Anggrek Yang Hilang di Lereng Perawan

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 04/03/2018

0 Gunung TiluSaat menyocokkan anggrek Bulbophyllum yang baru diperoleh, Budi Ginting dan Reza Wibawa—keduanya kolektor anggrek di Bandung—keheranan. Anggrek yang diduga Bulbophyllum ovalifolium itu memiliki lidah berwarna kuning, bukan merah. Reza kemudian mengunggah anggrek itu ke media sosial untuk meminta bantuan identifikasi.

Bulbophyllum ovalifolium.

Bulbophyllum ovalifolium.

Unggahan itu menarik perhatian Roland Amsler, kolektor Bulbophyllum di Swiss. Ia langsung menanyakan habitat asal anggrek itu. Amsler pun tertarik dan ingin melihat anggrek itu di habitat aslinya. Setelah datang dan melihat alam Gunung Tilu yang masih “perawan”, Amsler terpana. “Hutan yang begini yang saya cari selama ini. Ini sesuai dengan deskripsi habitat dari literatur,” ungkapnya kepada Budi Ginting.

Selama 3 hari keluar masuk Gunung Tilu, ia menemukan puluhan anggrek berbagai jenis yang membuatnya sangat puas berkunjung ke Indonesia. Kawasan Gunung Tilu merupakan cagar alam yang terletak di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Sesuai namanya, tilu yang berarti tiga, memang ada tiga gunung yang terlihat berdekatan. Trubus pun tertarik melihat isi gunung yang konon kaya anggrek itu.

Selain Budi Ginting dan Reza Wibawa, ada surveyor di Bogor, Prabu Wanayassa, dan Iwan Sumpena, warga Pangalengan yang sekaligus menjadi penunjuk jalan. Setelah melewati Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, yang terletak di jalur Palayangan–Gambung, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati hutan pinus. Lahan seluas 5.000 m² milik PT. Perhutani di perbatasan cagar alam Gunung Tilu itu Iwan sewa untuk berkebun.

Gastrodia crispa.

Gastrodia crispa.

Di sela pohon rasamala Altingia excelsa dan puspa Schima wallichii, ia menanam kopi, sawi, dan cabai gendot. Kebun itu terletak pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut (dpl). Ketinggian puncak Gunung Tilu 1.600 m dpl. Menurut Budi Ginting, salah satu daya tarik Gunung Tilu adalah kerap ditemukan anggrek misterius. Salah satu penyebabnya adalah populasi anggrek Jawa Barat yang relatif sedikit dan informasinya terbatas. “Kebetulan dari yang sedikit itu banyak tersisa di Gunung Tilu,” ungkap pria kelahiran Lampung 45 tahun silam itu.

Karena itulah 4 tahun terakhir Budi kerap menjelajahi kawasan itu. Hasilnya, ia menemukan beberapa anggrek di gunung itu yang dianggap lost species orchid alias spesies yang hilang. Artinya, spesies itu pernah diidentifikasi dan mendapat nama ilmiah, tapi tidak pernah dijumpai lagi dalam waktu lama. Contohnya Coelogyne cerofolia. Ketika menemukan anggrek itu, Budi Ginting dan Reza Wibawa tidak bisa mengidentifikasi.

Hymenorchis javanica.

Hymenorchis javanica.

Mereka lantas meminta bantuan pengelola laman maya International Orchid Species (IOS) untuk mengidentifikasi. Pengelola laman itu terkejut dan menyatakan bahwa anggrek itu sesuai dengan deskripsi anggrek Coelogyne cerofolia yang diidentifikasi pada 1902. Selama 115 tahun anggrek itu belum pernah dipublikasikan dengan foto asli, hanya berupa ilustrasi. Seizin Budi, pihak IOS menampilkan foto anggrek itu di buletin mereka dan menjulukinya long lost orchid.

Di dalam hutan itu, penemuan mengejutkan berlanjut. Di antaranya Gastrodia crispa. Anggrek itu tumbuh di tanah yang permukaannya penuh serasah daun kering. Di sekelilingnya hanya ada pakis dan tumbuhan lain tanpa pohon bambu yang selama ini menjadi habitatnya. Menurut peneliti anggrek di Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur, Destario Metusala, S.P., M.Sc., lazimnya Gastrodia crispa dijumpai hidup di serasah bambu. “Saya belum pernah melihatnya tumbuh di luar kawasan bambu. Itu menunjukkan ia bisa bersimbiosis dengan tanaman selain bambu,” ungkap mahasiswa doktoral di Universitas Indonesia itu.

Destario menjelaskan, gastrodia bersimbiosis dengan cendawan mikoriza untuk tumbuh. Cendawan itu berhubungan dengan serasah daun bambu. Artinya, gastrodia dapat pula bersimbiosis dengan tanaman lain. “Trubus beruntung dapat menemukan langsung di tempat tumbuh anggrek endemik Jawa Barat itu,” ujar Destario. Karena jarang ditemukan, literatur yang membahas gastrodia pun minim.

Oberonia sp.

Oberonia sp.

Anggrek itu jarang terlihat karena tumbuh dari umbi yang tersembunyi dalam tanah. Ia muncul ke permukaan tanah saat berbunga. Bunga yang hanya berumur 2 minggu itu ditopang tangkai sepanjang 10—40 cm. Setelah layu, tanaman bertahan hidup mengandalkan umbi untuk muncul lagi saat berbunga. Penemuan lain adalah anggrek Hymenorchis javanica yang tumbuh di atas pohon besar berdiameter 40 cm.

Namun, mata Iwan sangat jeli sehingga dapat menemukan anggrek yang sosoknya sangat kecil itu. Batang semu sepanjang 5 cm dengan 5 lembar daun kecil berukuran 1 cm, tengah memunculkan bunga berukuran 1—1,2 cm. Untung bunganya berwarna putih dan dan rimbun, 5—7 kuntum, sehingga tetap mencolok. Warnanya kontras dengan dahan tempatnya melekat. Menurut Budi, anggrek mini endemik Jawa Barat itu biasa tumbuh di ketinggian di atas 900 m dpl. Ketinggian tempat tumbuh hymenorchis itu 1.500 m dpl.

Yang juga mengejutkan ialah adanya Oberonia sp. Anggrek berbunga terkecil di dunia itu justru tumbuh di kebun Iwan Sumpena. Ia menempel di pohon rasamala, 6 m dari tanah. Menurut Destario, genus Oberonia di Jawa Barat cukup banyak. Namun, tidak banyak kolektor tertarik karena bunganya sangat kecil. Pengamatan Destario di Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, diameter bunga Oberonia saat mekar hanya 1—1,2 mm.

Tim eksplorasi anggrek Gunung Tilu (dari kiri ke kanan), Iwan Sumpena, Syah Angkasa (Trubus), Reza Wibawa, dan Budi Ginting.

Tim eksplorasi anggrek Gunung Tilu (dari kiri ke kanan), Iwan Sumpena, Syah Angkasa (Trubus), Reza Wibawa, dan Budi Ginting.

Anggrek asli Indonesia, Paphiopedilum javanicum, juga Trubus jumpai. Sayang bunganya belum mekar. Anggrek tanah itu tumbuh sendirian, yang menandakan ia baru tumbuh di situ. Ia tumbuh di balik semak belukar di permukaan tanah yang penuh dengan serasah daun tua. Sinar matahari masih menembus sehingga anggrek kantong itu leluasa menerima sinar matahari. Tidak jauh dari lokasi itu kami pun menemukan Nervilia punctata berdaun keperakan.

Yang juga unik ialah penemuan Dendrobium fimbriatum. Habitat asli anggrek itu adalah daerah subtropis. Kawasan Gunung Tilu dengan ketinggian 1.400–1.600 m dpl ternyata cocok untuk pertumbuhannya. Totalnya dalam 3 hari itu ditemukan 30 spesies anggrek. Reza Wibawa menduga lebih dari 75 spesies anggrek tumbuh di sana. Ia mengidentifikasi sendiri sekitar 50 jenis dan menduga banyak yang belum ditemukan karena keterbatasan area penjelajahan.

Gunung Tilu kecil tapi kekayaan anggreknya maksimal.

Gunung Tilu kecil tapi kekayaan anggreknya maksimal.

Genus yang tumbuh di sana antara lain Bulbophyllum, Coelogyne, Eria, dan Dendrochillum. Jenis Bulbophyllum diduga paling banyak, sekitar 10 spesies, seperti Bulbophyllum conatum, B. ovalifolium, atau B. tenelum yang tergolong langka. Destario menduga banyaknya Bulbophyllum di daerah itu lantaran kawasan itu mempunyai kelembapan tinggi. “Jenis itu menyukai daerah lembap dan teduh,” ungkapnya.

Paphiopedilum javanicum.

Paphiopedilum javanicum.

Sedangkan jenis Eria yang ditemukan antara lain Eria iridifolia, E.. flavescens, dan E. floribunda. Keragaman anggrek gunung Tilu sangat tinggi. Jenis dataran rendah hingga tinggi tumbuh di sana. Kebanyakan tumbuh di pohon puspa, selain rasamala dan kihujan Samanea saman. Puspa cocok untuk pertumbuhan anggrek karena kulit batang tidak pecah saat kering. Lumut pun tumbuh bagus di pohon itu. Itu sebabnya setiap menemukan pohon puspa, Trubus berhenti untuk memperhatikan batang dan cabang, berharap ada anggrek misterius yang melekat. (Syah Angkasa)

Tags: , ,

Powered by WishList Member - Membership Software