Kiat Jaga Kualitas Cabai

Filed in Majalah, Sayuran by on 09/01/2019

Kesegaran cabai bakal lebih panjang setelah pencucian ke mesin ozon.

Tingkat kehilangan cabai mencapai 20—40%. Inovasi untuk mencegah kehilangan sekaligus mendongkrak mutu.

Pekebun cabai merah keriting di Desa Sugihmas, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, semringah lantaran harga jual cabai lebih tinggi daripada harga pasaran. Pengepul bersedia menambah Rp2.000—Rp3.000 per kilogram cabai. Menurut penyuluh pertanian di Desa Sugihmas, Eko Tatag Suhono, mutu cabai yang bagus membuat harga jual lebih tinggi.

Panen dan passcapanen yang baik menyebabkan cabai seragam, segar, dan tahan lama (baca ilustrasi: Awet karena Ozon). Eko menuturkan setahun belakangan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Maju Mandiri melakukan rangkaian inovasi pascapanen untuk meningkatkan mutu produk. Para petani antara lain merendam buah cabai dalam larutan ozon. “Dengan begitu baik pekebun maupun pedagang sama-sama diuntungkan,” kata Eko.

Keuntungan ganda

Menurut Eko pencucian cabai ke mesin ozon memiliki dua keuntungan yakni memperpanjang kesegaran cabai sekaligus meluruhkan sisa pestisida yang menempel. Selain itu perendaman sekaligus menghambat perkembangan penyakit patek akibat serangan antraknosa. Menurut Ir. Yoga Susila M.M. dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Magelang, kerugian pascapanen cabai mencapai 20—30%.

“Teknologi untuk pengurangan kerugian pascapanen cabai sesuai dan sangat diperlukan untuk dilaksanakan di Kabupaten Magelang,” ujar Yoga. Hasil dari perlakuan rangkaian tindakan pascapanen itu cukup menggembirakan. Perlakuan ozon dan penyimpanan pada suhu rendah mampu menghambat respirasi dan transpirasi cabai sehingga kehilangan air pun berjalan lambat. Dampaknya, kehilangan hasil bisa ditekan hingga 10%.

Lewat perlakuan pascapanen yang benar mutu cabai tetap terjaga baik warna, tekstur, maupun kesegarannya. Setelah panen proses metabolisme tetap berlangsung sehingga memicu layu. Rangkaian teknologi pascapanen itu berjalan dengan arahan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Kehilangan hasil pascapanen cabai mencapai 30%.

Menurut peneliti muda di BB Pascapanen, Dr. Siti Mariana Widayanti teknologi yang diperkenalkan adalah teknologi sederhana. Para petani pun mudah menerima dan menerapkan. Selama ini pekebun enggan melakukan lantaran terkesan repot. Padahal, dengan perlakuan pascapanen yang benar, mutu cabai jauh lebih baik. Selain itu kehilangan hasil berkurang signifikan.

Dr Joni Munarso dan Dr. Siti Mariana Widayanti (kanan), periset di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian.

Menurut peneliti utama di BB Pascapanen, Dr. Joni Munarso, di di tanah air kehilangan hasil pascapanen pada cabai merah keriting cukup tinggi. Masyarakat menyukai cabai segar untuk membuat beragam bumbu dan hidangan. Kehilangan hasil cabai segar diperkirakan mencapai 20—50% dari total rantai pasar mulai dari panen hingga ke pasar induk.

“Selain perlakuan pascapanen yang buruk, rantai pasar yang terlalu panjang juga menjadi pemicu,” kata Joni. Menurut Joni untuk menjaga mutu cabai sebaiknya pekebun langsung menjual cabai ke pengepul besar. Dengan begitu rantai pasar yang dilalui lebih pendek. Perlakuan pascapanen selayaknya dilakukan karena cabai merupakan komoditas penting di tanah air.

Kebutuhan cabai segar amat besar dengan harga yang berfluktuasi setiap tahun bahkan bisa berimbas pada inflasi. “Dengan perlakuan pascapanen yang benar diharapkan ketersediaan dan mutu cabai di pasar tetap terjaga,” kata Joni. Para pekebun di Grabag, Kabupaten Magelang, telah membuktikannya. Mereka menerima harga lebih tinggi karena kualitas cabai meningkat. (Andari Titisari)

Tags: , , , , , , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software