Destario Metusala

Filed in Wiratani Muda by on 27/11/2017

575_ 64-7Cinta membuat Destario Metusala berjuang sekuat tenaga untuk menjumpai “sang kekasih” di habitat aslinya. Sang kekasih itu bernama anggrek. Celakanya acap kali tak mudah untuk menjumpai anggrek. Bahkan kerap kali ia mesti menyabung nyawa. Lihat saja perjalanan ke Siberut, Provinsi  Sumatera Barat, untuk mendata anggrek sekaligus mengambil sampel untuk melengkapi koleksi anggrek Kebun Raya Purwodadi, Provinsi Jawa Timur.

Peneliti anggrek, Destario Metusala, kali pertama mempublikasikan Dendrobium floresianum pada 2006. Rio—panggilan akrabnya—meneliti anggrek itu ketika masih duduk di bangku kuliah di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta. Namun, ia baru mempublikasikannya setelah lulus kuliah  dan bekerja di Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur. Rio kian intens meriset anggrek setelah bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.

Kebun raya di Jawa Timur itu merilis beberapa anggrek baru hasil temuan Destario. Contohnya Maleola inflate (2006), Oberonia sp. Dendrobium floresianum, Dipodium brevilabium (2009), Vanda frankieana, Cleissocentron kinabaluense, dan Dendrobium mucrovaginatum pada 2012. Di tengah kesibukannya menyelesaikan kuliah program doktor di Universitas Indonesia, pada Agusuts 2017 Destario memperkenalkan anggrek terbaru Gastrodia bambu.

Destario termasuk salah satu wirausaha uda dalam acara diskusi bertajuk “Jadi Petani Itu Keren!” di IPB  International Convetion Center, Bogor, yang juga bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Direktur PT. Trubus Swadaya, Evy Syariefa menuturkan anak muda hari ini harus mampu menjadi Agripreuner yang berperan memajukan pertanian. Tercatat, di data Sensus Pertanian tahun 2013, 62% petani Indonesia merupakan golongan tua, juga terkendala lahan sempit dan kurang sejahtera. ***

Tags: , , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software