Cibarani, Lumbung Beras Merah

Filed in Sayuran by on 05/10/2010 0 Comments

Djunaedi Aryani, warga Cibarani tak tahu pasti kapan kebiasaan itu dimulai. ‘Beras merah sudah ada sebelum 1970-an,’ kata Aryani, ketua kelompok tani Pasivic Java merangkap ketua Gapoktan Mekarjaya. Bahkan dahulu semua desa – berjumlah 6 desa – di Kecamataan Cisata turut menanam padi merah. Beras merah dipercaya membuat perut kenyang selama berjam-jam beraktivitas di sawah atau di tempat lain.

Namun, seiring masuknya beras putih hibrida sekitar 1974-an, satu per satu desa mulai meninggalkan padi merah. Beralasan karena produksi padi putih lebih tinggi, mencapai 6 – 7 ton/ha; padi merah paling pol 3 ton/ha. Setelah digiling hanya menghasilkan 68 – 70 liter (1 liter ekuivalen 0,8 kg) beras merah dari 1 kuintal gabah. Harap mafhum, penyusutan gabah merah saat digiling tinggi, selisih 15 kg/kuintal gabah dibanding gabah putih.

Itu sebabnya hanya 40% dari semua desa di kecamatan yang terletak di sebelah utara Pandeglang itu yang masih menanam padi merah. Subandi, dari Desa Kubangkondang, salah satu yang bertahan. Ia menanam padi merah di lahan 0,5 ha dengan produksi 6 kuintal. ‘Hanya sedikit di desa ini yang masih menanam padi merah. Mayoritas pekebun padi merah ada di Kampung Pasirpicung, Desa Cibarani,’ kata Subandi.

Warisan

Saat Trubus menyambangi kecamatan itu pada pertengahan Agustus 2010 di Kampung Pasirpicung memang masih banyak warga menanam padi merah. Samsul, misalnya, menanam padi merah di lahan seluas 2.000 m2. Pun Aryani menanam di lahan 2 ha. ‘Sebagai usaha melestarikan warisan nenek moyang,’ kata Aryani.

Di Desa Cibarani luas lahan sawah mencapai 25 ha. Namun hanya 30% dari total luas lahan itu tertanam padi merah. Sisanya padi putih. Waktu penanaman keduanya bersamaan, Oktober – Mei. Bedanya, dalam setahun padi merah hanya ditanam satu kali: di awal musim penghujan. Musababnya, padi merah butuh waktu 6 bulan dari semai sampai panen. Berbeda dengan padi putih yang dapat ditanam 2 kali setahun.

Ada 3 varietas padi merah yang dipakai, yakni cere teundet, cere harendong, dan stak dadak. ‘Yang menjadi favorit adalah cere teundet dan stak dadak karena keduanya pulen,’ ucap Samsul. Tekstur pulen itu sama seperti pada beras putih. Cere harendong meski bulirnya lebih besar, tetapi kurang pulen. Kelebihan cere teundet dan stak dadak, nasi tidak berbau langu meski 2 – 3 kali dihangatkan.

Semiorganik

Budidaya padi merah cukup mudah. Padi merah membutuhkan air dalam jumlah banyak sehingga ditanam pada musim hujan. Maklum desa itu belum ada sistem irigasi modern. Penanaman menggunakan sistem jajar legowo dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Untuk satu hektar lahan dibutuhkan 30 kg benih. Sebelum ditanam benih disemai dalam lubang-lubang tugalan (30 biji per lubang) selama 2 bulan.

Biaya produksi untuk penanaman padi merah sama dengan padi putih. Komponen terbesar adalah pupuk Urea, TSP, dan KCl yang mencapai 3,5 kuintal/ha. Dengan harga Urea Rp2.000/kg, TSP Rp2.500/kg, dan KCl Rp3.250/kg, total biaya untuk pembelian pupuk mencapai Rp406.250. Oleh karena itu saat ini warga Cibarani sedang mengarah ke penanaman padi organik. Itu untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan. Musababnya selain pemborosan, pupuk anorganik menyebabkan tanah mengeras sehingga produktivitas menurun.

Mereka mengurangi 50% pupuk kimia, diganti dengan pupuk organik. Untuk setiap hektar Aryani membutuhkan 8 botol pupuk organik seharga Rp57.500/botol isi 1 l. ‘Sebetulnya pupuk organik saja sudah cukup,’ kata Aryani. Selain memperbaiki tanah, pupuk organik membuat bibit lebih cepat tumbuh. Sepekan setelah tanam, tampak menghijau.

Untuk menghalau hama dan penyakit Aryani memakai pestisida 2,5 l/ha dengan harga Rp50.000/l. Sayangnya, produksi pada 2010 menurun karena serangan wereng cokelat, dari semula 1 ton/ha menjadi 2 – 5 kuintal. Secara hitung-hitungan, pendapatan dari padi merah memang kecil. Dengan harga jual gabah Rp260.000/kuintal, petani hanya memperoleh pendapatan Rp1,3-juta/ha.

Sedangkan jika dijual dalam bentuk beras pendapatan petani meningkat menjadi Rp2-juta/ha, karena harga beras Rp5.500 per kg. ‘Untung kecil tidak masalah, yang terpenting dapat melestarikan tradisi dan mengkonsumsi beras sehat,’ kata Aryani.

Produksi beras merah Desa Cibarani selain untuk konsumsi pribadi juga untuk memenuhi permintaan pasar-pasar tradisional di Pandeglang. Beras merah dari desa berpenduduk sekitar 3.800 jiwa itulah yang selalu tampak di ajang pameran pembangunan pemerintahan Kabupaten Pandeglang.

NTT dan Sumut

Di luar pulau Jawa, padi merah banyak ditanam di Kecamatan Reo, Lambaleda, dan Cibal, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Di sana, wojo beras atau laka merah – nasi dari beras merah dalam bahasa setempat – menjadi makanan istimewa. Itu tampak dari harga jualnya yang 2 kali lipat daripada nasi putih. Beras memberamo, misalnya, berharga Rp5.000/kg; wojo Rp10.000/kg. Harga itu setimpal dengan rasanya yang sungguh enak: pulen dan gurih. Kelezatannya semakin terasa saat disajikan dengan cara – ikan endemik Flores.

Nun di Lumbanrau, Parsoburan, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, mayoritas lahan sawahnya juga ditanamai padi merah. Demikian di Desa Batunabolon yang berjarak 1 jam perjalanan darat dari Lumbanrau, kebanyakan menanam padi merah. Sayang, padi merah ditanam di lahan darat yang kurang air, sehingga nasi menjadi pera. Untuk menyiasatinya, masyarakat menanak beras merah setelah dicampur beras putih sehingga teksturnya sama seperti beras merah asal Cibarani. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Sardi Duryatmo)

Powered by WishList Member - Membership Software