Herbal Setop Radang Sendi

Filed in Majalah, Obat tradisional by on 13/02/2019

Biji adas bersifat analgesik serupa paracetamol.

 

Osteoartritis akibat pengapuran terus membaik setelah Sri Wahyuni mengonsumsi paduan herbal.

Sri Wahyuni (kanan) menderi nyeri sendi di kedua lututnya.

Pada malam senyap Sri Wahyuni menahan tangis. Perempuan 49 tahun itu merasakan nyeri di kedua lututnya bagai tusukan puluhan jarum. Semula warga Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, itu menduga nyeri lutut karena kecapaian. Namun, karena tak kunjung sembuh ibu dua anak itu memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit. Hasil rontgen membuktikan, Sri wahyuni mengalami pengapuran pada sendi lutut.

Menurut dr. Danang Ardiyanto pengapuran memicu osteoartritis (OA) penyakit sendi yang umum di masyarakat, khususnya pada usia di atas 40 tahun. Sendi-sendi yang paling sering terserang osteoartritis adalah sendi penyangga bobot tubuh seperti sendi lutut dan sendi panggul. Gejala klinis persis yang dialami oleh Sri Wahyuni, seperti nyeri sendi dan pembengkakan pada sendi yang terserang.

Kapsul herbal

Danang mengatakan, pengapuran menyebabkan penipisan ruang sendi, sehingga mengakibatkan peradangan pada sendi mudah terjadi. Dokter alumnus Universitas Gadjah Mada itu menuturkan, faktor risiko terserang osteoartritis meningkat seiring bertambahnya usia khususnya pada perempuan.

Pada umumnya dokter merekomendasikan pasien untuk menjalani terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Terapi itu berupa pemberian obat antiinflamasi, kegiatan berupa upaya penurunan bobot tubuh, olahraga, dan edukasi. Untuk mengatasi pengapuran, Sri Wahyuni juga mengonsumsi obat yang sama. Setiap hari ia mengonsumsi dua jenis tablet resep dokter. Frekuensi konsumsi 3 kali sehari.

Temulawak bertemu dengan kunyit menjadi kombinasi yang sempurna untuk menghalau osteoartritis.

Sri Wahyuni merasa cemas karena terus bergantung pada obat ketika pengapuran terjadi pada 2012—2015. Dokter Danang mengatakan, pemberian obat-obatan untuk mengatasi osteoartritis dalam jangka panjang berefek samping seperti pendarahan saluran cerna hingga gangguan hati dan ginjal.

Itulah sebabnya Sri Wahyuni terdorong untuk mengonsumsi herbal. Atas saran tetangga, Sri Wahyuni mendatangi Rumah Riset Jamu Hortus Medicus, klinik di bawah naungan Balai Besar Penlitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2O2T) yang khusus melayani pengobatan herbal itu.

Meniran kaya akan senyawa flavonoid yang dapat berperan mengendalikan asam lemak dalam darah.

Dokter sekaligus koordinator Rumah Riset Jamu Hortus Medicus, dr. Danang Ardiyanto, mendiagnosis Sri Wahyuni mengalami osteoartritis. Kali pertama didiagnosis dokter positif pengapuran pada 2012. Lima tahun berselang, pengapuran memicu osteoartritis.Danang meresepkan beragam herbal dalam bentuk kapsul agar praktis.

Sebuah kapsul mengandung beragam ekstrak herbal, yakni biji adas Foeniculum vulgare, daun kumis kucing Orthosiphon aristatus, rumput bolong Acalypha indica, rimpang temulawak Curcuma xanthorrhiza, rimpang kunyit Curcuma longa, dan meniran Phyllantus niruri. Herbal dalam kapsul memudahkan Sri mengonsumsinya. Ia tinggal menelan 3 kapsul sekaligus 3 kali sehari.

Lepas tongkat

Sepuluh bulan setelah rutin konsumsi, Sri Wahyuni merasakan bugar. Nyeri lutut juga kian berkurang. Perubahan signifikan itu menyebabkan Sri Wahyuni kian semangat mengonsumsi herbal. Bahkan, Sri Wahyuni kembali berjalan tanpa tongkat. Ia beraktivitas kembali seperti semula, yakni mengelola kedai sederhana di rumahnya. Meski demikian Sri tetap mengonsumsi kapsul herbal.

dr. Danang Ardiyanto koordinator Rumah Riset Jamu Hortus Medicus, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

“Penggunaan obat bahan alam untuk mengobati penyakit sudah ribuan tahun diterapkan oleh masyarakat luas. Jamu Indonesia merupakan warisan turun-temurun yang memiliki dasar filosofi pendekatan holistik. Itulah sebabnya sangat sayang apabila tidak terus dimanfaatkan,” papar dr. Danang. Menurut Danang secara keseluruhan herbal-herbal itu mengandung senyawa aktif yang berperan sebagai antiinflamasi atau peradangan, anti nyeri, dan meningkatkan kebugaran.

Rimpang temulawak dan kunyit mengandung senyawa aktif kurkuminoid. Danang menjelaskan, banyak penelitian yang membuktikan bahwa rimpang anggota famili Zingiberaceae itu bersifat antiinflamasi atau peradangan, mengurangi kaku, dan pembengkakan sendi. Konsumsi rimpang temulawak dan kunyit bersamaan bermanfaat bagi pada penderita osteoartritis.
Cairan yang berkumpul pada sendi penderita osteoartritis berangsur menurun konsentrasinya. Khasiat kedua rimpang itu setara dengan piroksikam, obat yang biasa diresepkan untuk mengatasi inflamasi. Rimpang kurkuma itu pun aman dikonsumsi dalam jangka panjang.

Bahan herba lainnya yaitu biji adas, kumis kucing, rumput bolong, serta meniran pun mampu mengatasi inflamasi. Kandungan senyawa flavonoid yang hampir terdapat di semua tanaman, memberikan berbagai manfaat sampingan yang menjadikan tubuh kian sehat dan bugar. Hingga kini Sri Wahyuni tetap rutin mengonsumsi kapsul herbal itu sebagai upaya menjaga kesehatan dan kebugarannya. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , , , , , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software