Krisan Tumbuh Tanpa Tanah

Filed in Majalah, Tanaman hias by on 13/09/2016

Budidaya krisan dengan sistem akuaponik, panen sebulan lebih cepat.

Penanaman krisan akuaponik, memanfaatkan bibit berumur 14 hari dan telah berakar.

Penanaman krisan akuaponik, memanfaatkan bibit berumur 14 hari dan telah berakar.

Para pekebun lazimnya menanam krisan secara konvensional—di atas permukaan tanah. Mereka menuai bunga potong itu ketika berumur 3 bulan pascatanam. Pekebun berpeluang memanen krisan sebulan lebih cepat jika mengadopsi sistem aeroponik. Itu terbukti ketika percobaan di greenhouse Farm Allesscia, Cikopo Selatan, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat beberapa tahun lalu.

Percobaan itu untuk melihat potensi krisan aeroponik untuk skala industri. Selain itu percobaan juga untuk mencari teknik baru peningkatan produksi krisan. Lokasi percobaan di kebun berketinggian 870 meter di atas permukaan laut. Kondisi suhu pada siang hari 18—20°C dan kelembapan nisbi 60—80%. Instalasi aeroponik berbentuk V dari lembaran plastik selebar 1,5 m.

Lampu listrik
Plastik untuk menampung nutrisi itu dimasukkan dalam kotak kayu sepanjang 18 meter dan lebar 1 meter. Kedua sisi tepi plastik terikat di sepanjang bibir kotak kayu, kemudian diperkuat dengan belahan bambu yang dipasang memanjang. Lembaran plastik pun membentuk huruf V. Di atasnya ditutup dengan lembaran stirofoam selebar 100 cm, dengan ketebalan 3 cm. Jumlah rak untuk budidaya aeroponik mencapai 8 buah.

Pada percobaan itu Farm Allesscia membudidayakan krisan di lubang tanam berdiameter 2 cm di atas stirofoam. Jarak tanam sekitar 14 cm x 14 cm atau kerapatan 52 tanaman per m². Artinya populasi total 18 m x 52 tanaman x 8 rak mencapai 7.488 tanaman. Setiap lubang tanam terdiri atas satu setek yang sudah berakar (rooted cutting) berumur 14 hari. Untuk menjaga tanaman bertahan dalam lubang, maka Allesscia menusuk tusuk gigi steril pada batang krisan.

Setelah tumbuh, tahan krisan dengan jaring agar tetap tegak.

Setelah tumbuh, tahan krisan dengan jaring agar tetap tegak.

Tusuk gigi menahan bibit agar tidak jatuh di lubang. Sebelum tanaman meninggi siapkan jala kawat yang menahan batang tetap tegak dan tidak rebah. Untuk mengatasi sifat krisan yang gampang berbunga di daerah tropis, maka hormon pembungaan krisan itu “dilumpuhkan”. Caranya memasang lampu listrik dengan ketinggian 2,5m di atas tanah. Lampu itu menyala minimal 5 jam pada waktu malam sehingga mencegah tanaman mengalami kegelapan.

Lama waktu penggelapan berkisar 4 pekan atau 28 hari hingga tinggi tanaman minimal 40 cm. Meski lampu dimatikan, tanaman masih terus tumbuh hingga mencapai tinggi 1 meter. Itu adalah akhir fase vegetatif, menjelang peralihan ke fase generatif. Pekebun memanfaatkan nutrisi AB mix—yang lazim pada budidaya hidroponik—untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman anggota famili Asteraceae itu.

Nutrisi tanaman
Pekebun itu memanfaatkan hara makro berupa bahan kimia anorganik, antara lain kalsium nitrat, kalium nitrat, monokalium fosfat, ammonium sulfat, kalium sulfat, dan magnesium sulfat. Adapun hara mikro terutama yang berperan dalam enzimes, terdiri atas 4 kelat, yaitu: Fe-EDTA, Mn-EDTA, Cu-EDTA, Zn-EDTA, dan asam borat H3BO3, serta Na-molibdat. Nutrisi itu diberikan dalam bentuk AB mix.

Nutrisi untuk tanaman menggunakan satu formula pupuk untuk semua fase tumbuh tanaman. Artinya saat pesemaian, fase vegetatif, dan fase generatif jenis nutrisi sama. Perbedaan hanya terletak pada curah saja. Adapun ecektro conductivity (EC) berkisar 2,5 mS sehingga masih dalam zona aman. Itu jauh di bawah nilai ambang fitotoksisitas yang berada di sekitar EC 3,0 mS.

Akar krisan tumbuh sehat dengan penyemprotan nutrisi selama 24 jam.

Akar krisan tumbuh sehat dengan penyemprotan nutrisi selama 24 jam.

Rekayasa volume pemberian pupuk sangat memungkinkan. Misalnya pada awal tanam gunakan tekanan 2,0 atmosfer, menjelang masa peralihan dari fase vegetatif ke generatif gunakan tekanan 2,5 atmosfer. Pengaturan tekanan pada back-wash pompa. Formula pupuk dibuat sedemikian rupa supaya merangsang perakaran membesar, sehingga tanaman beralih ke fase generatif, dan inisiasi pembungaan.

Distribusi nutrisi melalui selang polietilen berdiameter 19 mm yang dipasang sepanjang rak atau kotak kayu. Posisi selang plastik itu 30 cm di bawah tanaman atau stirofoam hingga pancaran saling tumpang tindih. Jet sprinkler warna hijau dengan debit 50 liter per jam mendistribusikan nutrisi. Jet sprinkler itu ditancapkan di selang polietilen berjarak 75 cm. Agar semua akar tanaman mendapat nutrisi, pekebun itu menggunakan pompa air dengan daya 4—8 HP.

Dengan demikian pengabutan menghasilkan titik-titik air yang pekat sekali sehingga derajat kebasahan menjadi tinggi. Kabut nutrisi akan menjangkau semua akar meski tidak tersemprot langsung dari nozel atau jet sprinkler. Karena sistem aeroponik tidak menggunakan media tanam sehingga tidak memiliki daya penyangga. Kebutuhan nutrisi tanaman sepenuhnya bergantung pada nutrisi yang diberikan lewat jaringan aeroponik.

Aeroponik sangat peka terhadap penghentian aliran larutan dan kandungan nutrisi. Oleh karena itu pompa harus aktif selama 24 jam. Akar menerima pancaran nutrisi terus-menerus merupakan syarat mutlak beraeroponik. Oleh karena itu mempengaruhi konsistensi sitoplasma dalam sel sehingga harus dijaga sebaik mungkin. Dengan demikian aktivitas sel tanaman stabil dan pertumbuhan lebih cepat.

Dengan komposisi dan rasio yang baik, maka tidak terlihat defisiensi unsur makro maupun mikro. Derajat pertumbuhan tanaman sangat cepat, dan penampilan prima, daun mengilap. Daun mengecil sedikit, tegap dan menebal, tersusun miring, sehingga pendistribusian cahaya hingga ke daun-daun tua.

Perangsangan
Bunga krisan secara alami tidak mekar serempak. Namun, pekebun dapat mengatasi kekurangan itu dengan menyemprotkan hormon Alar 1—2 kali. Penyemprotan Alar ketika tanaman berumur 35—45 hari atau 2 pekan setelah lampu dimatikan. Gunanya menghentikan meristem di ujung pucuk membelah terus-menerus. Itu sekaligus memberikan kesempatan bagi daun dewasa giat berfotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat.

Bunga mekar serempak sehingga panen pun serempak.

Bunga mekar serempak sehingga panen pun serempak.

Hasilnya, rasio C/N (C= karbohidrat, N= protein) semakin tinggi sehingga merangsang munculnya bunga. Fase vegetatif pun beralih menjadi generatif. Semua kuntum bunga mekar serempak dan tanaman layak panen. Dengan demikian panen cukup sekali. Karena bunga mekar serempak maka harga jual menjadi lebih tinggi. Keuntungan lain, persentase bunga mekar sempurna sangat tinggi, sedangkan yang gagal mekar hanya sedikit.

Tanaman yang terpenuhi semua kebutuhan nutrisinya akan tumbuh secara optimal. Dengan metode akuaponik, krisan menghasilkan spray bunga berkuntum banyak, berukuran besar, mekar serempak, dan tanpa defisiensi unsur hara. Pada akhir percobaan, bunga krisan potong yang dihasilkan, dijual ke konsumen bersama dengan bunga krisan lain produksi kebun. (Yos Sutiyoso, praktikus hidroponik dan aeroponik)

Tags: , ,

Powered by WishList Member - Membership Software