Beras dan Keragaman Hayati

Filed in Majalah, Sayuran by on 12/03/2018

579_ 132-1Februari 2018 ini kebijakan harga eceran tertinggi (HET) beras telah memasuki bulan keenam. Namun, sejak berlaku 1 September 2017, beleid itu belum efektif. Harga-harga beras, baik medium maupun premium, selalu di atas patokan. Saat musim paceklik Januari—Maret 2018, harga beras di pasaran bakal lebih tinggi lagi karena pasokan gabah dan beras rendah. Bagi pedagang dan penggilingan padi, ini menimbulkan dilema serius. Sebab, HET membuat risiko bisnis beras dan usaha penggilingan padi semakin tinggi.

Agar bisa menjual beras medium di wilayah produsen Rp9.450/kg, harga gabah maksimal harus sekitar Rp4.000/kg. Padahal, di pasar harga gabah lebih tinggi daripada itu. Akhirnya penggilingan padi, terutama berskala kecil, berhenti giling. Dari 169.044 unit penggilingan padi kecil diperkirakan hanya sepertiga yang masih beroperasi. Sisanya mati suri. Jika memaksakan diri berbisnis beras dan menggiling padi, potensial besar untuk merugi. Jika menjual beras di atas HET, sanksi hukum menjemput di depan mata.

Di luar itu, mengatur dan mengelompokkan harga beras hanya jadi dua kategori, medium dan premium, berpotensi menimbulkan kerugian tidak terkira yakni tergerusnya keanekaragaman hayati. Sejarah mencatat, Indonesia kaya keanekaragaman genetik padi. Berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Padi tahun 1972—1974 ditemukan 6.000 varietas padi, dan meningkat menjadi 5.275 tipe indica, dan 3.002 tipe japanica/javanica tahun 1977. Meskipun bukan pusat asal moyang padi yang dibudidayakan, Indonesia menjadi penyumbang keanekaragaman benih padi terbesar kedua kepada bank benih International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina.

Padi lokal
Dahulu, varietas-varietas padi lokal itu dibudidayakan oleh petani setempat. Namun, secara perlahan varietas padi lokal mulai ditinggalkan seiring adopsi teknologi Revolusi Hijau sebagai jalan keluar stagnasi produksi pada 1960-an. Varietas unggul adalah salah satu pilar penting Revolusi Hijau. Pada 1966, IR 8, salah satu varietas unggul produksi IRRI, disebarluaskan. Varietas itu amat responsif pemberian nitrogen, anakannya banyak, bertangkai tebal dan berpelepah daun kokoh. Batang dan daun IR 8 sangat tegar pada tingkat pemberian nitrogen yang tinggi. Sifat-sifat ini memungkinkan IR 8 menghasilkan dan menopang bulir-bulir padi yang banyak tanpa mudah rebah.

Varietas ini cepat diadopsi di seluruh Asia. Di bawah bimbingan Dr. Robert F. Chandler Jr., IRRI mengembangkan 27 varietas padi baru yang ditanam di hampir 50 juta hektare di Asia saat itu. Varietas baru itu bisa meningkatkan produksi padi 66%. Karena produksinya yang mencengangkan, penyebaran varietas ini berlangsung cepat. Pada tahun 1974/1975, sekitar 53% dari sawah-sawah irigasi di Indonesia ditanami 4 varietas: IR 5, IR 8, C 4 dan Pelita (PI-1 dan PI-2). Disokong sarana produksi yang baik, seperti pengairan, pupuk dan pestisida, produksi IR 8 bisa mencapai 6—10 ton per hektare. Bandingkan dengan varietas lama yang cuma memberi hasil 2—3 ton per hektare.

Secara keseluruhan, adopsi Revolusi Hijau membuahkan hasil yang menakjubkan. Hanya dalam 14 tahun (1970—1984), produksi padi di Indonesia bisa dipompa dari 1,8 ton per hektare jadi 3,01 ton per hektare. Padahal, pengalaman Jepang untuk meningkatkan produksi padi dari 2 ton per hektare jadi 3,28 ton per hektare perlu 68 tahun (1880—1948). Untuk menaikkan produksi dari 1,35 ton per hektare jadi 3,1 ton per hektare, Taiwan butuh 57 tahun (1913—1970). Jika pada 1965 tingkat produksi beras cuma 1,7 ton per hektare, pada 1980 mencapai 3,3 ton per hektare. Puncaknya Indonesia berswasembada beras pada 1984, dan diganjar penghargaan oleh Organisasi Pangan Dunia (FAO).

Sisi gelap
Revolusi Hijau adalah kekaguman sekaligus kekecewaan. Produksi memang naik tinggi, tapi semua itu menyaratkan suplai air cukup, asupan (pupuk dan pestisida) kimiawi dan bibit dari luar yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan transnasional. Tanpa itu semua, tingkat produksi varietas unggul keluaran IRRI tidak jauh lebih baik dari varietas “tradisional”. Sejak itu, pelan tapi pasti varietas unggul mendesak padi-padi lokal. Catatan tahun 1986 keanekaragaman hayati padi di Indonesia menurun drastis. Sekitar 75% sawah ditanami padi hibrida, dan lebih separuhnya hanya ditanami dua varietas: cisadane, dan IR 36. Akibatnya, tidak kurang 1.500 varietas padi lokal langka hanya dalam 15 tahun.

Beleid HET beras berpotensi mengulangi “sisi gelap” Revolusi Hijau itu. Tidak banyak yang menyadari apabila di pasar ada banyak jenis beras yang dijual. Di toko-toko kelontong tidak kurang ada 4—5 jenis beras. Di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, ada lebih dari 20 jenis beras. Dari puluhan jenis beras itu, sekitar 10% dari total 2.000—3.000 ton beras per hari yang diperdagangkan di PIBC merupakan beras jenis khusus. Karena kekhususannya, harga beras ini jauh lebih mahal dari jenis beras medium dan premium.

Disebut khusus karena produksi beras ini tidak dalam skala luas. Berbeda dengan varietas unggul yang umurnya genjah dan bisa dipanen dalam tempo 100—120 hari, masa tanam padi khusus ini bisa 5—6 bulan atau 150—180 hari. Ongkos produksi lebih mahal dan rendemen gabah biasanya kurang dari 50%. Konsumennya pun terbatas. Pengusahaannya dilakukan oleh petani-petani lokal. Hampir di setiap daerah ada petani yang menanam beras khusus ini. Dalam konteks ini, nama lain beras khusus adalah beras lokal.

Penerapan kebijakan harga eceran tertinggi (HET) beras dikhawatirkan mengancam keanekaragaman hayati padi.

Penerapan kebijakan harga eceran tertinggi (HET) beras dikhawatirkan mengancam keanekaragaman hayati padi.

Kita mengenal sejumlah beras lokal yang amat populer, seperti pandanwangi asal Karawang atau Cianjur, Jawa Barat. Seperti namanya, beras ini berciri fisik bulat, pulen, dan mengeluarkan aroma pandan alami. Ada juga beras saigon yang diproduksi di Jawa Barat. Ada pula bereum seungit asal Cianjur. Varietas yang nyaris punah ini disebut pula beras merah wangi. Sebutan itu diberikan karena saat dimasak beras ini mengeluarkan aroma harum. Magelang, Jawa Tengah, terkenal akan beras menthik susu. Berbentuk fisik bulat lonjong, dan gemuk, seperti namanya, beras ini berwarna putih susu. Sebagai salah satu jenis beras organik, kandungan protein, karbohidrat, dan glukosa Menthik Susu mudah terurai. Karena itu beras ini aman dikonsumsi oleh para penderita diabetes.

Lebih tinggi
Jawa Tengah juga dikenal sebagai produsen beras rojolele. Beras itu memiliki bentuk memanjang dan berwarna putih cerah. Sekilas tampilannya mirip beras IR. Pulen dan wangi saat dimasak, tak heran bila menjadi salah satu primadona beras Indonesia. Di luar Jawa, beras lokal pun banyak. Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tiga beras lokal yang amat populer adalah siam, mayang dan unus. Padi penghasil beras ini hanya panen sekali setahun. Unus dan mayang juga populer di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ini tercermin dari luas tanam padi lokal yang mencapai 40% dari total luas tanam. Di setiap daerah bisa dipastikan masih ada petani yang menanam padi lokal dalam jumlah terbatas.

Karena kekhususan sifat-sifatnya itu, harga beras lokal lebih tinggi dari beras pada umumnya. Di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, beras pandanwangi dan saigon misalnya, dijual antara Rp14,000—Rp16.000/kg. Adapun beras siam, mayang dan unus dilego Rp17.000/kg. Ini jauh di atas HET yang diatur Permendag 57/2017: beras medium Rp9.450/kg di sentra produksi dan Rp9.950—Rp10.250/kg di luar sentra produksi, beras premium Rp12.800/kg di sentra produksi, dan Rp13.600/kg di luar sentra produksi. HET beras mengancam keberlangsungan hidup petani penanam padi lokal karena merugi.

Sebetulnya, ada solusi seperti diatur di Permentan 31/2017 tentang Kelas Mutu Beras. Di peraturan ini beras lokal masuk katagori beras khusus dengan persyaratan yang dibagi empat: beras untuk kesehatan, beras organik, beras indikasi geografis, dan beras tertentu yang tidak dapat diproduksi di Indonesia. Agar bisa dijual dengan harga khusus, beras harus memenuhi syarat, yakni terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk beras kesehatan, di Lembaga Sertifikasi Organik untuk beras organik, di Ditjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM untuk beras indikasi geografis, dan sertifikat khusus dari negara asal untuk beras yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri.

Bagi petani, bukan hal mudah mengurus persyaratan beras khusus. Boleh jadi, oleh petani persyaratan ini dipandang sebagai demarkasi untuk mengakhiri riwayat padi lokal. Pedagang tentu bersikap pragmatis: kalau petani tidak mengantongi persyaratan beras khusus harga akan ditekan menyamai HET. Saat hasil produksi sulit masuk ke pasar, sektor budidaya pun terdampak. Dalam kondisi seperti ini, siapa yang memberikan uluran tangan dan menolong petani? Tanpa solusi baru, alih-alih memperbaiki keadaan, beleid HET justru menjadi buloser yang mempercepat kepunahan varietas padi lokal. (Khudori, anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat)

Tags: , ,

Powered by WishList Member - Membership Software