Galian Pasir Rumah Nila

Filed in Ikan konsumsi, Satwa by on 02/05/2013 0 Comments

Para peternak memanfaatkan telaga pasir untuk budidaya nila.

Selama satu dasawarsa Telaga Pasir Raya di Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sohor sebagai penghasil pasir berkualitas untuk bahan bangunan. Oleh karena itu antrean truk menunggu muatan pasir menjadi pemandangan keseharian di kawasan seluas 100 hektar itu. Namun, seiring menyusutnya volume pasir, area itu mulai ditinggalkan. Yang tersisa hanya kolam raksasa berkedalaman sampai 12 m. Suasana senyap.

Kolam raksasa itu terkepung beragam tumbuhan liar. Panorama itu mengusik H Warsim pada 2005. Ia memanfaatkan kolam itu untuk lokasi budidaya ikan dengan karamba jaring apung (KJA). Sebagai langkah awal Warsim membuat 6 KJA beragam ukuran mulai dari 5 m x 5 m dan 7 m x 7 m        yang diisi ikan mas dan sebagian kecil nila. Dari sana Warsim memanen 300—400 kg ikan dari sebuah KJA.

Sukses Warsim itu menarik warga lain di sekitar telaga untuk menjadi peternak. Sayang proses budidaya berjalan seadanya. “Untuk pakan masih memanfaatkan limbah sisa makanan dari katering dan rumah makan,” ungkap pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, itu. Hasilnya air telaga tercemar. Menurut Muslim Arifin, peternak, jika diciduk air telaga itu tampak kemerahan. “Perubahan itu membuat ikan gampang terserang penyakit,” kata Muslim. Terbukti pada 2006—2007 sebagian besar ikan mas di KJA mati terkena penyakit koi herpes virus (KHV) yang merajalela.

Nirwana

Sejak kejadian itu pola budidaya di KJA ditata ulang. Agar tidak merusak daya dukung lingkungan, lokasi budidaya dipatok 10% dari total luas telaga atau setara 10 ha. Selain itu penggunaan limbah sisa makanan sebagai pakan ikan dilarang keras. Hasilnya kini kualitas air membaik, terlihat lebih jernih. “Jika dipakai membasuh muka pun tidak menimbulkan gatal,” kata Muslim.

Agar lebih terkoordinasi, sejak 2011 sebanyak 29 orang pembuddiaya di Telaga Pasir Raya bergabung dalam sebuah kelompok bernama Pija Makmur. “Pija singkatan Pembudidaya Ikan Jaring Apung,” tutur Warsim, kelahiran 17 Oktober 1957. Guna menambah wawasan, beragam pelatihan budidaya ikan konsumsi diikuti, di samping fokus untuk memelihara nila. “Nila lebih tahan banting dan pasarnya luas,” ujar Warsim.

Untuk menunjang budidaya, KJA diperbaiki. KJA dibuat dengan konstruksi bambu yang dilapisi karpet antiair dan drum untuk mengapung. Dengan cara itu umur KJA  bisa mencapai 5 tahun. “Jika pakai bambu saja hanya tahan 1—2 tahun,” tutur Warsim. Untuk jaring dipakai produk dari Thailand. Jaring itu bisa dipakai hingga 30 tahun, meski harganya mahal Rp65.000/kg. Bandingkan dengan produk Cina hanya Rp55.000/kg, tapi hanya bertahan 5 tahun. “Satu KJA butuh 11—12 kg jaring,” kata Warsim.

Di KJA berukuran 7 m x 7 m itu selanjutnya dibenamkan bibit nila berukuran 3—5 cm sebanyak 8.000 ekor. Ukuran itu disukai oleh peternak lantaran lebih murah dan juga lebih adaptif. Jenis nila yang dipelihara adalah nirwana dari Subang, Jawa Barat. Nila nirwana merupakan jenis unggul yang dirilis Balai Pengembangan Benih Ikan Air Tawar (BPBIAT) Wanayasa, Subang, Jawa Barat. Menurut Budiman APi MSi, kepala BPBIAT, nirwana merupakan hasil seleksi dari persilangan 18 famili nila GIFT (Genetic Improvement for Farmed Tilapia) dan 24 famili nila GET (Genetically Enhanced Tilapia).

Keunggulan nila nirwana sudah dirasakan oleh peternak KJA. “Cepat tumbuh dan panennya 1—2 bulan lebih cepat dibanding nila biasa,” tutur Muslim. Untuk mencapai bobot 300—400 g/ekor hanya perlu waktu 4—5 bulan; nila biasa 6—7 bulan. Waktu budidaya yang lebih singkat itu berimbas terhadap penurunan biaya produksi terutama pakan yang menyedot hingga 60% biaya produksi.

Pelet sendiri

Peternak memberikan pakan 3—4% dari total bobot ikan. Untuk mempercepat pertumbuhan ikan, Warsim memanfaatkan probiotik. Ia mencampurkan 5 cc probiotik ke dalam pakan. Menurut Muslim salah satu kendala terbesar budidaya nila adalah harga pakan yang tinggi. Sekarung pakan pelet 50 kg berkadar protein 28—30% mencapai Rp317.500. Padahal, untuk setiap KJA membutuhkan hingga 15—17 karung sampai panen.

Untuk menyiasatinya peternak kerap mencampur pelet dengan ampas tahu. Perbandingannya 1:1. “Ampas tahu lebih murah, per karung Rp7.000,” tutur Muslim. Jumlah itu bisa dipakai selama sepekan. Namun, upaya itu berimbas pada molornya waktu panen. Dari ukuran 3—5 cm hingga mencapai 5—6 ekor/kg butuh waktu panen hingga 6—7 bulan. “Untungnya tipis hanya 15% dari total omzet,” ungkap Muslim, kelahiran Madiun, Jawa Timur, itu.

Itulah sebabnya kelompok Pija Makmur berinovasi membuat pelet sendiri yang berkadar protein 23—25%. Mereka memanfaatkan tepung ikan, bekatul, dan perekat nabati sebagai bahan baku. Hasilnya tokcer. Selain lebih murah, satu karung isi 50 kg dihargai Rp250.000, waktu budidaya pun lebih singkat hanya 5 bulan dengan tingkat kelulusan hidup 80%. Dari setiap KJA peternak memanen 600 kg nila berukuran 5—6 ekor per kg. “Berkat harga pakan yang lebih murah dan waktu budidaya yang lebih singkat, keuntungan bisa di atas 30% dari total omzet,” ujar Muslim sumringah. Soal pasar mereka tidak usah bingung. Tingginya kualitas ikan, membuat pengepul tidak sungkan untuk datang dengan harga borongan Rp14.000/kg dan eceran Rp17.000/kg.

Usaha perikanan di telaga bekas galian pasir itu berdampak besar terhadap perekonomian warga setempat. Muslim, misalnya, pekerja di sebuah pabrik boneka di Cikarang itu kini memiliki 12 KJA dari semula 1 KJA pada 2007. Dari belasan KJA itu setiap bulan Muslim bisa memanen rutin 2 buah keramba yang memberinya omzet hingga Rp16-juta. Jumlah itu hampir 5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan bila bekerja sebagai buruh pabrik. Pamor Telaga Pasir Raya yang telah meredup sebagai tempat galian pasir, kini merangkak sohor sebagai sentra nila. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

 

FOTO-FOTO:

1)      Telaga Pasir Raya, dulu lokasi tambang pasir kini lokasi budidaya nila

2)      Pelet hasil produksi kelompok Pija Makmur berkadar protein 23—25%

3)      Muslim (belakang) dan H Warsim tangguk berkah dari budidaya nila

4)      Nirwana disukai lantaran cepat tumbuh

Powered by WishList Member - Membership Software