Inovasi Bertanam Jamur

Filed in Majalah, Muda by on 10/11/2016

Mengemas jamur tiram beragam warna dalam kotak mendatangkan omzet rata-rata sekitar Rp40-juta per bulan.

Ronaldiaz Hartantyo meraup untung dari kotak tumbuh jamur.

Ronaldiaz Hartantyo meraup untung dari kotak tumbuh jamur.

Meski bekerja mapan di sebuah perusahaan arsitektur di Singapura, Ronaldiaz Hartantyo memilih pulang ke Bandung, Jawa Barat. Pemuda itu mengembangkan jamur tiram dalam kemasan elok. Ia memberi nama growbox. Secara harfiah sebutan itu bermakna tumbuh dalam kotak mengacu pada kemasan berupa kotak berukuran 15 cm x 15 cm x 15 cm. Di dalam kemasan itu Ronaldiaz meletakkan sebuah baglog jamur tiram berbobot 1—1,5 kg.

Pada salah satu sisi kotak itu terdapat lubang—tempat keluar tudung buah jamur. Sayuran tanpa klorofil itu tumbuh dari dalam kotak sehingga Ronaldiaz menyebut growbox. Untuk menumbuhkan jamur, konsumen cukup membuka lubang itu, membuka plastik baglog, dan menyemprotnya dengan air setiap 3—4 jam untuk menjaga kelembapan baglog. “Produk ini cocok untuk masyarakat perkotaan yang ingin membudidayakan jamur,” tutur Ronaldiaz.

Nonton teater
Jamur tiram akan muncul setelah 15 hari setelah pembukaan baglog. Pleurotus sp pun siap panen 7—14 hari kemudian. “Setiap panen bisa menghasilkan hingga 300 g jamur tiram,” ujar Aldi—sapaan Ronaldiaz. Panen berikutnya berlangsung setiap dua pekan. “Dari satu baglog bisa panen 3—4 kali,” ujar Aldi. Aldi memproduksi growbox dengan 6 pilihan jenis jamur konsumsi, yaitu jamur kuping, jamur tiram putih, cokelat, kuning, merah muda, dan biru.

Kotak tumbuh jamur ala Ronaldiaz Hartantyo dan rekan.

Kotak tumbuh jamur ala Ronaldiaz Hartantyo dan rekan.

Setiap jamur memiliki khasiat berbeda. “Jamur tiram merah muda Pleurotus djamor kaya betakaroten sehingga berpotensi sebagai antikanker. Adapun jamur tiram kuning Pleurotus citrinopileatus baik untuk pencernaan, jamur tiram biru Pleurotus columbinus baik untuk tulang,” papar pria kelahiran, 4 Februari 1990 itu. Aldi menjual growbox Rp40.000—Rp75.000 per buah. Sulung dari empat bersaudara itu menjual rata-rata 560—1.000 kotak per bulan.

Jadi, Aldi total meraup omzet rata-rata sekitar Rp40-juta per bulan. “Permintaan dari kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya cukup tinggi,” kata pemuda 26 tahun itu. Aldi mulai memproduksi growbox pada 2012. Ketika itu ia menyaksikan suatu pertunjukan teater di Yogyakarta bersama ketiga rekannya. “Setelah melihat pertunjukan teater, kami berempat berkunjung ke sentra jamur di Yogyakarta,” kata Ronaldiaz.

Di sana ia melihat peluang usaha menggiurkan dari hasil budidaya jamur tiram. Ketiga rekan Aldi pun berpikiran sama. Namun, Aldi memodifikasi budidaya jamur tiram dengan cara yang unik. Ia mengemas baglog jamur dengan kotak kardus sehingga tetap cantik jika dibudidayakan di dalam rumah. “Saya ingin mengubah anggapan jika sektor pertanian itu primitif dan kuno. Saya ingin membuktikan pertanian pun bisa jadi industri kreatif,” kata Aldi.

Uji coba

Membuat substitusi batako dari miselia jamur dan limbah.

Membuat substitusi batako dari miselia jamur dan limbah.

Selain itu jamur salah satu pangan kaya nutrisi yang termasuk pangan masa depan. Sebelum memproduksi secara massal, Aldi dan ketiga rekannya asal Kota Bandung, Jawa Barat, meneliti budidaya jamur dalam kotak. Pada Juli—Desember 2012 mereka menguji adaptasi di berbagai tempat. Aldi menyebar prototipe ke beberapa daerah yang bersuhu tinggi dan berkelembapan rendah seperti kota Bekasi dan Jakarta.

Ternyata jamur tiram tumbuh baik di daerah yang bukan menjadi sentra jamur. Menurut . alumnus Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) itu ada 3 faktor utama itu yang harus diperhatikan dalam membudidayakan jamur tiram, yaitu suhu, kelembapan, dan oksigen. “Soal suhu sebenarnya jenis jamur tropis sudah adaptif dikembangkan di tanahair. Berbagai jamur tropis bisa tumbuh baik pada suhu 20—29°C,” kata Aldi.

Adapun kelembapan harus dijaga pada kisaran 70—90%. “Caranya dengan rutin melakukan penyemprotan pada media tanam,” katanya. Faktor terakhir pengaturan oksigen. Agar jamur tidak tumbuh saat penyimpanan sebelum dijual, Aldi membuat baglog kedap udara atau rendah oksigen untuk menghambat perkembangan miselia. Baru setelah dibuka, oksigen masuk ke dalam baglog dan memacu jamur untuk tumbuh.

Hasil rata-rata 300 gram per sekali panen.

Hasil rata-rata 300 gram per sekali panen.

Menurut Aldi jamur sangat peka terhadap perlakuan yang merawatnya. Contohnya ketika mendapat rangsangan berlebih, jamur lebih mudah stres kemudian layu. “Oleh karena itu perawatannya harus dengan hati agar hasinya optimal,” tuturnya. Setelah uji coba berhasil, pada akhir 2012 Aldi melakukan tes pasar di Singapura. “Ternyata animonya sangat bagus, semua produk laku terjual,” tutur Aldi.

Pada 2013 ia mulai memproduksi lebih banyak dan giat mengikuti berbagai pameran. Pada 2014 ia mendirikan perusahaan CV Ideas. Kini Aldi dan rekan mengembangkan produk lain yang memanfaatkan peran jamur, yaitu material bangunan untuk substitusi batu bata atau batako. Batu bata itu terbuat dari limbah serbuk kayu yang diberi spora sehingga diselimuti miselium jamur.

“Inspirasinya berasal dari tempe. Miselium jamur merekatkan limbah. Kandungan lignin pada limbah kayu dapat mengokohkan bahan,” katanya. Aldi memberi nama produk baru itu mycotech. Batu bata dari bahan organik itu jauh lebih kuat dan lebih ringan daripada batako, bahkan tahan air dan api. “Kami belum menjualnya karena masih mengurus hak paten dan mengoptimalkan produksi,” kata Ronaldiaz.

Ronaldiaz Hartantyo

Ronaldiaz Hartantyo

Dengan produk baru itu ia berharap mengubah konsep “menambang” menjadi “menumbuhkan”. “Jadi pada masa mendatang konsepnya bukan membuat rumah, tapi menumbuhkan rumah,” kata Aldi. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software