi selama bekerja dan kuliah, Taufik lalu menghubungi beberapa rekannya untuk berinvestasi dalam usaha budidaya jamur tiram yang akan ia jalankan. “Dalam dua pekan terkumpul dana hingga Rp100-juta,” kata Taufik. Dengan modal itu, Taufik lalu mendirikan Villa Mushroom Agrifarm pada 19 Januari 2015. Sembari mempersiapkan kumbung, Taufik terjun membuka pasar.

Taufik Hidayat, membudidayakan jamur sejak 2015.

Taufik Hidayat, membudidayakan jamur sejak 2015.

Pasar jamur tiram ternyata terbentang luas. Peluang pasar pertama berasal dari restoran makanan tiongkok di Jakarta Barat. “Mereka minta pasokan hingga 2 ton per hari. Sayangnya permintaan itu belum terpenuhi,” kata Taufik. Taufik mengelola 5 kumbung masing-masing berukuran 8 m x 9 m dan mampu menampung 12.000 baglog. Dari jumlah itu Taufik hanya mampu memasok 200—300 kg jamur tiram per hari.

“Untuk memasok restoran itu minimal 500 kg per hari,” kata petani jamur itu. Sementara ini Taufik baru bisa memenuhi permintaan jamur di pasar sekitar Kabupaten Bandung dan Kota Bandung. “Saya coba terus tingkatkan kapasitas produksi karena permintaan dari dalam dan luar negeri amat tinggi,” kata anak muda itu. Peluang pasar lainnya adalah kebutuhan bibit jamur tiram yang tinggi dari negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Bina petani
Taufik mengatakan, “Budidaya jamur bisa dimanfaatkan sebagai peluang usaha potensial masyarakat di pedesaan.” papar Taufik. Untuk memenuhi permintaan yang tinggi, Taufik bermitra dengan petani jamur lain dan melakukan pembinaan. “Sistem kerja sama bagi hasil, yaitu 30% keuntungan untuk investor, 50% untuk pengelola, dan 20% untuk petani,” kata pemuda 22 tahun itu.

Jamur kancing, permintaan tinggi hingga 5 ton per hari.

Jamur kancing, permintaan tinggi hingga 5 ton per hari.

Meski petani hanya memperoleh bagian pandapatan 20% dari total laba, jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan pendapatan buruh tani di Pangalengan yang hanya Rp20.000 per hari. Pemuda berkacamata itu menambahkan, budiaya jamur tiram jauh lebih mudah dibandingkan dengan budidaya sayuran pada umumnya. “Hanya perlu rutin menyiram dan tidak harus berpanas-panasan,” kata Taufik.

Alumnus Politeknik Negeri Bandung, Jurusan Teknik Listrik itu mengatakan, pekerjaan petani jamur waktunya relatif renggang sehingga petani bisa melakukan pekerjaan sampingan lain. “Dari sejak pembibitan atau inokulasi butuh waktu 40 hari hingga siap panen. Setelah itu panen terus selang 2 pekan sekali,” papar Taufik. Pria murah senyum itu mengatakan, dengan bibit yang baik panen bisa 4—5 kali dengan total hasil panen rata-rata 400—500 g dari 1 baglog berbobot 1,2 kg.

Jamur siap panen selang 2 minggu dari panen perdana.

Jamur siap panen selang 2 minggu dari panen perdana.

Kini Taufik tengah fokus meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar. “Saya berencana menambah 15 kumbung berukuran 8 m x 9 m di Pangalengan untuk meningkatkan kapasitas produksi,” kata Taufik. Setiap kumbung mampu menampung 12.000 baglog. Dari jumlah itu diharapkan bisa menghasilkan 6.000 kg jamur tiram per kumbung bila setiap baglog menghasilkan rata-rata 500 g jamur tiram.

“Pasar masih terbuka, permintaan dari kota besar seperti Bogor dan Jakarta tak kalah tinggi,” katanya. Saat ini ada sekitar 7 investor yang ikut bergabung. “Jumlah itu masih kurang, saya menargetkan setidaknya 20 investor untuk modal meningkatkan kapasitas produksi hingga 1 ton per hari,” katanya. “Makin banyak investor, makin banyak pula tenaga kerja terserap. Dampaknya tentu akan mengurangi tingkat pengangguran di kawasan pedesaan,” ujar Taufik. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

Powered by WishList Member - Membership Software