Ceplukan: Buah Liar Dobrak Pasar

Filed in Majalah, Topik by on 01/01/2017

Prospek bagus mengembangkan ceplukan yang semula buah liar di pekarangan.

Selain lezat, ceplukan pun berkhasiat obat.

Selain lezat, ceplukan pun berkhasiat obat.

Lazimnya Tatang Kuswara memperoleh omzet Rp1,4-juta hasil budidaya aneka tanaman seperti padi, jagung, dan ubijalar di lahan 490 m². Namun, pada medio Desember 2016 omzet Tatang meroket Rp12,75-juta atau meningkat 810%. Peningkatan itu bukan karena ia menambah populasi. Bukan juga karena ayah 5 anak itu menggunakan pupuk pemacu produksi. Rahasianya Tatang tidak lagi membudidayakan komoditas hortikultura itu.

Ciri buah siap panen berwarna kuning dan kelopak mengering.

Ciri buah siap panen berwarna kuning dan kelopak mengering.

“Kini saya mengembangkan ceplukan di lahan sama,” kata petani di Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu. Omzet Rp12,75-juta hasil perniagaan 85 kg ceplukan seharga Rp150.000 per kg yang dipanen pada awal November hingga medio Desember 2016. Sayang Tatang enggan menyebut ongkos produksi sehingga gambaran laba bersih belum diketahui.

Harga eksklusif
Di lahan itu Tatang berladang sekitar 400 ceplukan yang kini berumur 4 bulan. Menurut Juwita, anak Tatang yang memasarkan ceplukan, hasil panen itu belum memenuhi semua permintaan. “Ada 5 kg pesanan yang belum terpenuhi pada pertengahan Desember 2016,” kata Juwita. Pesanan yang tertunda mencapai 5 kg itu akan dimasukkan pada pengiriman selanjutnya.

Saat ini ia memasarkan buah capulí—sebutan ceplukan di Spanyol—melalui media sosial. Semula Juwita berencana menjadikan pasar modern sebagai salah satu pasar utama. Jadi sebetulnya permintaan ceplukan yang tinggi melalui media sosial di luar perkiraan Juwita. Juju—sapaan akrab Juwita—memang sudah menduga permintaan bakal banyak karena buah itu disenangi masyarakat di mancanegara seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Singapura.

Selai salah satu kreasi olahan ceplukan.

Selai salah satu kreasi olahan ceplukan.

Kebetulan jenis ceplukan yang Tatang dan Juwita budidayakan sama dengan ketiga negara itu yaitu Physalis peruviana. Buah daun tanaman asli Peru dan Chili itu berbulu halus dan buah berwarna kuning. Lebih lanjut Juwita menuturkan ceplukan lokal berjenis Physalis minima dan Physalis angulata. “Daun tanaman itu tidak berbulu dan buah berwarna hijau,” kata alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, itu.

Peruviana bercitarasa manis dan sedikit masam, sedangkan ceplukan lokal cukup manis. Tatang dan Juwita kepincut menanam ceplukan karena belum ada yang fokus membudidayakan. Padahal prospek buah tanaman kerabat tomat Solanum lycopersicum itu sangat besar. Selain itu harga ceplukan pun tergolong mahal. Sebuah foto ceplukan dalam kemasan pada laman media sosial menghebohkan masyarakat.

Musababnya label pada kemasan berbahasa Indonesia itu mengungkapkan harga ceplukan Rp30.957 per 60 gram. Artinya buah tanaman kerabat leunca Solanum nigrum itu dibanderol lebih dari Rp500.000 per kg. Itu harga fantastis karena banyak orang mengenal ceplukan sebagai tanaman liar di sawah atau lahan kosong. Harga ceplukan yang mahal tidak hanya di Indonesia.

Kebun ceplukan garapan Tatang Kuswara dan Juwita.

Kebun ceplukan garapan Tatang Kuswara dan Juwita.

Nun di Brunei Darussalam, Ely Sofa Suparjo, pun kaget mendapati harga ceplukan B$1 setara sekitar Rp9.250 per buah. Di negeri jiran itu Ely mendapati ceplukan dikemas dalam wadah kecil berisi 10 buah seharga B$11,90 sepadan Rp110.000. “Buah itu diimpor dari Eropa dan Thailand,” kata perempuan asal Medan, Sumatera Utara, itu. Ukuran buah lebih besar dan bercitarasa lebih manis dibandingkan ceplukan lokal.

Berkhasiat

Tatang Kuswara (kiri) dan Juwita mengembangkan ceplukan di Sumedang, Jawa Barat.

Tatang Kuswara (kiri) dan Juwita mengembangkan ceplukan di Sumedang, Jawa Barat.

Harga ceplukan yang fenomenal pun berlaku di Belanda. Kerinduan 14 tahun Deslaknyo Wisnu Hanjagi menyantap buah tanaman anggota famili Solanaceae itu terobati. Ketika berumur 10 tahun Deslaknyo kerap memetik ceplukan di sawah atau jalan menuju sekolah. Di Negeri Kincir Angin, ia mesti datang ke pasar swalayan. Harga ceplukan pun tergolong tinggi yakni €15 setara lebih dari Rp200.000 per kg.

Juwita menduga ceplukan yang Ely dan Deslaknyo temukan berjenis P. peruviana. Tidak hanya Tatang dan Juwita yang yakin prospek ceplukan bagus. Undang Haryanto pun percaya peluang pasar ceplukan cerah. Oleh karena itu Undang pun membudidayakan 400 tanaman kerabat terung Solanum melongena itu sejak September 2016. Selain itu, “Saya tertarik berkebun ceplukan karena cocok untuk camilan dan bagus untuk kesehatan,” kata pria berumur 58 tahun itu.

Pupuk kandang terfermentasi media tanam berkebun ceplukan.

Pupuk kandang terfermentasi media tanam berkebun ceplukan.

Buah ceplukan berkhasiat obat bukan isapan jempol. Hasil riset Rezsa Berri Permana dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, menunjukkan buah ceplukan berfaedah antidiabetes. Pemberian 0,5 g dan 1 g per kg bobot tubuh ekstrak etanol 70% buah ceplukan memperlihatkan perbaikan kondisi tikus penderita diabetes mellitus tipe 2.

Buktinya terjadi penurunan 49—60% konsentrasi glukosa dan 24—29% lipid total. Peneliti menduga flavonoid, alkaloid, dan saponin—zat aktif dalam ceplukan—berperan dalam penurunan glukosa dan lipid. Buah ceplukan pun memiliki daya antioksidan kuat sesuai hasil penelitian Apri Nuranda dan rekan dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur.

Kemasan ceplukan di salah satu toko buah terkenal di Surabaya, Jawa Timur.

Kemasan ceplukan di salah satu toko buah terkenal di Surabaya, Jawa Timur.

Hasil penelitian yang termaktub dalam Jurnal Atomik 2016 itu mengungkapkan daya antioksidan ceplukan 63,46 ppm. Alkaloid dalam buah camapum—sebutan ceplukan di Portugal—menghambat berbagai proses oksidatif. Menurut Undang buah ceplukan juga bagus untuk penderita jantung. Ia menuturkan kawan sekantor tidak lagi sesak dada setelah rutin mengonsumsi tanaman herba itu. Juwita menambahkan buah ceplukan bagus untuk penderita batuk.

Undang mengenal ceplukan dari Tatang dan menjalin mitra. Ia menyetor hasil panen ke Juwita untuk dipasarkan. Meski baru tanam dan panen, permintaan mulai berdatangan. Ia menolak pesanan pemasok produk pertanian ke pasar modern di Jakarta karena produksi masih sedikit. Sayangnya pemasok itu belum menyebut kuantitas permintaan. Bahkan pensiunan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu, berencana menambah lahan jika penjualan prospek karviaiskoiso—sebutan ceplukan di Finlandia—bagus.

Calon pekebun
Di Kota Jambi, Provinsi Jambi, Hotmaida Nainggolan pun kesengsem bertanam ceplukan lantaran bercitarasa lezat dan menyehatkan. Alasan lain, “Tren tanaman herbal sedang bagus saat ini,” kata pekebun aneka buah seperti buah naga, jambu, dan mangga, itu. Hotmaida menyiapkan kebun seluas 500 m² di Pemayung, Kabupaten Batanghari, Jambi, untuk budidaya ceplukan. Saat ini tanaman baru berkecambah dan akan ditanam pada 2017.

Tanaman berumur 4 bulan rata-rata menghasilkan 200 g ceplukan per bulan.

Tanaman berumur 4 bulan rata-rata menghasilkan 200 g ceplukan per bulan.

Hotmaida menuturkan ceplukan layak jual dan budidaya. Tantangan yang mesti dihadapi pekebun yakni mengedukasi masyarakat khasiat buah tanaman kerabat kentang Solanum tuberosum itu. Ia berencana memasarkan ceplukan ke pasar modern agar lebih banyak masyarakat mengetahui keberadaan ceplukan. Harapannya tanaman yang buahnya tertutup kelopak bunga itu semakin populer. Hotmaida memprediksi nasib ceplukan sama dengan buah naga.

Semula belum banyak orang mengenal buah naga. Namun setelah banyak riset ilmiah mengkaji khasiat tanaman kerabat kaktus itu, daya beli masyarakat pun meningkat. Hotmaida memutuskan segera menanam ceplukan karena masih jarang orang yang membudidayakan. Ardian Syahputra Tambunan pun berhasrat menjadi pekebun ceplukan karena unik dan peluang bisnisnya bagus.

Saat ini besek wadah terbaik pengiriman ceplukan ke konsumen.

Saat ini besek wadah terbaik pengiriman ceplukan ke konsumen.

“Buktinya Juwita sudah merintis dan hasilnya baik,” kata Ardian yang berkebun di Kecamatan Siakhulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Ia menanam 1.000 biji dan akan menanamnya pada 2017 di lahan 400 m². Laba ceplukan tidak melulu untuk pekebun, tapi juga untuk penjual seperti Novi Dermawan dan Evi Manaidardjo. Novi dan Evi mengutip laba 25% dari harga jual.

Keduanya memasarkan ceplukan sejak Desember 2016. Novi tertarik dengan essbare judaskirshe—sebutan ceplukan di Jerman—karena ingin memudahkan konsumen mendapatkan ceplukan dengan harga terjangkau. Ia juga ingin mengedukasi masyarakat tentang manfaat ceplukan. Sementara Evi tertarik menjual buah tanaman kerabat tembakau Nicotiana tabacum itu agar cepat berkembang sehingga banyak orang tahu.

Oleh karena itu ia hanya mengutip sedikit laba. Bahkan Evi bermimpi memiliki kebun ceplukan agar buah lokal tetap eksis. Juwita memperoleh biji ceplukan dari pekebun buah naga di Sleman, Yogyakarta, Gun Soetopo, pada 2014. Gun mendapatkan buah itu dari luar negeri. Saat itu Juwita tertarik mengembangkan karena harga buah di mancanegara sekitar lebih dari Rp200.000 per kg.

Pasar swalayan
Kini Juwita memanen ceplukan setiap pekan. Setiap tanaman yang berumur 4 bulan rata-rata memproduksi 50 g ceplukan per pekan atau 200 g sebulan. Produktivitas masih relatif rendah karena tanaman berbuah perdana. Puncak berbuah saat tanaman berumur 1 tahun. Juwita mengemas fisalis—sebutan ceplukan di Italia—dalam wadah besek agar bertahan lama dan tetap segar sampai tujuan.

566_-11-1

Ilustrasi: Bahrudin

Wadah mika yang ia gunakan sebelumnya membuat buah basah karena tidak ada sirkulasi udara. Lazimnya Juwita mengemas ceplukan dalam kemasan besek berbobot 200 g, 400 g, dan 1 kg. Konsumen berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Majalengka, Bogor, dan Bali. Juwita tengah berkreasi membuat olahan ceplukan seperti kismis, dodol, dan selai. Boleh dibilang Tatang dan Juwita lah pelopor budidaya ceplukan komersial di tanahair.

Penggunaan mulsa untuk menekan pertumbuhan gulma.

Penggunaan mulsa untuk menekan pertumbuhan gulma.

Pemasok buah dan sayuran ke pasar swalayan di Jakarta, Eko Prianto, mengatakan belum pernah memasarkan ceplukan. Meski demikian ceplukan budidaya lokal berpeluang dipasarkan di gerai modern. Syaratnya pekebun mesti mengedukasi masyarakat tentang buah tanaman yang ditemukan ahli botani Swedia, Carl Linnaeus, itu. Eko menduga ceplukan di pasar swalayan komoditas impor karena berharga selangit.

Salah satu toko buah terkenal di Surabaya, Jawa Timur, menjual ceplukan dalam kemasan. Sejak 2015 toko buah modern itu memajang tanaman kerabat cabai Capsicum annuum itu di etalase toko. Salah satu anggota staf toko buah, Andriawan, mengatakan, pasokan buah berasal dari pemasok di Bandung, Jawa Barat. Ceplukan yang ia jual berwarna kuning dan berukuran lebih besar sedikit dari kelereng.

“Penjualan ceplukan agak lambat karena orang belum mengetahui khasiat buah itu,” kata Andriawan. Ia mempersilakan pekebun ananaskörsbär —sebutan ceplukan di Swedia—mengirimkan sampel ke toko buahnya. Syaratnya buah mesti bagus, tanpa cacat, dan tidak busuk. (Riefza Vebriansyah)

Analisis usaha budidaya ceplukan

Tags: , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software