Bumi Gora Pinang Bestari

Filed in Sayuran by on 31/07/2011

Gede bersama kelompok Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Kuntum Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), menanam bestari hasil pemuliaan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Prof Dr Ir Mugiono, pemulia padi bestari, menyebutkan padi bestari merupakan hasil radiasi benih padi cisantana yang ditembak sinar gamma cobalt-60 dosis 0,2 kilogray (Kgy).

Padi cisantana yang dilepas Kementerian Pertanian pada 2000 itu mempunyai seabrek keunggulan antara lain tahan wereng cokelat biotipe 1,2 dan tahan penyakit hawar daun strain 3. Produksi pun tinggi, 6 – 7 ton gabah kering panen (GKP) per hektar serta tekstur nasi pulen. Sayangnya petani tidak menyukai karena terdapat bulu di ujung gabah. “Kelemahan itu yang diperbaiki melalui radiasi,” tutur Mugiono. Hasilnya adalah padi bestari melalui pemurnian dan pengujian hingga generasi M-4 atau mutan generasi keempat.

5 kg

Bukan tanpa musabab Gede berpaling pada padi bestari. Sebelumnya petani di Bumi Gora itu menanam padi jenis ciherang dan cigeulis. Namun, menurut Gede, produktivitas keduanya hanya 5,5 – 6 ton GKP/ha. “Sebab itu kami memutuskan mencari alternatif lain,” ungkap Gede.

Ia membandingkan bestari dan varietas lain, masing-masing di lahan 0,6 ha dengan 5 kg benih pada Maret 2010. Hasilnya: padi bestari lebih unggul. “Bestari dapat menghasilkan 3,5 ton GKP, sedangkan varietas lain paling pol 2 ton. Keunggulan lain ketahanan terhadap penyakit,” tutur pria kelahiran Mataram itu. Seperti cisantana, tekstur nasi bestari pun pulen sehingga masyarakat menyukainya.

Gede memanfaatkan 3 ton hasil panen itu sebagai benih label putih atau benih dasar yang disebar ke 5 kabupaten dan kota di Pulau Lombok. Dari label putih itu, Gede mengembangkan lagi hingga menjadi label benih ungu alias benih pokok untuk disebar ke seantero Pulau Lombok dan Sumbawa.

Setelah benih tersedia, Gede tak ragu mengembangkan padi bestari skala luas. Bersama kelompok P4S, ia menanam padi di lahan 23 ha di Kelurahan Jempongbaru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Pada Juli 2011, mereka panen perdana.

Aman

Produktivitas padi bestari pada panen raya perdana itu mencapai rata-rata 7,5  ton GKP. “Jumlah itu lebih tinggi dibanding varietas ciherang ataupun cigeulis yang lebih dulu dikembangkan, hanya 6 ton per ha,” tutur Gede. Saat ini, total jenderal para petani di NTB menanam padi bestari di luasan 500 ha.

Ir Abdul Ma’ad, berharap hasil bestari yang tinggi  mampu mengatasi keterbatasan lahan pertanian yang semakin menyempit. “Ini untuk mempertahankan NTB sebagai salah satu lumbung pangan nasional,” tutur Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan NTB itu. Mafhum saja menurut Lalo Makmur Said, sekretaris Daerah Kota Mataram, alih fungsi lahan pertanian bisa mengancam produksi pangan jika tidak diimbangi oleh peningkatan produktivitas.

Dalam kesempatan itu, Dr Hudi Hastowo, Kepala BATAN menepis kekhawatiran mengenai keamanan padi bestari hasil radiasi. “Beras bestari aman dikonsumsi karena tidak ada radiasi yang tertinggal,” tutur Hudi yang mengungkapkan hal-hal terkait nuklir kerap dihinggapi stigma negatif. Padahal, nuklir punya banyak manfaat untuk pengembangan pertanian dan kecukupan pangan.

“Beras bestari adalah salah satu hasil teknologi nuklir yang bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat,” kata Muhammad Syafrudin ST, anggota Komis VII Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi masalah energi sumberdaya mineral, riset dan teknologi, serta lingkungan hidup. Walhasil dengan menumpukan diri pada padi bestari, petani di Bumi Gora tidak salah pilih. (Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software