Karena Sumpah Scarlett O’Hara

Filed in Uncategorised by on 01/06/2012 0 Comments

Di rumahnya yang hancur-lebur, Scarlett O’Hara bersumpah mengembalikan kejayaan Tara. Nun di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sunarti bersumpah, tanah gersang menjadi hijau kembali.

Scarlett, tokoh protagonis dalam novel Gone with the Wind karya Margareth Mitchell yang kemudian difilmkan di Hollywood dengan judul sama, tumbuh dewasa di Tara, sebuah tanah pertanian yang subur di Georgia, Amerika Serikat. Perang saudara pada awal abad ke-20 menyebabkan tanah pertanian milik keluarga itu luluh-lantak.

Lima tahun lalu Sunarti Imam Abrar menemukan lahan 60 ha yang rencananya dijadikan lokasi pabrik air mineral dalam kemasan. Di sana di kedalaman 150 m di bawah permukaan tanah terdapat sumber air tanah. Sayang, permukaan tanah miring sehingga supaya layak dijadikan lahan usaha perlu diratakan dengan teknik mengupas dan menimbun. Akibatnya lapisan atas tanah setebal 2 m hilang terkelupas. Tanah cadas bercampur kerikil di lapisan bawah pun tersingkap. Di atas tanah miskin hara itu rumput dan ilalang pun enggan tumbuh.

Gersang

“Ironis sekali, di lokasi sumber air, tapi tanah permukaannya gersang dan kering kerontang. Saya bersumpah menghijaukan kembali tanah di atas,” kata ketua Asosiasi Pengusaha Tambang Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan, itu. Menurut Mawardi SP MSc, ahli tanah dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menyulap tanah subsoil menjadi subur bukan perkara mudah.

Prinsipnya sederhana, tapi mahal dan lama. Misal dengan memasukkan bahan organik sebanyak mungkin, mencapai 20-30 ton per ha. Cara lain dengan menanam tanaman perintis seperti Acacia mangium.

Sunarti memilih menanam buah naga. Putranya mendengar kerabat kaktus itu banyak dikebunkan di Pulau Jawa. Buah naga mampu hidup di tanah berpasir yang miskin hara. Sunarti pun mendatangkan 1.600 bibit dari Malang, Jawa Timur. Lalu menanamnya di 400 tiang panjatan berjarak tanam

4 m x 4 m. Ke dalam  setiap lubang tanam berukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm Sunarti memasukkan 25-30 kg kotoran sapi matang dan 3 genggam dolomit CaMg(CO3)2.

Selanjutnya setiap 6 bulan ia menambahkan 50 kg pupuk kandang sapi atau kambing per tiang atau 100 kg per tahun. “Saya jor-joran pakai pupuk organik. Hitung-hitung reklamasi lahan,” katanya. Bandingkan dengan kebanyakan pekebun buah naga di Batam, Provinsi Riau, atau di Pulau Jawa yang hanya memberikan 12-25 kg pupuk kandang per tiang per tahun. Pekebun biasanya menambahkan pupuk anorganik seperti NPK 0,72-1,2 kg per tiang per tahun.

Menurut Daniel Kristanto, pekebun buah naga di Jombang, Jawa Timur, pemberian pupuk kandang dalam jumlah lebih banyak masih ekonomis. Harga sekarung kotoran sapi isi 50 kg paling tinggi Rp20.000 jika pembelian massal. Artinya Sunarti hanya mengeluarkan Rp40.000 per tahun per lubang tanam untuk pemupukan. Bandingkan dengan harga buah naga daging merah superred di kebun yang minimal Rp15.000 per kg. Dengan panen per tiang sebanyak 10 kg saja pengeluaran untuk pupuk kandang sudah langsung tertutupi. Padahal, produksi buah naga per tiang dapat mencapai 20-25 kg pada umur 3-5 tahun.

Reklamasi

Dengan pupuk jor-joran itu impian istri Imam Abrar, komisaris PT Amanah Group-yang bergerak di pertambangan, perkebunan, dan air mineral-untuk  menghijaukan halaman pabrik terwujud. Sulur buah naga yang ditanam pada awal 2008 mulai berbunga 8 bulan pascatanam. Jumlahnya mencapai 2.000-an bunga.

Dari bunga pertama itu Sunarti memanen 500 buah berbobot 300-400 g atau total 1,5-2 ton. Itu berarti hanya 25% bunga menjadi buah. Pada musim berikutnya peluang bunga menjadi buah mencapai 60%. Lonjakan itu karena pekerja melakukan penyerbukan buatan. “Pada saat musim berbunga kami menjadwalkan kegiatan penyerbukan sebanyak 4 kali sebulan,” kata Sukirno, pengelola kebun. Pada musim panen kedua Sunarti menuai minimal 3 ton buah naga. Sukses itu membuat Sunarti memperluas kebun. Dengan bibit hasil perbanyakan sendiri ia menanam 2.800 tiang-setara 11.200 tanaman-di lahan 4 ha.

Menurut Ir Sudin Panjaitan, ahli silvikultur dari Balai Penelitian Kehutanan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, buah naga cocok dijadikan alternatif tanaman reklamasi untuk lahan yang dikupas karena teknik budidayanya unik. “Bahan organik yang diberikan setiap 6 bulan tak perlu dibenamkan pada lubang tanam seperti menanam pohon kayu. Cukup ditebar di permukaan tanah di sekitar tiang,” kata Sudin. Menurut Gun Sutopo, pekebun buah naga di Yogyakarta, itu karena akar serabut buah naga cenderung tumbuh di permukaan tanah.

Teknik itu secara tidak langsung membuat semua permukaan tanah terlapisi bahan organik. “Saat hujan sedikit demi sedikit bahan organik menyebar ke luar daerah perakaran karena terbawa aliran permukaan,” kata Mawardi. Akibatnya proses pemulihan lahan jauh lebih cepat, hanya 1-2 tahun. Bandingkan dengan penanaman tanaman kayu. Umumnya hanya daerah di sekitar tajuk saja yang pulih setelah 5 tahun.

Pantas kini Sunarti giat mengampanyekan penanaman buah naga pada pengusaha tambang yang kebingungan mereklamasi lahan. “Saya sudah membuktikan, reklamasi tak identik dengan lama dan mahal,” katanya. (Ridha YK, kontributor Trubus, Kalimantan Selatan)

 

Keterangan Foto :

  1. Imam Akbar dan Sunarti kampanyekan penanaman buah naga untuk reklamasi tanah bekas tambang
  2. Rasanya manis karena berasal dari tanaman yang dibudidayakan secara organik
  3. Lahan kembali hijau dalam waktu 2-3 tahun
  4. Untuk mempertinggi produksi buah dilakukan penyerbukan buatan

Powered by WishList Member - Membership Software