Kiat Rawat Boerka

Filed in Majalah, Satwa by on 14/09/2017
Pukul 10.00, boerka bermain-main di ladang penggembalaan.

Pukul 10.00, boerka bermain-main di ladang penggembalaan.

Tata laksana budidaya kambing boerka untuk menjaga pertumbuhan bobot.

Begitu pintu kandang itu terbuka, ratusan kambing boerka berlarian menuju padang rumput. Kambing-kambing bertubuh putih dan kepala cokelat itu meluapkan kegembiraan. Mereka berlari-lari, berputar-putar, atau beradu kuat dengan beradu kepala. Itu pemandangan lumrah setiap hari di Loka Penelitian Kambing Potong Seiputih, Sumatera Utara. Petugas membuka pintu kandang pada pukul 10.00.

Menu sarapan pagi kambing boerka berupa konsentrat.

Menu sarapan pagi kambing boerka berupa konsentrat.

Menurut kepala Balai Penelitian Ternak, Dr. Ir. Atien Priyanti, pada pukul 10.00, embun di rumput mengering sehingga tidak membahayakan lambung kambing. Sebelum membuka pintu, tiga petugas menghitung seluruh kambing. Bila jumlahnya sesuai, yakni 1.600-an, Ismail, dan tiga kawannya membersihkan ke-18 kandang. Mereka membersihkan kandang dari kotoran kambing. Satu jam kemudian atau pukul 08.30, Ismail membagikan pakan berupa konsentrat.

Tiga kali makan
Wadah konsentrat terdapat di setiap kandang sehingga memudahkan kambing menjangkaunya. Setiap kandang besar berukuran hampir 22 m x 22 m terbagi atas 24 ruang berukuran masing-masing 4 m x 4 m. Populasi di setiap ruang hanya 6—10 ekor. Petugas pun mengisi tempat minum yang kosong. Pada pukul 10.00, petugas melepaskan kambing-kambing remaja dan dewasa ke padang rumput.

Petugas memisahkan kambing jantan dan dewasa dengan kambing-kambing betina di kandang berbeda. Tujuannya agar tidak terjadi perkawinan sedarah atau induk dengan anak. Sejam berselang petugas mengembalikan kambing ke kandang. Di pojok-pojok kandang tergantung daun tarum alias indigofera yang banyak tumbuh di sekitar loka penelitian itu. Petugas kembali memberi pakan pada pukul 14.00.

Kambing boerka jantan dan betina bertemu dalam sebuah kandang hanya pada saat berahi.

Kambing boerka jantan dan betina bertemu dalam sebuah kandang hanya pada saat berahi.

Menu makan berupa cacahan rumput Brachiraria, B. bicola, Paspalum genatum, Panicum sp, dan king grass. “Dengan dicacah, kambing lebih mudah memakannya sehingga cepat habis. Sisa-sisa pakan pun tidak berceceran. Pada pukul 16.00, Ismail dan kawan-kawan kembali memberikan pakan rumput yang juga dicacah. Dengan demikian kambing itu tidak akan kelaparan saat malam. Silangan kambing boer dan kacang itu tiga kali makan dalam sehari, di luar merumput di padang gembalaan.

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi 1.600 kambing peliharaan, Lolit Kapo menyiapkan 30 ha lahan untuk budidaya rumput dan hijauan. Penanggung-jawab kebun rumput, Misro, membagi lahan itu menjadi 30 blok dengan luasan berbeda. Lahan untuk penanaman rumput Brachiraria ruziziensis, misalnya, seluas 30.000 m². Petugas membagi lahan itu menjadi 15 blok agar bisa panen berkelanjutan.

Setiap hari petugas memanen 3 ton rumput di lahan 1.000 m². Petugas membawa rumput itu ke bagian pengolahan untuk mencacah dengan mesin. Sisa rumput dipanen keesokan hari. Pada hari ke-tiga, petugas berpindah ke blok lain. Begitu seterusnya hingga panen balik ke blok pertama. Agar rumput tetap sehat, petugas menaburkan kotoran kambing di atas bonggol rumput sepekan setelah panen.

Panen bergilir

Pukul 12.00 dan 16.00, kambing makan siang dan malam.

Pukul 12.00 dan 16.00, kambing makan siang dan malam.

Hijauan sebagai sumber pakan antara lain tarum Indigofera sp. Luas penanaman 4 ha. Petugas memanen cabang-cabang pohon anggota famili Fabaceae itu. Volume panen 800 kg setiap hari. Panen berikutnya di pohon yang sama pada dua bulan kemudian. “Kecepatan tumbuhnya melebihi gamal yang mencapai 3—4 bulan baru siap panen,” kata Misro. Karena kandungan protein tinggi, daun tarum menjadi bahan konsentrat.

Menurut Dr. Ir. Atien Priyanti, sebagian kambing diberikan pakan khusus, campuran rerumputan, limbah kelapa sawit, dan dedak. Mereka mengolah 14 macam bahan dengan memanfaatkan potensi alam di sekitar Lolit Kapo. Hasilnya diperoleh konsentrat bergizi tinggi dengan biaya sangat rendah, Rp1.560 per kg. Kambing pun sangat menyukai dan menyehatkan, terlihat dari bulu bulu kambing yang lebat dan mengilap.

Ismail dan kawan-kawan juga bertindak selaku “penghulu” untuk mengawinkan kambing berahi. Betina yang sedang matang berahi (estrus) mengeluarkan aroma khas. Secara kasat mata, sulit mengetahui kondisi betina siap kawin. Untuk mengetahuinya, Ismail memanfaatkan seekor kambing pelacak berahi. Ia meletakkan kambing yang dikebiri itu di lorong-lorong kandang. Kambing jenis kacang akan mendatangi kandang betina-betina yang sedang estrus.

Kambing boerka, hasil silangan kambing boer dan kacang.

Kambing boerka, hasil silangan kambing boer dan kacang.

Petugas yang melihat tingkah si pelacak segera mengetahui adanya betina siap kawin. Ismail akan segera memilih pejantan yang tepat untuk mengawini betina berahi itu. Pertimbangan utama tentu saja pada silsilah yang tidak boleh kawin sedarah. Kandang pejantan memang terpisah dengan kandang betina sehingga tidak dapat kawin secara sembarangan. Petugas mendatangkan kambing jantan ke kandang betina saat akan memacak.

Petugas menempatkan 6—10 betina di kandang kawin. Pejantan itu secara alamiah dapat mengetahui betina yang estrus dengan membaui aroma betina. Meski sambil berlari-lari dan terhalang oleh rombongan betina, si pejantan mampu berkopulasi dalam waktu singkat, kurang dari 5 menit. Petugas akan mengembalikan jantan ke kandangnya. Satu pejantan sanggup berkopulasi 5 kali dalam sehari.

Lolit Kapo memiliki 20 pejantan dan sekitar 450 induk betina. Agar stamina tetap fit, pejantan mengonsumsi jamuan kuat. Bahan jamu kuat itu berupa rimpang jahe, temulawak, dan lempuyang. Lima bulan pascakopulasi, betina melahirkan 1—2 ekor anak kambing boerka. (Syah Angkasa)

Tags: , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software