Bergandeng Tangan Tanam Kadamba

Filed in Topik by on 05/07/2010 0 Comments

 

Jaminan pasar yang dimiliki Ardha membuat koleganya, Simon Thomas Parera di Jakarta, tertarik mengebunkan jabon. Sayang, Simon tak punya tanah seperti Ardha. Jalan keluar muncul saat Ardha menemukan lahan seluas 3 ha milik kas Desa Sangu, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang menganggur. Sang kepala desa bersedia tanah itu ditanami jabon dengan sistem bagi hasil. Sejak itu Ardha merintis usaha kemitraan jabon dengan investor (pemilik dana), pemilik tanah, dan industri kayu.

Bendera CV Jabon Kendal milik Ardha yang semula bergerak di bidang penanaman jabon dan penjualan bibit pun memperluas garapan menjadi pengelola kemitraan. Lalu dibuat perjanjian sistem bagi hasil: investor memperoleh 50%, pemilik tanah 40%, dan pengelola 10%.

Harga pasar

Menurut Dwi Setianto, bagian pemasaran CV Jabon Kendal, seorang investor minimal membenamkan modal Rp20-juta untuk penanaman seluas 1 ha. ‘Modal itu dipakai untuk pembelian bibit, penanaman, dan pemupukan yang dikelola oleh CV Jabon Kendal. Sementara perawatan dan penanggung pajak tanah ialah pemilik lahan,’ tutur Dwi. Hasil panen diserahkan pada CV Jabon Kendal yang akan menjualnya pada SSS. ‘SSS menerima jabon sesuai dengan harga pasar yang berlaku di pabrik. Saat ini harga jabon diterima di pabrik Rp980.000 per m3,’ tambah Dwi. Sengon hanya Rp720.000.

Meski tanpa jaminan angka harga beli, para investor yakin mengebunkan jabon menguntungkan. Prediksi mereka setelah umur 4 – 5 tahun jabon mencapai diameter 36 cm. Dari populasi 1.000 tanaman diperolah 380 m3 (dengan asumsi 10 persen tanaman mati dan setiap 2,3 tanaman menghasilkan 1 m3, red). Seandainya harga jatuh pun – sama dengan sengon Rp720.000 per m3, masih menguntungkan. Padahal, prediksi harga jabon 4 – 5 tahun mendatang Rp1-juta per m3. Makanya saat ini tercatat 75 ha lahan dikelola CV Jabon Kendal secara kemitraan. Investor berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Nangroe Aceh Darussalam.

Pola kemitraan juga dilakukan oleh PT Serayu Makmur Kayuindo (SMK) di Cirebon, Jawa Barat. Bedanya SMK langsung bermitra dengan pemilik tanah. Menurut Hasan, direktur utama SMK, ada 3 pola penanaman jabon untuk memenuhi kebutuhan industri kayu miliknya. Pola pertama SMK bermitra dengan pemilik tanah. ‘Pengajuan permohonan bermitra mudah, pemilik tanah cukup mengajukan permohonan tertulis. Bahkan lisan pun boleh asal persyaratan lengkap,’ kata Hasan.

Persyaratan lengkap ialah pemilik tanah menunjukkan surat tanah yang sah. Berikutnya SMK menunjuk notaris untuk memeriksa keabsahan surat tanah, memastikan tanah milik pemohon, dan memastikan tanah tidak dalam sengketa atau berpotensi menjadi sengketa. ‘Berikutnya SMK juga mensurvei tingkat kesesuaian lahan untuk jabon. Bila cocok langsung tanda tangan surat perjanjian,’ tutur Hasan.

SMK lalu menyediakan bibit, melakukan penanaman, perawatan, dan panen. ‘Segala teknis budidaya ditanggung SMK. Pemilik lahan tinggal ongkang-ongkang kaki,’ kata Hasan. Dengan sistem mitra itu SMK dan pemilik mendapat bagian 70:30 atau 60:40 tergantung negosiasi dan jarak lokasi kebun dengan pabrik.

Pola kedua ialah sistem binaan. Pada pola binaan pemilik tanah mengajukan permintaan bibit. Biasanya yang melakukan sistem ini adalah instansi pemerintah atau swasta. ‘Kami juga memberikan pendampingan dan konsultasi gratis,’ tambah Hasan. Saat ini SMK melakukan binaan dengan 2 instansi pada penanaman 12.000 bibit. Yang menarik pada sistem binaan, pemilik tanah boleh menjual kayu kepada siapapun. ‘Tidak ada ikatan kontrak,’ kata Hasan. Yang terakhir SMK melakukan penanaman di lahan milik sendiri.

Tiga pola

Dr Nandang Prihadi, dari Institut Pertanian Bogor (IPB), meriset kelembagaan industri kayu di Pulau Jawa. Menurut Nandang, secara garis besar ada 3 model kemitraan dalam investasi kayu termasuk jabon. Yang pertama ialah model informal. Industri kayu membagi-bagikan bibit kepada pemilik lahan atau instansi secara gratis. Pemilik lahan yang menanam, merawat, hingga panen. Pemilik lahan boleh menjual hasil panen kepada siapa pun.

Kelemahannya tak ada jaminan pasar dan tak ada bimbingan teknis budidaya bagi pemilik lahan. Industri kayu yang membagikan bibit gratis tak rugi karena bisa mengklaim adanya penanaman kayu rakyat di wilayah operasi. Dengan begitu izin usaha terus diberikan. Pola kedua ialah industri kayu membagikan bibit, melakukan pendampingan, sebagian melakukan perawatan, hingga membantu panen. Beberapa bahkan memberi premium price (harga di atas harga pasar, red) dan kredit tunda tebang (harga tambahan karena menunda tebang, red).

Pada pola kedua kisaran bagi hasil 20 – 50% untuk industri kayu dan 50 – 80% untuk pemilik tanah. ‘Itu tergantung besarnya input yang diberikan setiap pihak. Musababnya setiap perusahaan berbeda sistem,’ kata Nandang. Namun, yang umum, menurut Nandang, 20:80 dan 10:90 untuk industri dan pemilik lahan. Pola ketiga mirip dengan pola kedua, hanya dilakukan pada tanah negara atau instansi. ‘Pada pola terakhir kesepakatan antara pemilik konsesi lahan negara dengan industri, bahkan investor bila ada,’ tambah Nandang.

Menurut Nandang, sejauh ini pola kemitraan pada industri kayu berjalan adil karena industri kayu tak bisa semena-mena pada mitra. ‘Di Pulau Jawa banyak sekali industri kayu. Bila mempermainkan mitranya, gampang sekali mitra lari pada industri lain,’ katanya. Beda dengan pola kemitraan yang jumlah perusahaan intinya segelintir sehingga perusahaan inti bisa memainkan harga. (Destika Cahyana/Peliput: Argohartono Arie Raharjo, Faiz Yajri, dan Nesia Artdiyasa)

 

  1. Dengan pola kemitraan pasar jabon dijamin industri mitra. Ada beragam tipe bagi hasil antara industri kayu dengan pemilik tanah. Mulai 10:90, 20:80, 60:40, dan 70:30, tergantung negosiasi dan besar input setiap pihak
  2. Hasan, direktur utama PT SMK lakukan kemitraan jabon dan sengon di 8 provinsi dengan total luasan 4.143 ha
  3. Dr Nandang Prihadi, secara garis besar ada 3 pola kemitraan pada industri kayu: informal, mitra di lahan pribadi, dan mitra di lahan negara
  4. Jabon dibeli dengan harga pasar yang berlaku saat panen. Saat ini 1 m3 jabon dihargai Rp980.000 di pabrik PT Sekawan Sumber Sejahtera. Sementara sengon hanya Rp720.000
Powered by WishList Member - Membership Software