Dari Thailand Tembus Pasar Eropa

Filed in Majalah, Sayuran by on 12/03/2018
Chokeanan Farm, kebun sayuran hidroponik di tengah Kota Samut Sonkhram, Thailand.

Chokeanan Farm, kebun sayuran hidroponik di tengah Kota Samut Sonkhram, Thailand.

Dr. Wonganan Sukcharoenkana mengekspor 2 ton kailan hidroponik ke berbagai negara di Benua Eropa.

Di balik tembok sebuah rumah di tengah Kota Samut Songkhram, Provinsi Samut Songkhram, Thailand, tampak hamparan kebun sayuran hidroponik. Luasnya tak tanggung-tanggung, mencapai 1 hektare. Di lahan itu Dr. Wonganan Sukcharoenkana membangun 23 greenhouse berukuran 8 m x 20 m dengan tinggi 3—5 m. Ia juga membangun tiga greenhouse mini berukuran 2 m x 8 m.

Wongsuk—panggiilan Wonganan—membangun seluruh rumah tanam itu dengan model konstruksi atap bersusun. Tujuannya agar sirkulasi udara di dalam rumah plastik berlangsung lancar. Dinding rumah tanam dengan jaring. Maklum, lokasi kebun Wongsuk di dataran rendah dan dekat dengan pantai. Jika sirkulasi udara tidak lancar, maka suhu udara di dalam rumah tanam menjadi sangat panas.

Dr. Wonganan Sukcharoenkana, doktor listrik yang juga pekebun sayuran hidroponik.

Dr. Wonganan Sukcharoenkana, doktor listrik yang juga pekebun sayuran hidroponik.

Dua teknik
Di bagian dalam greenhouse juga terdapat alat pengabut. Alat itu beroperasi jika suhu udara di dalam ruangan lebih dari 32°C. Dengan begitu kelembapan udara meningkat dan suhu turun. Ia juga memasang jaring peneduh yang dibentangkan di atas tanaman saat matahari bersinar terik. Jaring itu digulung kembali bila sinar matahari redup.

Wongsuk menerapkan dua teknik hidroponik untuk membudidayakan kailan, yakni sistem deep flow technique (DFT) dan substrat. Pada sistem DFT, doktor bidang elektro alumnus University of Alberta, Kanada, itu, membudidayakan kailan di permukaan meja tanam berukuran 1—1,2 m x 4—6 m yang ditopang kaki-kaki besi setinggi 80 cm dari permukaan tanah. Wongsuk lalu memasang papan kayu lebar 10 cm mengelilingi seluruh sisi meja.

Papan kayu menopang plastik tebal di permukaan meja tanam sehingga dapat menampung air layaknya kolam. Di ujung meja ia membuat lubang masuk air dan lubang pembuangan air di ujung lain. Pompa menyedot larutan nutrisi masuk ke wadah tanam melewati pipa. Setelah larutan nutrisi mengisi wadah tanam hingga ketinggian 5 cm dari dasar wadah, sisa larutan nutrisi keluar dari wadah tanam lewat lubang pembuangan. Sisa larutan nutrisi itu mengalir melalui pipa kembali menuju tangki nutrisi yang berada di dalam tanah. Begitu seterusnya.

Wongsuk mengatur debit dan volume larutan nutrisi yang masuk ke dalam wadah sama dengan nutrisi yang keluar. “Mesin pompa kami aktif 24 jam sehingga perlu banyak air,” tutur pria kelahiran Samut Songkhram 41 tahun silam itu. Untuk menopang tanaman, Wongsuk menggunakan styrofoam berukuran 100 cm x 100 cm dengan tebal 5 cm. Ia lalu membuat lubang tanam dengan jarak antarlubang 10 cm x 20 cm. Total terdapat 50 lubang tanam.

Benih dikecambahkan selama 3 hari.

Benih dikecambahkan selama 3 hari.

Sebelum ditanami, Wongsuk menyemai benih kailan di permukaan media semai mirip rockwool yang telah diiris-iris berbentuk kubus berukuran 2 cm x 2 cm. Bagian tengah kubus diiris sedalam 1 cm untuk menyelipkan benih. Benih dimasukan dengan pinset. Setiap lubang berisi 2 benih. Selanjutnya media semai ditempatkan di permukaan larutan nutrisi dalam wadah kotak styrofoam berukuran 1 m x 1 m.

Racik sendiri
Tiga hari berselang benih kailan mulai berkecambah. Wongsuk lalu memindahkan persemaian itu ke meja tanam di dalam greenhouse. Setelah 10 hari, bibit kailan yang telah memiliki 2—4 daun dipindahkan ke lubang tanam.

Sebagai sumber nutrisi, Wongsuk menggunakan nutrisi hidroponik A dan B. Pupuk diracik sendiri menggunakan 10 jenis bahan kimia untuk menghemat biaya. “Kalau membeli nutrisi yang sudah jadi harganya sangat mahal,” ujar pria berkacamata itu.

Setelah tumbuh 10 hari, bibit dipindahkan ke wadah pembesaran hingga panen.

Setelah tumbuh 10 hari, bibit dipindahkan ke wadah pembesaran hingga panen.

Cara yang dilakukan Wongsuk jamak juga dilakukan di Indonesia. Bahan kimia yang kerap digunakan untuk meracik pupuk adalah kalsium nitrat (kalsinit), kalium nitrat (KNO3), kalium sulfat (K2SO4), monokalium fosfat (MKP), magnesium sulfat (MgSO4), ZA, ferum (Fe) EDTA, asam borat (H3BO3), seng (Zn) EDTA, mangan (Mn) EDTA, tembaga (Cu) EDTA, dan natrium molibdat (Na2MoO4).

Bahan A dan bahan B yang telah dilarutkan, dicampur kemudian diencerkan kembali. Larutan nutrisi pun siap diberikan ke tanaman. Konsentrasi pupuk disesuaikan dengan kebutuhan jenis tanaman yang dibudidayakan.

Pada umur 4 pekan setelah tanam, kailan dipanen tanpa membuang akar. Dalam sebulan Chokeanan Farm—nama perusahaan milik Wongsuk—memproduksi 2 ton kailan. Pria yang juga pengusaha baso ikan itu menjual hasil panen ke tiga eksportir dengan harga 100 baht atau Rp40.000 per kg. Artinya, dalam sebulan Chokeanan Farm memperoleh omzet Rp 80juta. Eksportir lalu mengirim kailan produksi Wongsuk ke beberapa negara di Benua Eropa, yakni, Jerman, Swiss, dan Inggris.

Kailan produksi Wonganan tembus pasar di Benua Eropa.

Kailan produksi Wonganan tembus pasar di Benua Eropa.

Substrat
Selain teknik DFT, Chokeanan Farm juga membudidayakan kailan pada media tanam substrat. Wongsuk membuat bedengan-bedengan di permukaan tanah di dalam greenhouse. Ia menggunakan media tanam berupa campuran serbuk sabut kelapa dan limbah industri menyerupai tanah dengan perbandingan sama. Wonganan menjemur campuran media tanam itu selama 10—14 hari sebelum digunakan untuk menanam.

Dalam budidaya kailan pada media substrat, Wongsuk menanam bibit langsung di bedengan dengan jarak tanam 10 cm x 20 cm. Setelah itu ia rutin memberi pupuk NPK 25:7:7 dan magnesium sulfat yang telah dilarutkan dalam air. Larutan nutrisi dialirkan melalui pipa plastik yang diletakkan di permukaan bedengan. Pemupukan dilakukan sekali sehari pada pagi hari.

Menurut Wonganan, kedua sistem itu mempunyai kelebihan dan kelemahan. Sistem DFT lebih mahal dalam hal investasi untuk instalasi, tapi murah dalam pemakaian tenaga kerja. Adapun budidaya dengan sistem substrat lebih sederhana, tapi lebih banyak menggunakan tenaga kerja. Masa panen kailan juga lebih lambat, yakni pada umur 4—5 pekan setelah tanam. Namun, kedua sistem itu tetap menghasilkan sayuran berkualitas tinggi. Buktinya hingga saat ini Wongsuk mengantongi sertfikat Global Good Agriculture Practice (Global GAP) yang menjadi “tiket” untuk menembus pasar dunia. (Syah Angkasa)

Tags: , ,

Powered by WishList Member - Membership Software