Daur Ulang Sampah Stirofoam

Filed in Lingkungan, Majalah by on 09/05/2017
FPCO mendaur ulang sampah sejak September 1990.

FPCO mendaur ulang sampah sejak September 1990.

Jepang mendaur ulang stirofoam melibatkan konsumen dan kaum disabilitas.

Pada sebuah rembang petang, belasan karyawan itu mengerumuni tumpukan stirofoam putih di atas meja. Pesanan ayam bakar dan lalapan mereka baru saja tiba. Penganan itu terbungkus dalam wadah stirofoam. Wadah makanan tak terpisahkan bagi masyarakat untuk mengemas buah, ikan, daging, dan makanan olahan. Stirofoam itu terbuat dari polistirena yang dibusakan dengan udara.

Proses pembusaan itu memungkinkan untuk menghasilkan wadah makanan yang kuat dan besar dengan sedikit bahan baku. Bobotnya pun ringan. Itu karena, “Stirofoam mengandung 95% udara dan 5% polistirena,” kata Manajer Divisi Lingkungan FP Corporation, Kiyohiko Chiba. Lembaga itu mendaur ulang stirofoam. Meski memiliki banyak keunggulan sebagai wadah makanan, salah satu kelemahan stirofoam tak ramah lingkungan, perlu waktu puluhan tahun untuk mengurai.

Libatkan konsumen

FPCO mempekerjakan 372 disabilitas atau sekitar 16% dari total karyawan. Mereka bertugas menyortir sampah wadah makanan berdasarkan warna.

FPCO mempekerjakan 372 disabilitas atau sekitar 16% dari total karyawan. Mereka bertugas menyortir sampah wadah makanan berdasarkan warna.

Di alam stirofoam sulit terurai sehingga akan menumpuk dan mencemari lingkungan. Oleh karena itu salah satu cara mengurangi dampak lingkungan dari stirofoam adalah dengan mendaur ulang stirofoam sebagaimana dilakukan FP Corporation (FPCO) di Yuki, Prefektur Ibaraki, Jepang. FPCO merupakan produsen wadah makanan dan minuman terkemuka di Negeri Matahari Terbit yang didirikan pada 24 Juli 1962.

Perusahaan itu terus berinovasi untuk menghasilkan wadah makanan yang aman bagi kesehatan konsumen. Pada Desember 1987 FPCO menghentikan penggunaan klorofluorokarbon (CFC) untuk pembuatan wadah makanan. Dengan terus melakukan penelitian dan inovasi wadah makanan produksi FPCO dapat mentoleransi panas hingga 110°C dan suhu dingin hingga -40°C.

Ilustrasi: Bahrudin

Ilustrasi: Bahrudin

Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, FPCO mendaur ulang sampah sejak September 1990. Dalam siklus daur ulang sampah wadah makanan stirofoam itu FPCO melibatkan konsumen, pasar swalayan dan distributor. (baca boks: Metode Daur Ulang FPCO). Metode daur ulang dengan melibatkan konsumen, pasar swalayan, dan distributor kemasan itu membantu menurunkan biaya angkut truk sampah pemerintah. Pada 2011 penghematan biaya truk sampah 1,67 juta yen setara Rp167-juta.

Ilustrasi: Bahrudin

Ilustrasi: Budi Putra Kharisma

Musababnya pengangkutan sampah secara mandiri oleh masing-masing pihak. Petugas FPCO akan memilah sampah stirofoam berdasarkan warna: putih, transparan, dan bercorak. Setelah itu barulah proses daur ulang berdasarkan warna itu menjadi lembaran stirofoam. Lembaga itu kemudian melapisi lembaran stirofoam itu dengan plastik film berbahan polistirena, lalu membentuk menjadi wadah makanan.

Wadah makanan tak terpisahkan bagi masyarakat untuk mengemas buah, ikan, daging, dan makanan olahan.

Wadah makanan tak terpisahkan bagi masyarakat untuk mengemas buah, ikan, daging, dan makanan olahan.

Perusahaan berumur 55 tahun itu menjual kembali wadah makanan itu kepada konsumen. FPCO menjual wadah makanan daur ulang seharga 2—3 yen setara Rp200—Rp300 per buah. Sekitar 70% dari seluruh wadah makanan yang dijual FPCO merupakan wadah daur ulang.

Menurunkan emisi karbondioksida

Menurut Chiba biaya produksi wadah makanan daur ulang lebih rendah daripada produksi wadah baru. Itu karena proses pengolahannya tidak dari awal, yaitu dari minyak mentah, tapi langsung dari bahan polistirena. Dengan daur ulang wadah stirofoam pada 2011 FPCO menghemat biaya minyak mentah sebanyak 226.790.000 liter atau sekitar 1,13 juta barel senilai 41,8 miliar yen.

Proses pengolahan wadah daur ulang juga menurunkan emisi gas karbondioksida. Dengan menggunakan satu kg atau setara 250 wadah daur ulang menghasilkan penurunan emisi gas karbondioksida sebesar 35% dibandingkan dengan wadah baru. Pembuatan satu kg wadah stirofoam baru menghasilkan emisi karbondioksida sebesar 6,54 kg sedangkan wadah daur ulang hanya menghasilkan emisi karbondioksida 4,27 kg.

Kiyohiko Chiba,  manajer divisi lingkungan FP Corporation, mengatakan, “Stirofoam mengandung 95% udara dan 5% polistirena.”

Kiyohiko Chiba, manajer divisi lingkungan FP Corporation, mengatakan, “Stirofoam mengandung 95% udara dan 5% polistirena.”

Kepedulian FPCO tak terbatas pada sampah, tapi juga kaum disabilitas. Pada Maret 2014 FPCO mempekerjakan 372 disabilitas atau sekitar 16% dari total karyawan. Para disabilitas bertugas menyortir sampah wadah daur ulang dan menyusun wadah transparan. Menurut Direktur Riset dan Perencanaan Asian Productivity Organization (APO), Joselito Bernardo, FPCO membuktikan bahwa orang berkebutuhan khusus juga bisa produktif.

Kepedulian FPCO terhadap lingkungan pun mendapat penghargaan dari berbagai pihak. Pada September 2005 FPCO mendapat penghargaan Global 100 Eco-Tech Award dari Asosiasi Jepang, lalu pada April 2007 meraih penghargaan atas keunggulan produk dari Menteri Lingkungan dari wadah dan kemasan 3R—reuses, reduce, recycle. Pada Februari 2011 metode daur ulang sampah FPCO meraih Gold Prize pada Eco Mark Awards 2010. (Rosy Nur Apriyanti)

Tags: , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software