Majalah Pertanian

AIDS DAN PERTANIAN

Eka Budianta

Human Immunodeficiency Virus Infection dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) penyakit mematikan karena menghancurkan kekebalan tubuh manusia. Sudah 30 tahun berlalu sejak Hari AIDS Sedunia dicanangkan, 1 Desember 1988. Waktu itu saya berada di New York. Sejumlah mahasiswa membagikan kondom di depan kedai buku. Aduh, apakah ini solusi untuk menangkal penularan virus HIV AIDS?

Apakah hal itu perlu dilakukan di Indonesia? Saya pikir virus AIDS tidak akan masuk ke Indonesia. Namun, ternyata pada 2000, saya kaget ketika melewati “Daerah Wajib Kondom” di kawasan wisata Danau Sentani, Papua. Lebih kaget lagi membaca laporan Dinas Kesehatan Papua, hingga akhir Juni 2018 tercatat 37.991 warga di Papua terinfeksi HIV-AIDS. Siapakah mereka? Warga pedalaman, orang desa yang sederhana di Nabire, Jayawijaya, Mimika, dan Jayapura.

Papua

Prevalensi HIV AIDS di Papua paling tinggi yaitu 2,3 persen. Adapun prevalensi nasional Indonesia 0,4 persen atau sekitar 620.000 jiwa. Saya lebih tersentak, bahwa petani termasuk korban paling besar. Contoh di Kabupaten Sikka, NusaTenggara Timur. Laporan harian Kupang Pos menyebutkan korban terbanyak adalah ibu rumah tangga (161 orang), para wiraswasta (102 orang), dan petani (100 orang). Buruh (44 orang) sopir (43 orang), pekerja seks komersial (PSK) 35 orang.

“Ada juga anggota TNI/Polri dan PNS sebanyak 12 orang. Semua penderita 326 orang rutin minum obat Antiretroviral (Arv),” kata Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sikka, di Maumere, Yuyun Darti Baetel. Sahabat saya, Prayitno Soembadji berkata, “Semua bisa terjangkit virus AIDS, dan petani yang paling banyak menderita. Secara kasat mata, mereka jauh dari kemungkinan terinfeksi, tapi nyatanya justru perdesaan paling banyak jadi korban,” katanya.

Belum jelas, bagaimana kaitan pertanian dan peternakan bila terjadi wabah AIDS. Namun, yang menarik, bagaimana dunia pertanian berusaha menyembuhkan para korban. Di tempat yang paling banyak terserang, makin beragam pula inovasi yang bermunculan. “Perlu pemikiran dan penelitian lebih mendalam,” kata dokter Prayitno yang pernah mendapat penghargaan sebagai dokter Puskesmas teladan tingkat nasional. “Juga untuk menjawab mengapa begitu banyak ibu-ibu menjadi korban.” Virus HIV AIDS menjangkiti juga mahasiswa, pelajar, bahkan balita.

Mengapa Papua terkenal menjadi daerah paling banyak kasus AIDS? Jawabannya, karena kesadaran untuk ikut tes HIV/AIDS di sana sangat tinggi. “Di banyak daerah lain, masih seperti fenomena gunung es,” kata Executive Director Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA) Ramdani Sirait. Jadi, yang paling diperlukan adalah penyuluhan dan pendidikan publik mengenai bahaya virus HIV/AIDS.

Buah merah

Buah merah tanaman khas Papua berpotensi meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penderita HIV AIDS cocok mengonsumsi buah Pandanus conoideus itu.

Di Wamena, Papua, tumbuh semacam pandan yang disebut kuansu Pandanus conoideus. Dunia mengenalnya sebagai buah merah yang berkhasiat menyembuhkan HIV/AIDS karena kandungan asam lemaknya tinggi (35 persen) serta mengandung mineral seperti besi, magnesium, kalsium, dan seng.. Tokoferol dan betakaroten dalam buah merah berperan sebagai anti oksidan yang meningkatkan kekebalan tubuh.

Para peneliti dari berbagai bangsa kini berlomba menemukan jawaban, benarkah buah merah memang mampu mengatasi kanker, tumor, dan virus HIV AIDS. Yang pasti, harga minyak dari buah merah bisa 15 kali lebih mahal ketimbang minyak kanola biasa. Anjuran untuk mengonsumsi olahan buah merah, budidaya buah merah, juga makin marak di banyak tempat. Setiap Desember, kisah buah merah bergelora, seiring usaha manusia untuk memperpanjang umurnya.

Selain buah merah, ada berbagai tanaman herbal yang dipercaya bisa membantu manusia melawan HIV AIDS. Lima di antara yang paling tenar adalah sirsak, gandarusa, sambiloto, geranium, dan keladi tikus. Daun sirsak mengandung zat acetogenins yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Acetogenins merupakan NADH Dehydrogenase Inhibitors yang dapat menekan infeksivitas virus HIV.

Gandarusa Justicia gendarussa sering tumbuh liar di hutan atau biasa dipelihara sebagai tanaman pagar. Hasil penelitian dari Universitas Illinois, Chicago, Amerika Serikat, menemukan zat patentiflorin A dalam ekstrak gandarusa. Penelitinya Djaya Doel Soejarto mendapat banyak perhatian dan menjadi rujukan di seluruh dunia. Patentiflorin A dapat menghambat enzim reverse transcriptase yang berasal dari virus HIV.

Ekstrak bunga geranium ternyata juga mampu mencegah virus agar tidak bereplikasi. Ia berperan melindungi sel kekebalan tubuh serta sel darah dari infeksi virus HIV. Begitu hasil penenelitian di Pusat Riset Jerman. Keladi tikus Thyponium flagelliforme merupakan tanaman obat asli Indonesia. Ia mengandung Ribosome Inactivating Proteins atau RIPs. Itu kelompok enzim tumbuhan yang menghambat elongasi rantai polipeptida sehingga mencegah replikasi virus HIV.

Sambiloto Andrographis paniculata yang terkenal pahit mengandung senyawa andographolide. Senyawa itu ternyata dapat meningkatkan daya tahan tubuh (imunostimulator) sehingga tubuh terjaga dari serangan virus HIV. Lima tanaman tropis yang banyak tumbuh di Indonesia itu memberi keuntungan tambahan bagi dunia pertanian kita. Budidaya dan pemanfaatannya mendapat dorongan dari penelitian dunia untuk menemukan penyelamat dari bencana virus.

Bagus sekali bila jasa dan potensinya dipromosikan. Mereka boleh dijadikan pahlawan tumbuhan pada saat kita memperingati Hari AIDS Sedunia setiap tanggal 1 Desember. Peringatannya bukan hanya di kota-kota besar, melainkan menyentuh sampai ke festival di desa-desa. ***

*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang.

Tags: , , , , , , ,

Subscribe

If you enjoyed this article, subscribe now to receive more just like it.

Top
Powered by WishList Member - Membership Software