Boerka Pedaging Unggul

Filed in Majalah, Satwa by on 02/08/2017

Pertumbuhan kambing boerka amat pesat, cocok sebagai pedaging unggulan.

Kambing boerka di ladang penggembalaan Seiputih, Medan, hidup sentosa.

Kambing boerka di ladang penggembalaan Seiputih, Medan, hidup sentosa.

Kelebihan kambing boer dan kambing kacang berpadu pada kambing boerka. Para peneliti menemukan sifat unggul dan stabil pada 5 tahun terakhir, yaitu pada umur yang sama, anakan memiliki bobot dan warna sama. Hasil penelitian sesuai yang diharapkan, yaitu kemampuan reproduksi mengikuti kambing kacang dan bobot produksi mendekati boer (lihat tabel: Keunggulan Boerka halaman 141). Boerka hasil silangan boer dan kacang.

Kambing kacang mempunyai bobot lahir 1,4—1,6 kg, boerka sekitar 2,2—2,8 kg atau 42% lebih berat. Boerka jantan rata-rata lebih tinggi 36—45% dan betina lebih tinggi 26—40%. Diharapkan bobot sapih mencapai 12 kg agar kelak memiliki bobot potong lebih tinggi. Jadi kambing hasil silangan itu lebih unggul dibandingkan dengan kambing lokal, karena pertumbuhannya cepat dan bobot tubuhnya lebih besar.

Adaptasi luas

Boerka, kambing pedaging hasil silangan kambing boer dan kacang.

Boerka, kambing pedaging hasil silangan kambing boer dan kacang.

Kelebihan lain boerka, daya adaptasi lingkungan tropik-basah pun sangat baik. Ia pun dapat hidup dengan pakan minimalis. Oleh karena itu, peternak dapat mengembangkannya di wilayah marginal terutama di daerah perbatasan. “Tidak perlu teknologi tinggi untuk menghasilkan kambing yang diharapkan. Tanam dan tumbuhkan indigofera di daerah itu,” kata Kepala Lolit Kapo, Dr. Ir. Simon Elieser, M.Si.

Hasil uji rasa menunjukkan, dagingnya lebih empuk daripada kacang. Kandungan lemaknya pun lebih sedikit. Pertumbuhan kambing kacang umur satu tahun sudah hampir stagnan. Adapun pada umur yang sama, pertumbuhan boerka justru makin pesat. Itu karena ia tipe besar, hingga dapat mencapai 70—75 kg pada umur 2 tahun. Keunggulan boerka dari induk boer ialah prolifikasinya lebih tinggi.

Meski belum bisa rata-tara 2 ekor per kelahiran, boerka pernah menghasilkan 4 ekor. Air susu induk tidak cukup memenuhi keperluan anak sebanyak itu, sehingga perlu air susu tambahan. Citarasa boerka pun cukup disukai. Dagingnya agak lembap, tekstur lembut, kompak, warna merah khas daging, lemak panggul tebal, dan aroma spesifik. Dengan karakteristik seperti itu, daging kambing boerka dapat diterima konsumen.

Peneliti di Lolitkapo, teliti dan seleksi boerka hingga 5 generasi.

Peneliti di Lolitkapo, teliti dan seleksi boerka hingga 5 generasi.

Laju pertumbuhan kambing boerka selama pascasapih juga lebih tinggi dibandingkan dengan kambing kacang. Pada umur 3—6 bulan, laju pertumbuhan boerka lebih tinggi rata-rata 42% dibandingkan dengan kacang. Laju pertumbuhan yang lebih tinggi memungkinkan boerka mencapai bobot potong pada umur lebih muda. Apalagi kini ada kecenderungan permintaan kambing muda meningkat.

Produk itu mudah dipenuhi oleh boerka karena berumur 3 bulan dan 5 bulan, anakan siap potong. Dagingnya lembut seolah tanpa serat. Kambing boerka terbukti memiliki beragam keunggulan dibandingkan dengan tetuanya, yakni kambing boer dan kacang. Satwa ruminansia itu melewati serangkaian uji adaptasi di beberapa lokasi sejak 2004.

Pasar besar
Pantas calon pembeli berebut, meski harga Rp2,5 juta per ekor. Di Sumatera Utara, harga itu dua kali lebih mahal dari kambing lokal setempat yang hanya Rp1,25 juta—Rp1,5 juta per ekor. Namun, peternak seperti Lamidi di Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, belum mau menjual. Populasi kambing boerka di kandang Lamidi cepat melesat.

Pakan hijauan dipanen secara teratur.

Pakan hijauan dipanen secara teratur.

Pada 2016 kelompok peternak kambing “Kesuma” hanya memelihara 30 ekor. Tak sampai setahun kemudian, populasi menjadi 58 ekor. “Pada akhir tahun 2017, diperkirakan jumlahnya mencapai 100 ekor karena saat ini banyak indukan sedang bunting,” ungkap Bambang Sutikno rekan Lamidi. Selain mendapat anakan, anggota kelompok tani Kesuma itu juga mendapat pupuk organik dari kotoran kambing secara gratis. Ia memanfaatkan pupuk sebagai sumber nutrisi tanaman jambu air madu deli dan jambu biji.

Dr. Ir. Atien Priyanti M.Sc. (kiri) dan Dr. Ir. Simon Elieser, M.Si, optimis kambing boerka bisa tembus pasar ekspor.

Dr. Ir. Atien Priyanti M.Sc. (kiri) dan Dr. Ir. Simon Elieser, M.Si, optimis kambing boerka bisa tembus pasar ekspor.

Lamidi menuturkan, “Kami sangat bersyukur mendapat bantuan kambing boerka dari Lolit Kapo,” ujarnya. Lolit Kapo yang dimaksudkan adalah Loka Penelitian Kambing Potong di Seiputih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara. Lembaga itu berada di bawah (UPT) Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Lolit Kapo kerap membagikan kambing dari hasil penelitian ke masyarakat serta Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) di berbagai daerah.

Tujuan membagikan ialah menguji daya adaptasi kambing boerka di berbagai daerah dengan sumber daya lokal yang spesifik. Kambing hasil persilangan boer dan kacang itu terbukti nyata menjadi rumpun baru yang memiliki sifat perpaduan kedua induknya dan sementara disebut boerka. Menurut Kepala Pusat Penelitian Pengembangan Peternakan, Dr. Ir. Atien Priyanti MSc., boerka sangat layak dikembangkan sebagai ternak potong. Atien pernah menghitung analisis usahanya yang menunjukkan dalam 3 bulan, peternak bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp300.000/ekor atau Rp100.000/ekor/bulan. Namun, agar efisien Atien menyarankan untuk memelihara belasan ekor agar skala ekonomis tercapai.

Pasar kambing boerka cukup terbuka karena Malaysia membutuhkan kambing yang cukup banyak untuk keperluan Idul Adha dan akikah. Selama ini mereka membeli kambing dari Australia sehingga biayanya lebih mahal karena biaya transportasi. Padahal, kalau mereka mengambil dari Indonesia harganya pasti lebih murah.

Menguntungkan

Lamidi (paling kanan) dan kawan-peternak, untung dobel pelihara boerka.

Lamidi (paling kanan) dan kawan-peternak, untung dobel pelihara boerka.

Atien menuturkan, “Bila peternakan berada di Pulau Bintan atau Lingga, tinggal menyeberangi Selat Malaka. Jadi harganya akan sangat kompetitif. Jadi kita harap masyarakat di perbatasan mau membudidayakan kambing boerka. ”Negeri jiran mensyaratkan bobot kambing 30—35 kg per ekor. Sayangnya jumlah kebutuhan kambing Malaysia belum diketahui secara pasti. Sebenarnya, populasi kambing di Indonesia cukup tinggi, mencapai 19 juta ekor.

Namun, kambing lokal di Indonesia, bobotnya kurang dari 30 kg pada umur 1 tahun sebagaimana diinginkan pasar ekspor. Kambing kacang yang populasinya terbanyak, bobot dewasa hanya 20—24 kg sehingga permintaan Malaysia tidak bisa dipenuhi. Oleh karena itu, pengembangan kambing boerka perlu segera dilakukan. Menurut Atien masyarakat dapat melakukan persilangan boer dengan kacang dan hasilnya disebut boerka, atau boer dengan kambing jawa, hasilnya disebut boerja.

Namun, hasil persilangan kambing mereka biasanya belum melalui proses seleksi sehingga hasilnya belum stabil, baik ukuran, sosok, dan warna bulu. Adapun indukan boerka karya pemulia di Lolit Kapo sudah tersertifikasi karena mengalami persilangan dan seleksi selama 5 generasi hingga saat ini. Menurut, Simon Elieser, budidaya kambing pedaging cukup menguntungkan. Peternak di Asahan, Sumatera Utara, menjual kambing boerka berbobot 25—30 kg mencapai Rp2,5 juta.

Sumber: Loka Penelitian Kambing Potong Seiputih.

Bandingkan dengan harga kambing lokal berbobot 20 kg, hanya Rp1,25 juta—Rp1.5 juta per ekor. Artinya harga kambing boerka berumur sama mencapai dua kali lipat. Simon tetap optimis Indonesia mampu memenuhi permintaan Malaysia. “Saat kita mempunyai 10.000 indukan dengan produksi 1.000 ekor per bulan, permintaan itu bisa penuhi,” kata doktor bidang pemuliaan ternak lulusan Universitas Gajah Mada itu.

Kambing lebih sehat, bulu bersih, dan mengilap berkat ramuan campuran 14 bahan pakan temuan peneliti Lolit Kapo.

Kambing lebih sehat, bulu bersih, dan mengilap berkat ramuan campuran 14 bahan pakan temuan peneliti Lolit Kapo.

Saat ini Balai Lolit Kapo baru memiliki 1.600 ekor kambing boerka terdiri atas 450 ekor induk betina. “Saya menargetkan setiap tahun harus bertambah 500 ekor,” kata Simon optimis. Namun, kendalanya setiap penambahan populasi Balit Kapo harus mengimbangi dengan penambahan kandang dan pakan. Itu jadi salah satu kendala karena instansi mereka tidak memiliki lahan luas.

Simon menjelaskan, kenaikan bobot kambing boerka berkisar 100—120 g per hari. Bila kebutuhan pakan 1,2 kg/per ekor dengan harga Rp1.560/kg, maka biaya pakan setiap hari Rp46.800 per bulan (Rp140.400 per tiga bulan). Jadi ia menyarankan untuk memelihara kambing lebih banyak agar efisien. Harga pakan lebih murah karena hasii penanaman sendiri dan dicampur dengan limbah kelapa sawit yang berada di sekitar Loka Kapo. (Syah Angkasa)

Tags: , , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software