Jangan Sembarang Sambung Mangga!

Filed in Buah by on 31/05/2011

Pohon mangga 4 rupa di halaman rumah SutadiMangga gadung besar dan manis, pohonnya pun cepat tumbuhItulah yang dialami hobiis tanaman buah di Cipete, Jakarta Selatan, Sutadi Pujo Utomo. Pensiunan sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu menanam mangga podang yang ditempel dengan 3 jenis mangga lain: okyong, gadung madu, dan golek. Sutadi juga mempertahankan cabang dari batang bawah, yaitu podang.

Namun, dari keempatnya, cuma mangga gadung madu yang akrab di lidah Sutadi karena paling rajin berbuah. Saat reporter Trubus, Pranawita Karina, mengunjungi kediaman Sutadi, cabang yang disambung dengan gadung madu tengah berbuah lebat. Sebanyak 190 buah seukuran 2 kepalan tangan orang dewasa tampak bergelayut. Saking lebatnya, Sutadi sampai harus menopang dahan dengan bambu agar buah tidak menyentuh tanah.

Selain lebat, gadung yang dihasilkan juga rata-rata berukuran jumbo. Beberapa di antaranya bahkan mencapai bobot 1 kg per  buah. Padahal biasanya paling pol 400 – 450 g. Rasanya juga manis dengan tingkat kemanisan hingga 13o briks.

Banyak faktor

Empat jenis mangga dalam 1 pohon itu diperoleh Sutadi pada 1998 dari seorang kerabat di Blitar, Jawa Timur. Lantaran tergolong unik, ia pun tertarik menanam. Maklum, jika semua berbuah, ia bisa mencecap citarasa 4 jenis mangga sekaligus.

Sayang, sejak awal tanam hanya gadung yang tumbuh melesat. Pada umur 12 tahun, diameter cabangnya mencapai 15 cm. Sedangkan ketiga jenis mangga lain paling cuma 10 – 11 cm.

Itu karena hanya gadung madu yang tumbuh optimal. “Podang dan golek pernah berbuah, tapi hanya sedikit. Itu pun sering rontok sebelum matang,” ujar Sutadi. Bahkan cabang yang disambung okyong hingga kini belum pernah berbuah.

Menurut ahli buah di Bogor, Drs H Hendro Sunarjono, banyak faktor mempengaruhi keseragaman pertumbuhan mangga yang tersambung dengan beberapa entres. Contohnya, kadar hormon endogen pada setiap mata tunas berbeda-beda. “Biasanya hormon itu paling banyak ada di tunas teratas atau terbawah. Tidak pernah di tunas tengah,” kata Hendro. Selain itu, tunas yang di tengah tumbuh paling lambat lantaran selalu terlambat memperoleh pasokan hara dan air. Makanya Hendro tidak merekomendasikan penyambungan atau penempelan dengan mata tunas di tengah.

Kepala Pusat Kajian Buah Tropika Institut Pertanian Bogor (PKBT IPB), Sobir PhD, menuturkan ukuran batang bawah turut andil terhadap keseragaman pertumbuhan. “Sebaiknya gunakan batang bawah berukuran 3 kali ukuran entres,” katanya. Batang bawah yang terlalu kecil jelas tidak akan mampu memasok nutrisi secara merata. Entres yang digunakan mesti berasal dari pohon yang menjelang atau sudah pernah berbunga. Pada kondisi itu, rasio karbohidrat (C) dan nitrogen (N) alias C/N ratio sudah optimal sehingga pertumbuhannya lebih baik setelah disambung.

Kecepatan tumbuh

Menurut penangkar buah di Cijantung, Jakarta Timur, Eddy Soesanto, pertumbuhan tidak seragam juga disebabkan tingkat kecepatan pertumbuhan setiap jenis mangga berbeda-beda. Beberapa jenis mangga pertumbuhannya cepat – biasanya berdaun lebar dan panjang seperti gadung, dan indramayu. Sedangkan podang, arumanis, okyong, dan golek, kecepatannya sedang. Mangga kelapa, gedong gincu dan apel yang berdaun sempit dan ramping pertumbuhannya lebih lambat.

Eddy menyarankan sebaiknya gunakan jenis mangga yang pertumbuhannya cepat untuk batang bawah. Sedangkan untuk entres gunakan jenis mangga yang kecepatan tumbuhnya seragam, misalnya seluruhnya jenis sedang atau lambat. “Jika berbeda maka yang pertumbuhannya lebih lambat akan tertinggal dan tidak tumbuh optimal,” ujarnya.

Penangkar buah di Demak, Jawa Tengah, Prakoso Heryono, menuturkan pada kasus Sutadi, ketiga jenis mangga lain dapat dipacu agar tumbuh lebih optimal. Caranya dengan menyemprotkan pupuk daun hanya di ketiga cabang mangga yang tumbuh merana. Perlakuan itu dibarengi pemangkasan mangga gadung hingga batang tersisa 20 cm dari pangkal percabangan. Pemangkasan 2 – 3 kali setahun itu bertujuan, “Memberikan waktu kepada cabang jenis lain untuk mengejar ketertinggalan,” kata pemilik nurseri Satya Pelita itu. Dengan perlakuan itu, asa menikmati 4 jenis mangga dari 1 pohon diharapkan bakal terwujud. (A. Arie Raharjo/Peliput: Pranawita Karina)

Powered by WishList Member - Membership Software