Dilarang Tebang Jabon!

Filed in Topik by on 05/07/2010 0 Comments

 

Pemerintah Hindia Belanda sangat melindungi hutan jabon dari tebangan penduduk pribumi. Mereka tahu kayu jabon salah satu kayu terbaik untuk bubuk arang di pabrik mesiu. Kayu lain ialah kurai Trema orientale dan jati belanda Guazuma tomentosa.

Jabon dibakar menjadi arang lalu dihancurkan menjadi bubuk. Serbuk lalu dicampur bahan lain seperti belerang dan potasium menjadi bubuk mesiu. Di era itu hanya Belanda yang berhak menebang dan memanfaatkan jabon, kurai, dan jati. Hukuman gantung jadi imbalan bagi yang melanggar. Itu karena penebangan liar menghambat industri mesiu tulang punggung persenjataan Belanda.

Barang lama

Secuil kisah dalam buku Sejarah Kehutanan Indonesia Jilid I itu bukti jabon bukan barang baru di Indonesia. Sejak lama anggota keluarga Rubiaceae itu tumbuh liar di hutan dan pekarangan rumah. K Heyne dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia menyebut jabon merah Anthocephalus macrophyllus dimanfaatkan secara tradisional sebagai bahan papan rumah.

Papan jabon ringan dan lunak. Karena itu papan asal jabon dipasang di ruangan yang kering. Jika sering terkena air, papan gampang lapuk. Di Ambon, daun jabon merah yang lebar lazim digunakan sebagai piring dan serbet. Cerita menarik juga terekam di buku Plant Resources of South East Asia (PROSEA). Di sana disebutkan penduduk Pulau Borneo kerap mengebunkan jabon secara tumpangsari dengan padi gogo.

Bahkan tercatat pada 1938 penduduk di Kalimantan Timur sudah mengebunkan jabon. Ketika itu perbanyakannya mengandalkan biji yang berjatuhan asal buah matang. Saat buah matang, tanah di sekeliling tajuk jabon dibersihkan agar biji berkecambah secara alami. Bibit yang tumbuh dari sekitar tajuk itulah yang dipindahkan penduduk.

Dalam industri kayu modern jabon digolongkan dalam kayu kelas IV dan V. ‘Kayu kelas itu tingkat kekuatan dan keawetan kayunya rendah,’ tutur Prof Dr Yusuf Sudo Hadi, peneliti kayu dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Jabon ‘ringkih’ karena kepadatannya rendah, 0,42 g/cm3, pada kadar air 15%. Nilai itu lebih tinggi daripada kepadatan sengon – 0,33 g/cm3. Kayu dengan kepadatan rendah tidak kuat menahan beban berat sehingga tak cocok digunakan sebagai penyangga dalam kontruksi bangunan berat.

Lantaran itu, menurut Yusuf, kayu asli Sri Lanka, India, Nepal, dan Bangladesh itu hanya cocok digunakan untuk elemen kontruksi ringan seperti rusuk pada atap dan daun jendela. Kadam – sebutan jabon di Sri Lanka – juga lazim digunakan sebagai bahan mainan, korek api, sandal kayu, bajak, ukiran, sumpit, pensil dan furnitur ringan.

Industri modern

Di pabrik, kayu lunak semacam jabon diolah menjadi plywood (kayu lapis),  laminated board, block board (papan blok), fiber board (papan serat), dan particle board (papan partikel). ‘Plywood dibuat dengan menyerut  kayu menjadi lapisan-lapisan tipis lalu ditumpuk menjadi satu papan,’ kata Capt. M Sain Latief, direktur muda personalia PT Kutai Timber Indonesia, Probolinggo, Jawa Timur. Satu plywood minimal terdiri dari 2 lapis kayu.

Sedangkan laminated board merupakan papan gabungan dari potongan kayu berbentuk balok kecil berukuran 5,5 cm x 5,5 cm dengan tebal 1 cm. ‘Laminated board yang dilapisi vinir dari kayu keras akan membentuk papan blok,’ tutur Suyono M Raharjo, kepala personalia PT Dharma Satya Nusantara (DSN), Surabaya, Jawa Timur. Papan partikel dibuat dari kayu yang dicacah, diberi perekat, lalu dipres. Papan serat juga dibuat dengan cara sama, tapi ukuran cacahan lebih halus mirip abon.

Berdasarkan uji coba di pabrik KTI, jabon ternyata bagus digunakan sebagai lapisan terluar bagian depan (face) dan bagian belakang (back). ‘Permukaan jabon halus sehingga cocok untuk lapisan luar. Beda dengan permukaan sengon yang lebih kasar sehingga hanya bisa digunakan di bagian tengah atau core,’ tutur Latief.

Lantaran tekstur bagus itulah, KTI melirik jabon sebagai pengganti meranti yang biasa digunakan sebagai pelapis luar. ‘Permukaan jabon lebih halus daripada sengon karena interlock grain (tautan serat, red) pada jabon lebih sedikit,’ tutur Yusuf. Pada sengon banyaknya interlock grain memunculkan serabut-serabut halus di permukaan setelah dipotong.

Naik kasta

Segudang manfaat itu menjadi bukti jabon dinantikan industri meski tergolong kayu kelas IV dan V. Toh, dengan  berbagai cara jabon berpeluang besar untuk naik kelas. Yusuf melakukan berbagai riset pengawetan yang bisa diterapkan pada jabon. Lazimnya pengawetan dilakukan dengan mencelupkan kayu ke bahan kimia atau mengoleskan bahan kimia seperti boron, fluor, krom, dan arsen sebagai racun penghalau rayap. Dengan begitu jabon bisa tahan minimal 10 tahun dan setara dengan kayu kelas II atau III.

Cara lain, metode pengasapan yang ramah lingkungan. Caranya, kayu dimasukkan dalam ruangan tertutup yang dialiri asap sisa pembakaran  arang selama 1 – 3 minggu. ‘Asap mengandung fenol yang mampu mengawetkan kayu. Cara ini meningkatkan kualitas kayu, satu – dua kelas lebih tinggi,’ kata ahli kimia kayu dari  Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, itu.

Proses lain dengan mereaksikan acetic anhydride (CH3CO)2O pada selulosa kayu. Teknologi ini ramah lingkungan karena pascareaksi, (CH3CO)2O akan terikat oleh selulosa dan tak akan luntur jika kayu dipegang atau tercuci oleh air.

Yusuf juga meriset proses penjejalan kayu dengan plastik yang mampu mengawetkan sekaligus menambah kepadatan kayu. Caranya kayu direndam dalam larutan monostiren lalu dipanaskan. Larutan monostiren yang terserap masuk ke dalam partikel kayu berubah menjadi polistiren alias plastik. Makanya kayu bisa 2 kali lebih padat dan awet.

Serbuk kayu sisa penggergajian masih bisa ‘disulap’ menjadi wood plastic composit. Serbuk kayu dicampur biji plastik lalu dipres agar lebih padat. Cara-cara itu banyak dilakukan di Amerika Serikat sejak 1990 untuk memproduksi kemudi mobil dan dashboard. Jika dulu penebang jabon diganjar hukuman gantung, kini penebang jabon dijanjikan rupiah dari beragam olahan kayu. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Faiz Yajri dan Tri Susanti)

 

 

 

  1. Pada zaman pemerintah kolonial Belanda kayu jabon dimanfaatkan sebagai bahan baku industri mesiu
  2. Block board, hasil uji coba PT Kutai Timber Indonesia menggunakan bahan 100% jabon baik bagian dalam maupun lapisan luar. Permukaan bekas potongan jabon halus karena minimnya interlock grain atau tautan serat pada jabon
  3. Prof Dr Yusuf Sudo Hadi dari Fakultas Kehutanan IPB meneliti beragam pengawetan kayu sejak 1986
Powered by WishList Member - Membership Software