Damba Duit Domba

Filed in Majalah, Topik by on 09/10/2017
Hafidz Ilman Albana menjual domba beragam ukuran sehingga calon pembeli bisa memilih sesuai kemampuan finansial.

Hafidz Ilman Albana menjual domba beragam ukuran sehingga calon pembeli bisa memilih sesuai kemampuan finansial.

Dengan menyediakan beragam lini produk berbasis domba, omzet pemuda 25 tahun ini naik 20 kali lipat.

Semula Hafidz Ilman Albana memperoleh omzet Rp3 juta—Rp5 juta setiap bulan dari hasil perniagaan domba. Kini peternak muda dari Karawang, Jawa Barat, itu beromzet Rp60 juta— Rp90 juta saban bulan. Artinya omzet Hafidz meroket 18—20 kali lipat dibandingkan dengan sebelumnya. Peningkatan pendapatan itu bukan karena Hafidz menambah populasi atau menjual domba berharga tinggi.

Rahasianya, “Saya juga menjual daging domba siap santap untuk akikah,” kata pria berumur 25 tahun itu. Hafidz mengatakan 3 pasar utama bisnis domba yaitu akikah, kurban, dan rumah makan. Bisnis akikah sangat menjanjikan lantaran mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam dan jumlah kelahiran anak relatif tinggi. Ia menyediakan beragam paket penjualan seperti domba hidup, olahan domba, dan paket praktis.

Kualitas
Paket domba hidup meliputi 6 tipe yaitu hemat, sederhana, reguler, spesial, istimewa, dan eksekutif. Setiap tipe terdiri atas domba jantan dan betina berbagai bobot. Pilihan olahan domba termasuk sajian berupa satai dan gulai. Adapun paket praktis berisi nasi, satai, gulai, kerupuk, buncis, buah, sambal, tisu, sendok, dan cenderamata akikah.

Kebersihan kandang sangat penting agar domba sehat dan nyaman.

Kebersihan kandang sangat penting agar domba sehat dan nyaman.

Paket praktis pun terdiri dari 6 tipe yakni hemat, sederhana, reguler, spesial, istimewa, dan eksekutif. Pembeli tinggal memilih paket sesuai kebutuhan dan isi dompet. Keunggulan paket praktis antara lain pembeli bisa langsung menyantap sajian akikah tanpa mengolah daging. Penggunaan paket itu terobosan baru yang sukses menjaring pelanggan. Bisnis akikah mensyaratkan saling percaya antarpenjual dan konsumen.

“Saya juga berupaya menjaga kualitas makanan agar konsumen puas,” kata pria kelahiran Karawang, 17 Februari 1992, itu. Hafidz mengandalkan 7 juru masak untuk mengolah daging domba. Dengan kata lain ia memberdayakan para ibu di desanya sekaligus memberikan tambahan penghasilan. Berkat inovasi itu bisnis domba Hafidz merangkak naik. Oleh sebab itu, ia pun merawat satwa anggota famili Bovidae itu dengan baik.

Pemberian pakan domba setiap hari.

Pemberian pakan domba setiap hari.

Kerja keras
Menurut Hafidz Karawang memerlukan 300 domba setiap bulan. Namun, ia belum bisa memenuhi permintaan itu lantaran keterbatasan jumlah ternak dan fasilitas. Hafidz hanya memiliki 20—30 domba beragam ukuran dan umur. Untuk mengatasinya ia bermitra dengan peternak domba di Karawang dan sekitarnya. Saat ini ia juga masih memanfaatkan mobil pinjaman orang tua sebagai kendaraan operasional.

Oleh karena itu, Hafidz berencana memiliki kendaraan pribadi, kantor, dan dapur modern. “Kantor di pinggir jalan sangat penting agar calon pembeli mudah mengenali produk saya,” kata pemilik Al-Hafidz Aqiqah itu. Kesuksesan Hafidz berniaga domba penuh perjuangan. Awal usaha pada 2015 tidak ada pemasukan hingga berbulan-bulan karena domba tidak laku. Padahal, saat itu ia mempromosikan bisnis itu melalui media sosial.

Penghargaan sebagai Pemuda Penggerak Pertanian 2016 dari Gubernur Jawa Barat.

Penghargaan sebagai Pemuda Penggerak Pertanian 2016 dari Gubernur Jawa Barat.

Ia bergeming dan lebih giat mempromosikan bisnis secara daring. Ibarat pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba. Salah satu dewan masjid di Karawang, Jawa Barat, memesan 30 domba untuk disumbangkan saat Idul Fitri. Pemesanan itu datang 4 hari sebelum hari raya, sedangkan pengiriman domba mesti 2 hari sebelum hari raya. Meski mendadak dan hanya memiliki 5 domba saat itu, Hafidz menyanggupi permintaan itu.

Pesanan itu terpenuhi karena Hafidz memiliki rekan peternak domba. Ia mengantongi Rp8 juta dari hasil perniagaan itu. Alumnus Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB), itu membeli 2 domba jantan lalu menjualnya. Hafidz memanfaatkan uang hasil penjualan satwa kerabat kambing itu untuk membeli domba baru dan memperbaiki kandang.

Semula kandang berukuran 2 m x 2 m membesar menjadi 6 m x 15 m. Ketertarikan Hafidz pada budidaya domba bermula saat ia mengunjungi dua peternakan domba di Bogor dan Sukabumi, keduanya di Jawa Barat. Saat itu ia bersatus sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan IPB. “Peternak bercerita potensi pasar domba sangat besar dan harga melonjak tinggi menjelang hari raya kurban,” kata pria kelahiran Karawang, Jawa Barat, itu

Mengabdi

Hafidz Ilman Albana, Karawang, 17 Februari 1992 (25 tahun)

Hafidz Ilman Albana,
Karawang, 17 Februari 1992 (25 tahun)

Sejak itulah ia bertekad menjadi peternak domba. Sayangnya, Hafidz mesti menunda cita-cita itu lantaran harus menyelesaikan kuliah dan berorganiasi. Impian Hafidz makin nyata terwujud ketika ia lolos seleksi program sarjana membangun desa besutan Kementerian Pertanian setelah lulus kuliah. Program itu mengharuskan peserta mengabdi di tanah kelahiran selama setahun.

Kebetulan tugas Hafidz membina 7 kelompok peternak domba di 7 desa. Ia memanfaatkan betul kesempatan itu untuk mengenal lebih dekat seluk-beluk beternak domba. Hafidz juga bergabung di Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan “Wira Tani” selama menjalani program itu. Ia mengumpulkan uang dari tempat itu dan program sarjana membangun desa lalu membelanjakannya untuk membeli dua domba betina berumur 1,5 tahun.

Hafidz membayar Rp20.000 per 3 hari untuk upah tenaga kerja pencari rumput. Kedua domba melahirkan masing-masing 2 anak kemudian ia menjualnya pada awal 2016. Lalu ia membeli 2 domba jantan. Setelah terjual ia membelikan 5 domba. Kini usaha kecil yang Hafidz rintis makin menguntungkan dan ia terkenal sebagai peternak muda sukses. (Andari Titisari)

Tags: , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software