Buat Sendiri Tin Celup

Filed in Majalah, Obat tradisional by on 11/01/2017

Mengolah daun tin berkualitas demi memperoleh khasiatnya.

Produsen hanya memanfaatkan daun tin berkualitas tinggi tanpa bahan kimia.

Produsen hanya memanfaatkan daun tin berkualitas tinggi tanpa bahan kimia.

Pekebun bukan hanya menuai buah, tetapi juga memetik daun tin yang berkhasiat untuk mengatasi beragam penyakit. I Wayan Sudiasa di Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, mengolah daun tin menjadi bahan minuman siap seduh seperti teh celup. Ia memanfaatkan daun di bagian tengah, di ruas ke-4—ke-6, bebas karat daun, dan tidak terkena tetesan getah sebagai bahan sediaan.

Ia membiarkan daun muda agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu. Farmakolog dari Institut Teknologi Bandung, Prof Sukrasno, menuturkan bahwa senyawa-senyawa berkhasiat pada daun tanaman herbal umumnya maksimal di daun muda hingga setengah tua. “Secara umum herbal daun yang paling bagus di awal dan maksimal di tengah. Kalau sudah terlalu tua banyak berkurang,” ujar Prof Sukrasno.

Tanpa tangkai
Sukrasno mencontohkan pada tanaman sirih, mengonsumsi daun yang sudah tua malah bisa menyebabkan iritasi. Adapun pada daun tin menurut Wayan Sudiasa, “Daun tua sering terkena karat, yang saya khawatirkan bisa membahayakan konsumen,” ujar pembudidaya pohon ara di Mojokerto, Jawa Timur itu. Ia memotong daun dari pohon tin dengan hati-hati sehingga getah tidak menetes ke daun. Menurut Wayan daun yang terkena tetesan getah menghasilkan minuman yang kurang enak.

I Wayan Sudiasa menggunakan daun tin berumur sedang untuk bahan sediaan herbal.

I Wayan Sudiasa menggunakan daun tin berumur sedang untuk bahan sediaan herbal.

Pehobi lain yang mengolah daun tin menjadi bahan minuman adalah Guruh Ade Prana Sapoetra. Produsen daun tin di Malang, Provinsi Jawa Timur, itu memanen daun tanpa tangkai. Itu sesuai anjuran herbalis Wahyu Suprapto. Herbalis di Kotamadya Batu, Jawa Timur itu menyarankan memanen daun Ficus carica itu tanpa tangkai. “Senyawa berkhasiat tersimpan di daun sehingga tangkai tak perlu disertakan,” ujar Wahyu.

Menurut Wahyu tangkai itu hanya menambah bobot. “Ujung-ujungnya khasiat daun berkurang,” ujarnya. Selain pemilihan daun, cara pengeringan pun menentukan kualitas bahan minuman. Wayan menjemur daun agar kering dengan mengangin-anginkan di halaman rumah. “Sinar matahari langsung mengurangi kandungan senyawa berkhasiat,” ujar lelaki kelahiran Bali 8 April 1985 itu.

Prof Sukrasno menuturkan hal senada. “Senyawa dalam herbal mudah teroksidasi oleh sinar matahari langsung,” ujarnya. Ia menyarankan pengeringan dengan mengangin-anginkan tanpa terkena sinar matahari langsung plus menggunakan alas yang berongga. Yang terbaik menggunakan rak yang renggang di bagian bawah agar sirkulasi udara lancar. Hal itu menghindari kebusukan pada daun.

Pengeringan daun tin beralaskan jaring.

Pengeringan daun tin beralaskan jaring.

Menurut Sukrasno produsen sebaiknya menghindari penggunaan alas plastik karena aliran udara di bawah daun tidak lancar. “Jika udara di bawah daun tidak lancar akan lembap dan memicu tumbuh cendawan,” ujar Sukrasno. Guruh menggunakan jaring plastik sebagai alas dan penutup daun. “Daun diapit sepasang jaring sehingga sirkulasi udara lancar dan daun juga tidak terbawa angin,” ujar Guruh.

Ia mengeringkan daun selama 2 hari agar mudah menghancurkan daun hanya dengan meremas menggunakan tangan. Pengeringan daun bisa juga menggunakan oven. Menurut Prof Sukrasno suhu ideal untuk pengeringan tanaman herbal 40°C. “Yang paling jelek pada suhu 60°C, karena bisa menyebabkan fenol oksidase yang mengoksidasi senyawa-senyawa bermanfaat pada tanaman. Pada daun kenikir misalnya, pemanasan pada suhu 55—60°C mengurangi kadar flavonoid,” ujarnya.

Nonkimia
Menurut Sukrasno produsen olahan daun tin sebaiknya menghindari penggunaan bahan-bahan kimia, terutama saat proses pengemasan. Wayan pernah berinisiatif menggunakan lem untuk melekatkan tali kantong—berisi serbuk daun tin. Namun, pihak pabrik tempat pengemasan produk melarang. Alasannya karena lem mengandung bahan kimia dan bisa mengurangi kualitas bahan minuman itu.

Daun tembakau terfermentasi sebagai pengganti pestisida kimia untuk mengatasi kutu putih yang menyerang pohon tin.

Daun tembakau terfermentasi sebagai pengganti pestisida kimia untuk mengatasi kutu putih yang menyerang pohon tin.

“Akhirnya tali hanya saya ikatkan ke kertas pegangan, tanpa lem,” ujar Wayan. Pada proses budidaya pun demikian. Pekebun wajib menghindari penggunaan pestisida kimia. Guruh menggunakan daun tembakau untuk mengatasi hama pada tanaman tin seperti trips. Ia memfermentasikan terlebih dahulu daun tembakau selama sehari. Untuk penggunaannya, Guruh mengencerkan larutan terfermentasi dengan air biasa perbandingan 1:5.

Setelah menyemprotkan pestisida nabati, keesokan harinya Guntur menyemprotkan air bersih pada tanaman itu. Menurut Prof Sukrasno beberapa senyawa yang terkandung pada pestisida kimia seperti klor dan fosfor membahayakan bagi tubuh saat terakumulasi. Penggunaan berlebih meninggalkan residu bahan kimia dalam jangka waktu tertentu yang membahayakan kesehatan.

566_-129Pada pengemasan teh herbal, jumlah daun tiap kantong juga harus dihitung. Menurut Wayan setiap kantong idealnya hanya berisi 1 gram daun kering. Itu cocok untuk segelas minuman. Jika lebih dari satu gram, menghasilkan minuman bercitarasa pahit. Para pekebun dan produsen menjaga mutu daun tin agar konsumen merasakan khasiat daun tanaman purba itu. (Bondan Setyawan)

Tags: , ,

Powered by WishList Member - Membership Software