Gayam Now

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 04/03/2018
579_ 64-2

Eka Budianta*

Hampir 400 spesies (tepatnya 393) tumbuhan Indonesia terancam punah.  Hal itu diungkapkan International Union for Conservation of Nature (IUCN). Satu di antaranya adalah gayam Inocarpus fagifer sin. I. edulis.  Padahal, pohon itu banyak gunanya, baik sebagai herbal, sumber makanan, maupun tanaman hias.  Daerah Istimewa Yogyakarta menobatkan gayam sebagai tanaman kebanggaan.

Gayam diucapkan juga gayem atau singkatan gawe ayem, membikin tenteram. Tanaman anggota famili Fabaceae itu asli Asia Tenggara.  Bahkan gayam juga tumbuh di pulau-pulau Pasifik lainnya.  Dalam bahasa Inggris disebut polynesian chestnut atau kenari polinesia. Ada pula yang menyebut tahitian chesnut. Bagaimanakah rasanya?  “Lebih enak daripada keripik kentang,” kata Erlis.

Erlis, perempuan Minang itu menikah dengan pria asal Tuban, Jawa Timur. “Di Tuban, gayam adalah camilan wajib pada waktu Lebaran,” katanya.  “Dulu kami beli mentah. Sekarang beli matang saja.”   Tentu tidak hanya digoreng sebagai keripik.  Namun, gayam juga direbus, diberi sedikit garam dan dimakan dengan kelapa parut. Itulah yang dapat kita beli di pasar-pasar tradisional Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, khususnya Bantul.

Lereng Merapi
Sekarang pohon gayam banyak dijadikan tanaman hias untuk penginapan dan hotel berkelas.  Buahnya kalau sudah tua jatuh sendiri. Batang pohonnya berbanir-banir, tampak klasik dan keren. Banir adalah lipatan akar berbentuk gari-garis seperti papan, yang menonjol dari batang.

Itulah asal muasal pepatah “berumah banir” – untuk menyebut tunawisma yang hidup bahagia di bawah pohon. Daunnya hijau berkilap, bertajuk lebar, cenderung sangat lebat. Lebat dan rimbun adalah ciri khas pohon gayam, selain batangnya yang tampak tua dan angker. Jangan heran kalau banyak tahyul seputar pohon gayam.

579_ 65-2

Buah gayam sumber pangan masyarakat yang multikhasiat.

Maklum, pohon gayam sering dihuni serangga, reptil, bahkan musang dan harimau kecil pada malam hari.  Yang sering muncul tentu unggas–teristimewa burung hantu. Dengan latar belakang itu, saya menanam gayam untuk menandai lahirnya Cisco, cucu kami kedua. Setiap ada cucu lahir, kami peringati dengan menanam pohon. Ada jati, baobab, dan lontar untuk lainnya. Setelah mereka besar, tentu bisa menanamnya sendiri.

Pada Februari 2018 Cisco berumur 15 tahun. Maka dengan naik jip antik, kami menuju Taman Nasional Gunung Merapi di Jurang Jero.  Di sana tersedia bibit gayam seharga Rp15.000 per batang. Ia membeli enam batang dan menanam bersama teman-teman remajanya. Nah, tumbuh suburlah gayam now! Pohon kenangan untuk generasi kekinian. Pohon gayam terkenal sangat pandai menahan air.

Oleh karena itu, gayam cocok untuk penghijauan dan banyak tumbuh di seputar telaga atau di tepi sungai.   Jangan heran kalau mendengar kisah mengumpulkan buah gayam yang hanyut di musim hujan. Lereng Gunung Merapi dari dahulu ditanami gayam. Kalau buahnya lebat, tentu akan terbawa sampai ke kota. Di pusat kota Yogyakarta, deretan pohon gayam juga ditanam di jalan-jalan utama.

Pohon kerabat asam itu terutama tumbuh membentuk garis antara Gunung Merapi – Tugu Putih menuju Laut Selatan. Ya, itulah upaya merawat perdamaian.  Membangun kampung halaman yang makmur dan tenteram. Tunggu sebentar.  Bagaimana kita bisa menikmati buah gayam?   Coba saja ketik di gawai atau laptop Anda: beli gayam.  Ternyata banyak juga keripik gayam, bibit gayam, atau olahan gayam lain ditawarkan.

Camilan Madura
Memang, gayam simpanan karbohidrat yang baik.  Beberapa percobaan telah berhasil membuat sereal dari gayam dan bermacam kue berbasis gayam. Saya mengeklik keripik gayam yang dibanderol Rp50.000 plus ongkos kirim.  Dalam hitungan dua hari kerja keripik itu sudah sampai.  Pengirimnya Iin Khoirul dari Sumenep, Madura.  Sangat memuaskan. “Jangan lupa order lagi ya,” pesannya. Ia tinggal di Karangduak.  Rupanya desa itu bagus sambungan internetnya.

Keripik gayam itu diberi kantong dengan label “Camilan Madura”.  Katanya tersedia sepanjang tahun. Bisa kehabisan bila menjelang Lebaran – karena banyak yang memborong.  Untung, pohon gayam bisa panen dua kali dalam setahun. Jadi pasokan dari berbagai desa tak pernah berhenti. Sayangnya, banyak pohon gayam sudah almarhum karena ditebang.  Kayunya yang bagus, juga sangat disukai.

Dulu ada tangkai keris gayaman – berukir buah gayam dan terbuat dari kayu gayam.  Pohon gayam bisa tumbuh tinggi dan besar, sampai 20 meter dan birdiameter 70 cm. Warnanya jernih, teksturnya bagus. Cocok untuk perabot rumah tangga, termasuk centong nasi. Daunnya juga berkhasiat untuk melancarkan pencernaan.  Buah gayam yang mengandung saponin, berfungsi membersihkan usus besar.

Senyawa flavonoida dalam buahnya, menguatkan kekebalan tubuh. Ada 15 manfaat gayam yang sudah dikenal luas. Mulai dari obat diare, menjaga stamina, meningkatkan kekebalan tubuh, sampai mencegah penuaan dini.  Maklum, buah gayam juga bersifat antioksidan. Buah bisa mengobati sariawan dan berfungsi sebagai pengganti nasi.  Namun, buahnya kesat, cepat mengenyangkan. Benarkah sulit dicerna?

Untuk itulah banyak tugas penelitian.  Generasi milenial perlu terpanggil mengolahnya agar sesuai dengan selera zaman sekarang.  Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Yogyakarta, berapa kali merilis hasil penelitian mengolah gayam. Di antaranya adalah hasil studi Lailatul Fitriyah dan Dwi Nugrohowati. Kandungan karbohidrat yang tinggi, membuat Lailatul percaya, tepung gayam bisa dijadikan sereal – bahkan makanan pokok pengganti nasi.

Olah gayam
Satu resep mengolah gayam yang telah tersebar luas adalah membuat “gayam choco chips”.   Itu semacam kue gayam cokelat cookies yang bisa digemari remaja. Tepung gayam dicampur terigu dan cokelat bubuk dicampur menjadi adonan hingga dapat dibentuk. Jangan lupa mencampurnya dengan sedikit pengembang. Kemudian, letakkan dalam loyang yang diolesi margarin.

Panaskan dalam oven seperempat jam dan dinginkan.  Itulah choco chip gayam yang siap disajikan. Beberapa resep lain yang secara tradisional sudah dikenal, bisa dilihat di internet.  Sereal gayam, misalnya, mulai dengan mengupas dan menjemur biji gayam lalu menggilingnya menjadi tepung. Adapun keripik gayam bisa disajikan dengan rasa manis, rasa pedas, dan seterusnya sesuai dengan selera.

Sejak dahulu masyarakat bisa mulai dengan membakar, merebus, menggoreng, dan mengoven gayam. Inovasi pengolahan dan teknologinya akan terus berkembang.  Yang paling fundamental tentu, buahnya ada atau tidak.  Sementara ini di musim panen gayam kering dijual antara Rp35.000 sampai Rp50.000 per kg.  Tentu kalau panen terus terjamin dan pohon-pohon baru semakin banyak ditanam.

Pohon gayam memang termasuk spesies yang sudah terancam.  Namun, buahnya termasuk dalam daftar Komunitas Slow Food – program dunia yang menjunjung sumber pangan tradisional.  Dalam keterbatasan dan menghadapi kepunahan, ternyata gayam tetap menjadi inspirasi untuk memperbaiki masa depan. Gayam masuk dalam catalog Ark of Taste yang tersebar di 160 negara anggota Komunitas Slow Food.

Komunitas Slow Food di sekitar Candi Borobudur, bersemboyan gegayuh ayem – Gayem. Promosinya cukup getol, dimulai dari Omah Garengpoeng Homestay.  Para tamu yang datang disuguhi jus gayam dan camilan gayam.  Tentu dengan makan siang krawu gayam yang gurih, menyehatkan dan membanggakan. ***

Tags: ,

Powered by WishList Member - Membership Software