Jabon: Laba Segar Masa Depan

Filed in Topik by on 05/07/2010 0 Comments

 

Tinggi pohon berumur 6 tahun itu 30 – 40 m dan berdiameter rata-rata 40 cm. Harga jual Rp300.000 per pohon relatif murah karena ketika itu Setiawan sedang memerlukan uang dalam jumlah besar. Sebelumnya, pada 2006 pekebun di Desa Bendo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, itu menjarangkan 112 pohon yang memberikan Rp30-juta. Dari total 1.250 bibit yang ia budidayakan, 138 bibit di antaranya mati sepekan setelah penanaman. Menurut sulung 3 bersaudara itu biaya produksi selama 6 tahun mencapai R13-juta.

Masih asing mendengar nama kayu jabon? Pohon anggota famili Rubiaceae itu saat ini memang tak sepopuler jati, meranti, atau sengon. Pekebun di berbagai daerah seperti Cianjur dan Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Cilacap dan Banyumas (Jawa Tengah), serta Kediri (Jawa Timur) baru beramai-ramai menanam jabon sejak 2008. Artinya umur pohon mereka, pada saat ini 1 – 2 tahun. Wajar jika masih jarang pekebun yang memanen jabon hasil budidaya. Saat ini penjualan kayu jabon ke produsen kayu sebagian besar berasal dari pohon yang tumbuh liar di pekarangan.

Berbondong-bondong

Dua tahun terakhir, masyarakat di berbagai daerah berbondong-bondong membudidayakan jabon Anthocephalus cadamba. Maraknya penanaman jabon tampak dari lonjakan penjualan bibit. Trubus menghubungi 10 penyedia bibit jabon. Penjualan bibit mereka dalam 2 tahun terakhir melonjak pesat. PT Silva Tropika Kultur di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, misalnya, rata-rata menjual 3.000 bibit per bulan pada 2010. Menurut Meli Herawati dari PT Silva Tropika Kultur setahun sebelumnya volume penjualan rata-rata hanya 500 bibit per bulan.

Hadi Parmono, penjual bibit di Desa Pingit, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sanggup menjual 1.000 bibit sepekan. Pada Maret 2010, ketika ia mulai berniaga bibit jabon, volume penjualan baru 1.000 bibit per 3 pekan. Agus Imam Setyanto, pembibit di Desa Damar, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, juga mengalami kenaikan penjualan hingga 20%.

Sejak pertama kali berniaga bibit jabon pada Oktober 2009 hingga kini (29 Mei 2010), Agus menjual 600.000 – 700.000 bibit setara 600 – 700 ha. Ia menjual bibit berumur 3 bulan setinggi 40 – 60 cm Rp1.750 per polibag. Harga bibit jabon turun tajam dalam beberapa bulan ini akibat banyaknya pembibit. ‘Pada Oktober 2009 saya masih bisa menjual dengan harga Rp4.000, tetapi harga itu terus menurun sampai pada Mei 2010 saya hanya jual Rp1.750,’ tutur Agus.

Menurut Dr Ir Sri Rahayu MP, ahli Patologi Hutan Universitas Gadjah Mada, para pekebun membudidayakan jabon, ketika sengon terserang karat tumor. Penyakit akibat cendawan Uromycladium tepperianum meluluhlantakkan sengon di berbagai sentra. Di Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Temanggung, dan Wonosobo – semua di Provinsi Jawa Tengah –  tercatat luas serangan 9.604 ha atau sepertiga dari total luas tanam. ‘Sengon tak bisa dipaksakan untuk ditanam terus dalam kondisi penyebaran penyakit karat tumor seperti sekarang,’ kata Sri Rahayu.

Persis yang dialami Ardha Primatopan yang mengebunkan sengon di lahan 17 ha pada 2008. Pekebun di Kendal, Jawa Tengah, itu sudah mendengar karat tumor di Temanggung. Namun, ia menduga penyakit itu tak akan ‘mampir’ di kebunnya. Enam bulan pascatanam, cendawan itu mengamuk dan menghancurkan bibit sengon. Itulah yang menyebabkan ia beralih menanam jabon. Bahkan ia bukan hanya menanam jabon di lahan 17 ha, tetapi juga membuka kemitraan. Kini direktur CV Jabon Kendal itu menjalin kemitraan dengan pekebun di lahan 150 ha (baca: Bergandeng Tangan Tanam Kadamba halaman 22 – 24).

Karat tumor pertama kali ditemukan di Indonesia pada 1996 atau 125 tahun sejak penanaman sengon pertama kali di Kebun Raya Bogor pada 1871. Sengon berasal dari Pulau Seram, Provinsi Maluku. Menurut Dr Ir Eko Bhakti Hardiyanto, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, serangan hama atau penyakit secara besar-besaran tergantung spesies organisme pengganggu tanaman dan spesies pohon.

Saat ini siapa pun sulit memprediksi kemungkinan terjadinya ledakan penyakit pada jabon. Eko mengatakan beberapa faktor yang mempengaruhi ledakan penyakit adalah mobilisasi organisme penyebab penyakit, jarak antarlahan jabon, agroklimat, dan lingkungan. Sementara itu Dra Ila Anggraini, peneliti hama dan penyakit dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bogor, mengatakan saat ini jabon relatif tahan organisme pengganggu. Jika terdapat serangan pun masih sporadis. Menurut Sri Rahayu kemungkinan penyakit karat tumor pada sengon tidak menyerang jabon karena spesies keduanya berbeda.

Tiga kali panen

Pertumbuhan tanaman yang cepat menjadi daya tarik bagi pekebun. Menurut Dr Ir Irdika Mansur MForSc, dosen di Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, riap tumbuh jabon 7 – 10 cm per tahun (lihat infografis). Keistimewaan lain, ‘Jabon itu tanam satu kali  bisa 2 – 3 kali panen. Jabon setelah ditebang akan bertunas kembali. Tunas tumbuh sangat cepat dan kalau dibiarkan akan jadi pohon yang siap tebang dalam waktu yang lebih pendek karena akar induk yang ditebang sudah luas dan dalam dibanding tanaman baru dari bibit,’ ujar Irdika.

Irdika yang juga peneliti Seameo Biotrop (Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology) pernah memanen sebuah pohon jabon. Ketika tunggul atau bekas tebangan itu dibiarkan, kemudian tumbuh menjadi pohon baru. Namun, ia belum menyaksikan tanaman ‘generasi kedua’ itu panen.

Selain itu pohon anggota famili kopi-kopian itu juga multiguna antara lain sebagai bahan baku kayulapis, papan blok, korek api, dan mainan. Menurut Sukandar dari PT Sumber Graha Sejahtera, produsen kayu di Tangerang, Provinsi Banten, tekstur jabon yang halus, arah serat lurus, dan berwarna merah sehingga terkesan mahal. ‘Dulu jabon tak dilirik karena jenis-jenis kayu seperti meranti masih tersedia banyak. Sekarang (meranti) sudah habis. Agar bisa bertahan, industri menyesuaikan teknologi dengan menggunakan mesin yang bisa mengolah jenis kayu apa pun,’ kata Dr Ir Bambang Sukmananto, direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan, Kementerian Kehutanan.

Bambang mengatakan kayu lapis jabon tak kalah berkualitas dibanding kayu-kayu lain. Dengan kelebihan itu, jabon dapat berfungsi sebagai face (bagian kayu lapis yang di depan) atau back (belakang) dalam industri kayulapis dan papan blok. Sementara itu industri kayu memanfaatkan sengon hanya sebagai core (bagian tengah). Menurut Prof Dr Ir Surdiding Efendi dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, jabon mempunyai prospek untuk dikembangkan di hutan tanaman industri, karena kayunya cocok untuk berbagai penggunaan, khususnya sebagai bahan baku vinir dan kayulapis.

Terbatas

Selain itu kayu jabon mudah dibuat vinir tanpa perlakuan pendahuluan dengan sudut kupas 92 derajat untuk tebal vinir 1,5 mm. Dengan seabrek keistimewaan itu pantas jika banyak industri kayu berharap pada jabon. Perusahaan yang mengolah kayu jabon antara lain PT Serayu Makmur Kayuindo (SMK) yang mengelola total 3 pabrik, masing-masing sebuah pabrik di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Banjarnegara (Jawa Tengah), dan Cirebon (Jawa Barat). Menurut Priyono dari SMK, dari ketiga pabrik baru di Lumajang yang sudah mengolah jabon.

Sebab, pasokan kayu jabon memang terbatas dan baru ada di daerah Lumajang. Priyono mengatakan bahwa Sumber Makmur Kayuindo di Lumajang memerlukan 99 m3 kayu jabon per hari. Namun, akibat terbatasnya pasokan baru terpenuhi 9 m3 per hari. Jika pasokan memadai, kebutuhan kayu kerabat kopi itu makin meningkat. Sebagai gambaran kebutuhan pabrik di Desa Rawaurip, Kecamatan Kanci, Kabupaten Cirebon, juga mencapai 99 m3 per hari. Industri lain yang memerlukan jabon adalah PT Kutai Timber Indonesia.

Perusahaan itu sejak 2006 menjalin kemitraan dengan pekebun di Kecamatan Krucil dan Tritis, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Hingga kini perusahaan itu menanam setidaknya 1-juta pohon yang akan panen pada 2 – 3 tahun mendatang. Menurut Agus Setiawan SHut dari PT Kutai Timber Indonesia (KTI), pasokan jabon masih sangat terbatas, 2 – 10 m3 per sekali kirim. KTI membeli kayu berdiameter 30 cm Rp1-juta per m3. Itu harga beli di lokasi pabrik yang lebih tinggi ketimbang harga sengon.

Dengan diameter sama, perusahaan berumur 36 tahun itu membeli sengon Rp700.000/ m3. KTI mengolah kayu jabon itu sebagai kayu lapis dan papan blok yang diminati Jepang. Negeri Matahari Terbit itu rawan gempa sehingga memilih bahan papan yang ringan seperti jabon. Setiap bulan KTI memerlukan 45.000 m3 kayu. ‘Kami siap menampung berapa pun pasokan jabon,’ kata Capt M Sain Latief dari PT Kutai Timber Indonesia.

PT Sekawan Sumber Sejahtera, industri di Temanggung, Jawa Tengah, yang kini bermitra dengan para pekebun juga mengharap pasokan jabon secara rutin. Jika saat ini ada pasokan jabon, PT Sekawan Sumber Sejahtera siap menerima. Krishna Pryana dari PT Sekawan Sumber Sejahtera menetapkan harga beli di lokasi pabrik Rp540.000 – Rp1,1-juta per m3 tergantung diameter dan panjang kayu. Sebagai gambaran harga kayu berdiameter 20 – 24 cm dan sepanjang 130 cm mencapai Rp740.000; diameter minimal 50 cm dan sepanjang 260 cm, Rp1,1-juta per m3.

Menurut Krishna, perusahaannya lebih memilih kayu jabon berdiameter 25 – 29 cm (harga di pabrik Rp820.000 per m3) dan diameter 30 – 39 (Rp920.000 per m3) dan sepanjang 260 cm. Kebutuhan kayu PT Sekawan Sumber Sejahtera mencapai 6.000 m3 per bulan. Kebutuhan itu setara 30 ha jika populasi mencapai 400 pohon per ha (setelah penjarangan) dan dipanen pada umur 6 tahun. Itu jika volume produksi hanya 0,5 m3 per pohon.

Serapan pasar

Dua tahun terakhir masyarakat bergairah mengebunkan jabon. Sayang, tak tersedia data luas tanam jabon per tahun sehingga sulit memprediksi volume panen. Luas penanaman dari yang berskala kecil hingga sangat luas. Kingkin Suroso SE, Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Puspomal), menanam 2.000 jabon di areal kantor Puspomal, Jakarta Utara seluas 5 ha. Aat Aminuddin dan pekebun lain di Cisokan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menanam jabon seluas 272 ha. Populasi per ha mencapai 1.000 bibit yang kini berumur 6 bulan. Di berbagai daerah, antusiasme menanam jabon juga tampak.

Artinya 5 – 6 tahun ke depan, mereka mulai panen. Pasar sanggup menampung produksi mereka? ‘Kurang malah. Kayu itu tak dapat tergantikan dengan plastik atau besi sekali pun. Kebutuhan manusia akan kayu terus meningkat,’ kata Krishna Pryana. Agus Setiawan dari PT Kutai Timber Indonesia juga sepakat, pasar sanggup menyerap jabon. Ia menggambarkan ketika pekebun ramai membudidayakan sengon, harganya justru terus meningkat. Jika 10 tahun lalu harga sengon Rp100.000, kini melonjak menjadi Rp700.000 per m3.

Dr Irdika Mansur MForSc, ahli silvikultur, mengatakan harga kayu memang cenderung naik karena kelangkaan, jarak, dan inflasi. Kayu cenderung langka sehingga harganya pun kian meningkat. Itulah sebabnya, untuk menyiasatinya Sukandar mengatakan bahwa industrilah yang kini menyesuaikan mesin dengan ketersediaan kayu. Dulu sebaliknya, kayu harus menyesuaikan dengan mesin. Namun, menurut Sukandar untuk mengolah jabon, industri tak perlu mengganti mesin yang selama ini dimanfaatkan untuk mengolah sengon.

Dengan demikian, ‘Menanam jabon tak ada ruginya. Jika dana pembelian 1.000 bibit untuk lahan sehektar Rp3,5-juta kita taruh di bank, 5 tahun lagi menjadi berapa? Bandingkan jika menanam jabon, dengan harga jual minimal Rp100.000 per pohon, petani memperoleh Rp100-juta,’ kata Irdika. Harga Rp100.000 per pohon itu berdasar pengalaman Irdika yang menebang sebuah pohon berumur 3 tahun. Pengepul membeli pohon muda itu Rp100.000. ‘Tak ada kata rugi, yang ada keuntungan berkurang,’ kata Irdika yang kini getol mengkampanyekan penanaman jabon. Menanam jabon sekarang, laba segar masa depan. (Sardi Duryatmo/Peliput: Argohartono, Faiz Yajri, Nesia Artdiyasa, & Tri Susanti)

 

  1. Bibit jabon umur 4 bulan pascasemai, siap tanam
  2. Dr Irdika Mansur MforSc
  3. Pabrik PT Kutai Timber Indonesia, perlu jabon dalam jumlah besar
  4. Hendrikus Setiawan, panen jabon hasil budidaya
  5. Bibit jabon hasil perbanyakan dengan teknologi kultur jaringan. Lokasi: Laboratorium Kultur Jaringan Seameo Biotrop, Bogor, Jawa Barat
  6. Jabon berumur 3 tahun berdiameter 30 cm. Lokasi di Desa Sempuhgembol, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo
  7. Benih jabon (kiri ke kanan): paling bersih, agak kotor, dan benih kotor bercampur dengan kulit
  8. Kayu lapis asal jabon berumur 4 tahun produksi PT Serayu Makmur Kayuindo
  9. Pertumbuhan Jabon
  10. Ekspor hasil hutan

 

 


Powered by WishList Member - Membership Software