Ir. Ai Dudi Krisnadi: Bawa Moringa ke Pasar Dunia

Filed in Majalah, Profil by on 11/12/2017
Ai Dudi Krisnadi memasarkan produk olahan kelor ke mancanegara.

Ai Dudi Krisnadi memasarkan produk olahan kelor ke mancanegara.

Ir. Ai Dudi Krisnadi memproduksi aneka olahan kelor untuk memenuhi permintaan pasar mancanegara.

David Clifton jauh-jauh datang dari Vietnam untuk menetap sementara di kediaman Ir. Ai Dudi Krisnadi di Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Di sana, pemilik perusahaan perdagangan asal Kanada itu turut memanen kelor di kebun. Ia juga mengamati tahap demi tahap pengolahan kelor di Pusat Pembelajaran Moringa Organik Indonesia milik Dudi.

Dudi dan David tengah mempersiapkan kerja sama produksi aneka olahan Moringa oleifera untuk memenuhi pasar negara-negara di Benua Eropa dan Amerika. Mereka bekerja sama karena kualitas serbuk kelor yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan produk dari negara-negara sentra produksi kelor lain di dunia. “Salah satu pembeli dari Jerman menguji kandungan nutrisi kelor produksi Dudi dan kandungan nutrisinya paling baik,” ujar David.

Pangan super

Kelor mendapat julukan sebagai super food karena kaya kandungan nutrisi.

Kelor mendapat julukan sebagai super food karena kaya kandungan nutrisi.

Menurut Dudi, kandungan nutrisi merupakan aspek paling penting yang menjadi indikator kualitas kelor. Pasalnya, Food and Agricultural Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) menggadang-gadang moringa—sebutan kelor di dunia internasional—sebagai pangan super. Sebab, kandungan nutrisi kelor yang luar biasa. Menurut Dudi kandungan potasium atau kalium serbuk kelor 15 kali lebih tinggi daripada pisang.

Kalium adalah salah satu unsur penting yang diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan jantung. Keunggulan lain, kandungan vitamin A serbuk kelor 10 kali lebih tinggi daripada wortel, kandungan zat besi 25 kali lebih tinggi daripada bayam, vitamin C setengah kali dari jeruk, kalsium 17 kali lebih tinggi daripada kalsium susu, dan protein 9 kali lebih tinggi daripada yoghurt. Itulah sebabnya beberapa negara memanfaatkan kelor untuk mengatasi kekurangan gizi. David menuturkan moringa juga menjadi salah satu sumber nutrisi masyarakat di Eropa yang peduli hidup sehat. “Masyarakat di sana mengolah serbuk moringa menjadi salah satu bahan smoothie,” ujar David.

Dudi mengolah daun kelor dengan prosedur ketat untuk menjaga kandungan nutrisinya. “Proses pengolahan daun moringa harus segera dilakukan maksimal 4 jam setelah panen,” ujar Dudi. Setelah memisahkan daun hasil panen dari ranting, para karyawan bergegas mencuci dan mengeringkannya. Proses pengeringan berlangsung dalam ruangan. Dudi mengatur suhu di ruang pengeringan maksimal 35°C dan kelembapan 46% agar tidak merusak kandungan nutrisi. Daun kelor kering setelah 3 hari pengeringan. Selanjutnya Dudi menggiling daun kering menjadi serbuk hingga tingkat kehalusan 200 mesh.

Hasil panen daun kelor dikeringkan di dalam ruangan bersuhu 35°C.

Hasil panen daun kelor dikeringkan di dalam ruangan bersuhu 35°C.

Omzet setengah miliar
Daun kelor serbuk itu menjadi bahan baku teh daun kelor celup. Pria 48 tahun itu juga mengolah daun kelor menjadi tepung yang lebih halus, yakni hingga berukuran 500 mesh. “Tepung daun kelor seukuran debu itu dapat digunakan sebagai bahan campuran produk apa pun baik itu makanan, kapsul, atau kosmetik,” ujar Dudi. Untuk menghasilkan tepung sehalus itu caranya dengan mengisap “debu moringa” saat proses penepungan daun kering.

Tamu dari berbagai negara berdatangan untuk mempelajari budidaya dan pengolahan kelor. Dudi menjual sebagian besar produk tepung dan olahan kelor ke mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, Myanmar, Korea Selatan, dan negara-negara lain di Benua Afrika, Eropa, serta Amerika. “Pasar Indonesia malah sedikit karena masyarakat kita beredar mitos kalau kelor berhubungan dunia mistis,” ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Jawa Barat, itu.

PHS_Rework_2017_181x45Untuk pasar lokal, Dudi memasarkan aneka produk olahan kelor melalui 71 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam sebulan Dudi mampu menjual rata-rata 2 ton tepung daun kelor dengan harga Rp250.000 per kg atau total omzet rata-rata Rp500 juta per bulan. Tepung daun kelor itu menjadi bahan baku berbagai olahan, seperti teh, aneka jenis makanan, kapsul herbal, dan aneka produk kosmetik.

Beragam produk olahan berbahan baku daun kelor yang diproduksi oleh Kelorina.

Beragam produk olahan berbahan baku daun kelor yang diproduksi oleh Kelorina.

Dudi memperoleh pasokan bahan baku kelor dari pekebun mitra, salah satunya Felix Bram Samora. Pemuda asal Blora itu mengebunkan kelor secara organik di lahan 3 hektare sejak 2014. Lokasi kebun bersebelahan dengan area pengolahan kelor milik Dudi. “Idealnya lokasi kebun dekat dengan lokasi pengolahan karena hasil panen daun kelor harus segera diolah sebelum 4 jam,” tutur Dudi.

Dari kebun seluas itu Bram memanen rata-rata 500 kg daun kelor segar setiap dua hari. Ia menjual hasil panen itu ke Dudi yang lantas mengeringkannya. Pengeringan menghasilkan 50 kg daun kelor atau rendemen 10%. “Setiap bulan saya harus membayar ke Bram rata-rata Rp75 juta,” ujar Dudi sambil tersenyum. Selain dari Bram, Dudi juga memperoleh pasokan tepung daun kelor dari para pekebun di Nusa Tenggara Timur. Dudi tak menyangka kelor kini menjadi penyangga ekonomi keluarga. “Dulu tidak pernah terpikir untuk berbisnis kelor,” ujar produsen olahan kelor bermerek Kelorina itu.

Sosialisasi

Ir. Ai Dudi Krisnadi (kanan) dan Felix Bram Samora bekerja sama mengembangkan kelor di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Ir. Ai Dudi Krisnadi (kanan) dan Felix Bram Samora bekerja sama mengembangkan kelor di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Semula Dudi “berburu” tanaman kelor untuk konsumsi sendiri. “Saat itu saya hanya mengonsumsi kelor selama 6 bulan untuk memastikan keamanan sebelum mengajak orang lain,” ujar pria yang juga gemar menulis itu. Ia mengolah daun tanaman anggota famili Moringaceae itu menjadi sayur dan teh. “Ternyata aman dan tubuh saya menjadi lebih bugar,” kata Dudi. Sejak itu ia pun gencar mensosialisasikan manfaat kelor di beberapa daerah.

Dudi juga menyampaikan idenya mengembangkan kelor untuk mengatasi kekurangan nutrisi di NTT kepada TNI. Ide itu mendapat sambutan baik dari TNI. Mereka lalu meminta Dudi untuk mendampingi TNI mengembangkan kelor di NTT. Dudi memanfaatkan lahan-lahan telantar di sana untuk ditanami tanaman berjuluk drum stick itu. Awalnya masyarakat menanam kelor untuk konsumsi sendiri.

Namun, makin lama populasi kelor di sana terus bertambah. “Apalagi ketika itu Bank BRI memberikan bantuan CSR (Corporate Social Responsiblity, red) bibit kelor,” ujar pemilik PT Moringa Organik Indonesia. Pemberian CSR tersebut membuat hasil jumlah produksi menjadi meningkat. Untuk mengatasinya, Dudi akhirnya menemukan ide untuk mengeringkan daun kelor dan mengolahnya menjadi tepung.

Puri Kelorina menjadi tempat Pusat Pembelajaran Moringa Organik Indonesia.

Puri Kelorina menjadi tempat Pusat Pembelajaran Moringa Organik Indonesia.

Dudi terus menguji coba sampai akhirnya menemukan metode yang tepat untuk mengeringkan daun kelor tanpa merusak kandungan nutrisinya. Caranya dengan pengeringan lambat, yakni dengan suhu maksimal 35°C. Metode itu terbukti mampu mempertahankan kandungan nutrisi. Berdasarkan hasil uji laboratorium, kandungan asam amino pada tepung kelor produksi Dudi masih lengkap, yakni 18 jenis asam amino. Itulah sebabnya komunitas kelor dunia mengenal Dudi sebagai penemu Moringa Nutrition Lock Methode atau metode pengunci nutrisi kelor.

Ia juga memproduksi aneka olahan daun kelor. Sayangnya lokasi produksi di NTT menjadi kendala bagi Dudi untuk memasarkan olahan daun kelor. Itulah sebabnya Dudi mengolah kelor di Blora. Di sana ia bekerja sama dengan Bram membudidayakan kelor di lahan 3 hektare secara organik. Untuk mengembangkan usaha, Dudi memanfaatkan fasilitas pinjaman melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BRI. Selain mendapatkan fasilitas pinjaman, Dudi juga memanfaatkan tabungan BRI simpedes sebagai alat untuk bertransaksi dalam usahanya.”

Tamu dari berbagai negara berdatangan untuk mempelajari budidaya dan pengolahan kelor.

Tamu dari berbagai negara berdatangan untuk mempelajari budidaya dan pengolahan kelor.

Pinjaman itu ia gunakan untuk membangun sarana pengolahan dan pengemasan. Pada 2015, Dudi mengikuti International Symposium on Moringa pertama di Filipina. “Dalam acara itu para peserta lain masih membicarakan tentang cara budidaya kelor yang benar. Saya datang membawa cokelat kelor,” katanya. Ia pun banjir sanjungan. Sejak itu permintaan tepung daun kelor dari berbagai negara deras mengalir.

Dudi juga kebanjiran tamu dari berbagai negara, seperti Arab Saudi, Norwegia, dan negara-negara dari Benua Afrika. Salah satunya David hingga akhirnya berlanjut bekerja sama. Banyaknya tamu yang berkunjung mendorong Dudi untuk membangun Pusat Pembelajaran Moringa Organik Indonesia. Untuk melengkapi fasilitas, Dudi kembali mengajukan pinjaman Investasi kepada Bank BRI.

Pinjaman itu untuk membangun sarana greenhouse, perangkat hidroponik, dan vertikultur. “Itu percontohan pemanfaatan kelor sebagai bahan pupuk organik,” kata Dudi. Ia juga kembali memperoleh pinjaman modal untuk meningkatkan kapasitas produksi. Modal itu untuk membangun gedung pengolahan. “Saya berterima kasih kepada Bank BRI karena telah mendukung pengembangan kelor di Indonesia,” tuturnya. Dari Blora kelor tembus pasar mancanegara. (Imam Wiguna)

577_ 95

Tags: , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software