Dari Sawit ke Sayuran

Filed in Majalah, Sayuran by on 12/03/2018
Lahan sayuran seluas 3 hektare milik Suryono.

Lahan sayuran seluas 3 hektare milik Suryono.

Suryono membabat kelapa sawit di kebunnya dan beralih menjadi pekebun sayuran.

Delapan tahun lalu hanya deretan kelapa sawit yang tumbuh di lahan 5 hektare milik Suryono. Namun, lahan itu kini bersalin wajah. Yang ada hanya hamparan kangkung, bayam, cabai, mentimun, kacang panjang, jagung, paprika, dan caisim. Pekebun kelapa sawit di Dusun Sukajaya, Kampung Pinang Sebatang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, itu banting setir membudidayakan sayuran lantaran permintaannya tinggi. Sebelumnya daerah kediaman Suryono mengandalkan pasokan sayuran dari Kota Pekanbaru dan Provinsi Sumatera Barat.

Bagi Suryono kondisi itu peluang yang menjanjikan. Ia lalu mulai menanam beberapa jenis sayuran di pinggir kebun. Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, itu membuat 9 bedengan berukuran 2,5 m x 25 m per bedeng. Ia menanami bedengan itu dengan bayam. Dalam waktu 15 hari bayam siap panen. Semua hasil panen ia jual langsung ke pasar dengan harga Rp1.500 per ikat.

Suryono merupakan inspirasi bagi petani sawit lain di Provinsi Riau yang memutuskan untuk beralih ke tanaman sayuran.

Suryono merupakan inspirasi bagi petani sawit lain di Provinsi Riau yang memutuskan untuk beralih ke tanaman sayuran.

Lebih tinggi
Tak disangka hasil panen dari menanam bayam saja mampu memperoleh omzet hingga Rp5,4 juta per bulan. Pendapatan itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hasil panen kelapa sawit. Dari kebun kelapa sawit 5 hektare, Suryono hanya meraup omzet Rp2 juta—Rp3 juta per bulan. Pendapatan itu ia peroleh dari penjualan 2—3 ton tandan buah segar per bulan. Dengan penghasilan sebesar itu, Suryono terkadang mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan.

Sejak itu Suryono terus menambah luas budidaya sayuran. Ia juga membabat sebagian pohon kelapa sawit di kebunnya. Jenis sayuran yang ditanam pun makin beragam, seperti kacang panjang, terong, mentimun, cabai, pakcoi, dan tomat. Kini kelapa sawit di kebun milik Suryono tersisa 2 hektare, sisanya berubah menjadi kebun sayuran. Dari luasan itu ia meraup omzet Rp25-juta—Rp30-juta per bulan juta per bulan. Setelah dikurang Rp9 juta untuk membayar tenaga kerja dan Rp5 juta untuk membeli pupuk, Suryono meraup laba bersih Rp11 juta—Rp16 juta per bulan. “Dari budidaya sayuran saya bisa menyekolahkan tiga anak dan tidak perlu mencari pekerjaan sampingan. Berapa pun sayuran yang saya tanam seluruhnya diserap pasar, “ ujar pria 45 tahun itu.

Suryono (ketiga dari kiri) menjadi salah satu pembicara pada Konferensi Tingkat Tinggi Persatuan Bangsa-Bangsa (KTT PBB) tentang Perubahan Iklim atau COP-22 di Maroko.

Suryono (ketiga dari kiri) menjadi salah satu pembicara pada Konferensi Tingkat Tinggi Persatuan Bangsa-Bangsa (KTT PBB) tentang Perubahan Iklim atau COP-22 di Maroko.

Kini beberapa pekebun kelapa sawit banyak yang tertarik mengikuti jejak Suryono. Menurut Suryono ada 15 pekebun sawit yang rela membabat sawit mereka. Padahal, kebunnya luas-luas, yakni mencapai 3—5 hektare. “Mereka sampai meminjam alat penebang pohon ke saya,” katanya. Salah satunya Makmur Hadi yang memiliki 2,5 hektare kebun sawit. “Saya sudah mati-matian berkebun sawit, tapi penghasilannya sedikit. Saya terpaksa mencari kerja sampingan lain. Saat ini saya membabat habis semua sawit,” ujar Makmur.

Banyak rintangan
Namun, kesuksesan Suryono sejatinya buah dari keteguhan saat menghadapi berbagai rintangan. Saat merintis berkebun sayuran, Suryono sempat kesulitan menjual hasil panen di pasar tradisional. “Sebelumnya kami selalu ditipu tengkulak. Mereka bilang sayuran sedang bagus harganya. Ketika panen mereka bilang harganya jatuh. Padahal, harga di pasar bagus. Mereka ingin untung sebanyak-banyaknya dari petani,” ujar pria kelahiran 15 Agustus 1972 itu. Oleh sebab itu Suryono bertekad memangkas rantai pemasaran dengan menjual sayuran langsung di pasar tradisional, yaitu Pasar Pagi Perawang, Siak, Provinsi Riau.

Suryono dapat meraup omzet hingga Rp30-juta per bulan dengan mengalihfungsikan tiga hektare kebun sawit menjadi ladang sayuran.

Suryono dapat meraup omzet hingga Rp30-juta per bulan dengan mengalihfungsikan tiga hektare kebun sawit menjadi ladang sayuran.

Namun, para tengkulak di sana tidak ingin para petani langsung berjualan dan mengetahui harga komoditas yang sebenarnya di pasar. “Berbagai cara mereka lakukan untuk menghambat para petani. Jika perlu mereka sampai berani mengintimidasi para petani,” ujarnya. Untuk mengatasinya, Suryono berupaya memperkuat jaringan mulai dari instansi pemerintah daerah, asosiasi kelompok tani dan nelayan, hingga bekerja sama dengan kepolisian. “Saya penuhi izin sebagai pedagang, mulai dari mengurus izin di kantor kecamatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta ke kepolisian sektor. Lama-kelamaan tengkulak itu tidak berani mengganggu kami,” kata Ketua Kelompok Tani “Tani Jaya” yang beranggotakan 18 orang itu. Kini, produk kelompok tani itu berhasil menembus pasar tradisional setempat.

Sejak itu pendapatan para pekebun meningkat pesat. Contohnya seperti dialami Herman, salah seorang pekebun sayuran yang menjadi anggota kelompok tani. Pria berusia 45 tahun itu mampu meraup omzet hingga Rp20 juta per bulan dari sehektare lahan. Pendapatan itu ia peroleh dari hasil penjualan 300 kilogram kacang panjang, 500 kilogram mentimun, serta 700 ikat bayam, dan kangkung per hari.

Suryono bersama 71 ikon beprestasi di acara “Ikon 72 Prestasi Indonesia” yang diadakan oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila.

Suryono bersama 71 ikon beprestasi di acara “Ikon 72 Prestasi Indonesia” yang diadakan oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila.

Untuk mengelola lahan miliknya, ia dibantu 4 tenaga kerja. “Omzet saya sebulan sekitar Rp18—Rp20-juta per bulan. Untung bersih rata-rata Rp10 juta—Rp12 juta. Saya bisa punya rumah, punya mobil, dan menyekolahkan tiga anak dari berkebun sayuran,” ujarnya. Pendapatan itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan berkebun sawit. Sebelumnya Herman hanya memperoleh pendapat Rp2 juta per bulan dari sehektare lahan.

Penghargaan
Pada pertengahan 2008, terjadi sengketa tanah antara masyarakat dengan sebuah perusahaan pengelola Hutan Tanaman Industri (HTI). Bukan hanya lahan milik Suryono yang berperkara dengan perusahaan itu, masyarakat lain pun mengalami hal serupa. Sengketa itu terjadi karena ketidakjelasan batas wilayah antara lahan warga dengan lahan milik perusahaan. Suryono sebagai ketua Serikat Tani Riau kerap memimpin unjuk rasa terkait sengketa lahan. Ia dianggap sebagai sosok yang mampu menghimpun, mengkomunikasikan, serta menggerakkan para warga.

Pada 2011 konflik mereda setelah ditandatanganinya surat perjanjian antara perusahaan dengan warga. Perusahaan akhirnya membebaskan lahan seluas 770 hektare. Namun, perusahaan itu memberi syarat, “Lahan itu hanya boleh digunakan untuk bertanam sayuran,” ujar Suryono.

Kiprah Suryono itu mendapatkan apresiasi dari pemerintah Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Pada 2015 Suryono menerima penghargaan Adikarya Pangan Nusantara. Ia juga mendapat penghargaan sebagai Petani Terbaik Kabupaten Siak Bidang Hortikultura (2016). Pencapaian Suryono itu juga mendapat sanjungan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Lembaga dunia itu mengundang Suryono menjadi salah satu pembicara pada Konferensi Tingkat Tinggi Persatuan Bangsa-Bangsa (KTT PBB). Di sana ia berbicara tentang Perubahan Iklim atau COP-22 dengan topik Putting People at the Centre-Climate Friendly Forest Based Livelihood, di Paviliun Indonesia, Bab Ighli Marrakesh, Maroko.

Dalam konferensi itu ia menyampaikan pengalamannya sebagai petani yang beralih dari praktik pertanian yang mendegradasi lingkungan menjadi usaha pengelolaan lahan hutan berkelanjutan. “Perasaan saya sangat bangga karena petani kecil seperti saya didengar di luar negeri. Semoga apa yang saya lakukan bisa menjadi contoh bagi orang lain,” kata Suryono.

Suryono juga menjadi bagian dari Ikon 72 Prestasi Indonesia. Itu adalah apresiasi Unit Kerja Presiden Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila kepada 72 sosok anak bangsa yang berprestasi besar yang dapat membangkitkan rasa cinta dan menginspirasi untuk memaknai nilai-nilai ideologi Pancasila. (Tiffani Dias Anggraeni)

Tags: , ,

Powered by WishList Member - Membership Software