Laba dari Sela Vanilla

Filed in Majalah, Perkebunan by on 12/03/2018

579_ 142-1Tumpang sari vanili dan tanaman sela dapat meningkatkan hasil tanpa menambah luasan.

Bersama kelompok taninya, Sumardi menanam 6.000 batang tanaman kopi di lahan milik PT Perhutani di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia menanam varietas arabika yang cocok ditanam di dataran tinggi. Meski permintaan dan harga terus meningkat, Sumardi tidak begitu saja menambatkan nasib kepada biji Coffea arabica itu. Ia pun kemudian menumpangsarikan vanili pada tanaman kopi yang ditanamnya. Enam bulan pascatanam, kopi sudah membentuk naungan. Sumardi lantas menanam vanili di bawah tajuk pohon kopi.

Kebun tumpangsari vanili dengan kopi.

Kebun tumpangsari vanili dengan kopi.

Kopi menjadi tajar hidup bagi vanili. Sebagai tanaman semiparasit, vanili tidak begitu mengganggu atau menyedot nutrisi dari tanaman inang lantaran mempunyai akar dan daun sendiri. Sumardi pun menumpangsarikan keduanya sehingga dalam satu luasan lahan ia mendapatkan 2 panen berbeda. Ujung-ujungnya, menambah pemasukan rupiah ke dalam pundi-pundinya.

Tajar
Menurut praktikus vanili di Cilacap, Jawa Tengah, Arie Cahyadi, vanili dapat ditumpangsarikan dengan berbagai tanaman seperti kopi, kelor, atau kelapa. Namun, kalau menggunakan pohon kopi sebagai tajar, pekebun harus rutin mengarahkan perambatan tunas vanili agar tidak menjalar ke cabang pohon kopi. ”Belitan sulur vanili mengganggu pembuahan kopi sehingga harus diarahkan untuk merambat di batang utama saja,” kata Arie. Secara hitungan ekonomis, Arie lebih menyarankan kelor untuk rambatan sekaligus tanaman tumpangsari.

Hal itu karena kelor cepat tumbuh sedangkan daunnya bernilai ekonomis. Di sela-sela tanaman kelor, bisa juga ditanam tanaman hortikultura seperti cabai yang dapat dipanen setiap 3 bulan. Pemupukan tumpangsari pun efektif, cukup dengan kotoran kambing yang sudah difermentasi, kapur dolomit dan bekatul yang dibenamkan di dekat batang di bawah tegakan pohon inang. Satu pohon cukup dengan 1 kg campuran pupuk setiap 2 bulan. Perawatan pemangkasan vanili dilakukan ketika tunas menyentuh tanah sepanjang 50 cm.

Rudi Ginting(kedua dari kiri) saat memperkenalkan vanili kepada Dirjen Perkebunan Ir Bambang, M.M(berbaju batik jingga).

Rudi Ginting(kedua dari kiri) saat memperkenalkan vanili kepada Dirjen Perkebunan Ir Bambang, M.M(berbaju batik jingga).

Gulma dan rumput pun tidak perlu dicabut hingga akar untuk mempertahankan kelembapan yang dibutuhkan vanili. Pekebun vanili di Bondowoso, Jawa Timur, Rudi Ginting juga melakukan tumpangsari dengan kopi. Namun Rudi merambatkan vanili di pohon peneduh tanaman kopi. Menurut pria 40 tahun itu, meskipun vanili bersifat semiparasit, ia hanya menyerap air. Itu sebabnya tanaman inang sebaiknya memiliki kulit batang basah seperti lamtoro, angsana, albasia, atau kelor.

Selain sebagai tajar hidup, tanaman itu juga mempunyai manfaat lain. Daun hasil pangkasan dapat digunakan sebagai pakan ternak. Sementara itu daun kelor dapat dijual ke pengepul dan mendapatkan hasil lebih. Saat ini daun kelor sangat banyak peminatnya baik untuk bahan baku industri atau sebagai nutrisi herbal. Rudi menjelaskan, jarak tanam tumpangsari menyesuaikan jenis tanaman. Untuk kopi ia menyarankan jarak tanam adalah 3—3,5 m. Pohon tajar rambatan vanili ditanam di sela kopi.

Senada dengan Arie, Rudi menyarankan penanaman tanaman tegakan dan tumpang sari terlebih dahulu. Setelah terbentuk naungan baru penanaman vanili dimulai. Menurutnya, selain kopi, tanaman yang bisa ditumpangsarikan dengan vanili adalah cengkih, lada, atau pala.

Pemangkasan
Pemangkasan tanaman penaung dilakukan ketika naungan sudah terlampau rapat. Vanili hanya memerlukan naungan 30—50%. Bila lebih dari itu, pertumbuhan akan terhambat lantaran fotosintesis tidak optimal. Untuk mendapatkan hasil yang baik vanili perlu dilakukan pemupukan setiap tahun sekali. Untuk tanaman usia 3 tahun ke atas diperlukan pupuk sebanyak 3 kg yang dibenamkan di seputar batang vanili.

Pohon kelor mempunyai nilai ekonomis tinggi dan cocok menjadi tajar vanili.

Pohon kelor mempunyai nilai ekonomis tinggi dan cocok menjadi tajar vanili.

Menurut ahli dan praktikus vanili dari Bogor, Prof Mesak Tombe, vanili memang butuh rambatan untuk berkembang. Ia menyarankan penggunaan pohon untuk rambatan karena menyediakan naungan. Penggunaan tajar mati seperti beton cor atau kayu yang ditancapkan ke tanah malah menambah biaya tetapi tidak menyediakan teduhan. Oleh karena itu perlu dipasang jaring peneduh untuk mengurangi intensitas cahaya. Mesak menyarankan tanaman gamal, lamtoro, atau dadap sebagai tajar hidup.

Jenis-jenis itu percabangannya tidak terlalu banyak sehingga memudahkan saat penyerbukan vanili. Pemangkasan sebaiknya dilakukan ketika daun sudah mulai rimbun atau memasuki musim penghujan. Ketinggian tanaman tajar juga dibatasi sehingga pohon vanili juga tidak terlalu tinggi. Tujuannya memudahkan penyerbukan bunga. Menurut Mesak, tanaman produktif seperti kopi dapat ditanam di sela-sela vanili sebagai tanaman tumpangsari sehingga bisa mendapatkan hasil yang lebih daripada sekadar panen vanili.

Tumpangsari sangat efektif pada budidaya vanili. Terlebih bila kebun cukup rimbun dengan naungan. Memanfaatkan lahan tanaman produksi yang mempunyai sifat yang hampir sama dan tanaman tidak saling mengganggu atau kontradiktif sangat efektif untuk vanili. Selain itu juga dapat menghemat pembukaan lahan baru untuk monokultur vanili. (Muhammad Awaluddin)

Tags: , ,

Powered by WishList Member - Membership Software